Mu’tazilah

1. Definisi

Secara Bahasa :
Kata Mu’tazilah berasal dari kata ‘azala–ya’taziluhu ‘azlan wa’azalahu fa’tazala wa-in’azala wa-ta’azzala yang artinya menyingkir atau memisahkan diri.[1]
Secara Istilah :
Mu’tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai lima pokok keyakinan (al ushul al-khamsah), meyakini dirinya merupakan kelompok moderat di antara dua kelompok ekstrim yaitu Murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan Khawarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.[2]

2. Awal Kelahiran dan Penamaan Mu’tazilah

Di kalangan para peniliti terjadi perbedaan pendapat yang cukup mencolok mengenai asal usul penamaan Mu’tazilah. Penyebabnya adalah penamaan tersebut erat kaitannya dengan berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di dunia Islam pada masa kelahiran gerakan ini. Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:
(1). Sebagian pihak menyatakan penamaan Mu’tazilah berasal dari lawan mereka yaitu Ahlus Sunah wal Jama’ah.
(2). Sebagian pihak lain menyatakan nama Mu’tazilah berasal dari diri mereka sendiri.
(3). Sebagian pihak menyatakan Mu’tazilah lahir dengan adanya i’tizal siyasi (pengasingan diri dari dunia politik) pada masa awal fitnah (masa kekhilafahan Ali). Sebagian peneliti lain menyatakan Mu’tazilah lahir karena sebab-sebab lain.[3]

Mayoritas peneliti yang menyatakan penamaan Mu’tazilah berasal dari Ahlus Sunah wal Jama’ah mengaitkan penamaan tersebut dengan perdebatan mengenai hukum pelaku dosa besar antara Imam Hasan Al Bashri dan Washil bin Atha’ (80 H-131 H) yang hidup pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik Al Umawy.
Imam Hasan Al Bashri mempunyai majelis pengajian di masjid Bashrah. Pada suatu hari seorang laki-laki masuk ke dalam pengajian imam Hasan Al Bashri dan bertanya,” Wahai imam, di zaman kita ini telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kalangan Wa’idiyah Khawarij dan juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sama sekali bila bersama kekafiran yaitu kelompok Murji’ah. Bagaimana sikap kita?” Imam Hasan Al Bashri terdiam memikirkan jawabannya, saat itulah murid beliau yang bernama Washil menyela,” Saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mukmin secara mutlak dan tidak pula kafir secara mutlak, namun dia berada di satu posisi di antara dua posisi, tidak mukmin dan tidak pula kafir.” Jawaban ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunah yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin namun imannya berkurang. Tentu saja Imam Hasan Al Bashri membantah jawaban Washil yang tak berlandaskan dalil tadi. Washil kemudian pergi ke salah satu sudut masjid, maka imam Hasan Al Bahsri berkata,” Ia telah memisahkan diri dari kita (I’tazalnaa).” Sejak saat itu ia dan orang-orang yang mengikutinya di sebut Mu’tazilah, artinya kelompok yang memisahkan diri (menyempal).[4]

Mayoritas peneliti menyatakan pendapat mereka yang menyelisihi Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam masalah hukum pelaku dosa besar inilah yang menyebabkan mereka dikenal sebagai sekte Mu’tazilah. Al Baghdadi menambahkan satu sebab lagi, yaitu pendapat mereka yang menyelisihi Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam masalah taqdir.[5]

Dalam perkembangan selanjutnya, sekte Mu’tazilah mempunyai banyak nama, baik penamaan dari mereka sendiri maupun dari pihak luar. Nama-nama tersebut adalah:

 Mu’tazilah, berawal dari penamaan imam Hasan Al Bashri terhadap Washil bin Atha’ seperti yang telah disebutkan di awal tadi.

 Jahmiyah, dinamakan demikian karena Jahmiyah lebih dahulu muncul, juga karena Mu’tazilah sependapat dengan Jahmiyah dalam beberapa hal dan karena di awal kemunculannya Mu’tazilah menghidupkan prinsip-prinsip Jahmiyah.[6]

 Qadariyah (kelompok yang menolak iman kepada taqdir), dinamakan demikian karena mereka juga mengingkari taqdir dan berpendapat manusialah yang menciptakan perbuatannya sebagaimana pendapat Qadariyah .

 Tsanawiyah dan Qadariyah, dinamakan demikian karena Mu’tazilah berpendapat bahwa perbuatan baik itu dari Allah dan perbuatan jelek itu dari manusia. Ini menyerupai Tsanawiyah dan Qadariyah yang meyakini adanya dua tuhan, tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan.

 Wa’idiyah, dinamakan demikian karena mereka berpendapat bahwa Allah harus menyiksa pelaku dosa yang belum bertaubat sebelum matinya.

 Mu’athilah (kelompok yang meniadakan), dinamakan demikian karena mereka meniadakan sifat-sifat Allah.

 Ahlul ‘Adl Wat Tauhid Wal ‘Adalah (kelompok yang bertauhid dan menegakkan keadilan). Ini nama yang mereka akui berdasar aqidah lima pokok mereka.
 Ahlul Haq (kelompok yang berada di atas kebenaran). Ini nama yang mereka akui berdasar aqidah lima pokok mereka.

 Firqah Najiyah (kelompok yang selamat). Ini juga nama yang mereka yang mereka sematkan untuk mereka sendiri.

 Al Munazihun Lillah (orang-orang yang mensucikan Allah). Ini juga nama yang mereka sematkan untuk mereka sendiri.[7]

 Al Haraqiyah: Karena mereka berpendapat bahwa orang kafir tidak disiksa dalam api neraka kecuali sekali saja.

 Al Mufaniyah: Karena mereka berpendapat bahwa neraka dan surga itu tidak kekal.
 Al Lafdziyah: Karena mereka berpendapat bahwa lafal-lafal Al Qur’an itu adalah makhluk.
 Al Qabriyah: Karena mereka berpendapat bahwa adzab kubur itu tidak ada.[8]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoqUncategorized

NOVEMBER 6, 2009 • 11:24 PM 1

MU’TAZILAH MENYERANG ISLAM

Peperangan antara haq dan batil akan senantiasa ada hingga datangnya hari kiamat. Bahkan diantara prinsip ahlussunnah wal jama’ah meyakini bahwa jihad akan senantiasa ada hingga qiyamis sa’ah.
Dari sinilah orang-orang kafir dan pengikutnya menggalang kekuatan untuk merobohkan islam. Mereka menggalang kaum nasionalis, paganis, demokratis dan tidak ketinggalan gerakan-gerakan sesat seperti murji’ah, khowarij, mu’tazilah dan berbagai firoq lainnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menyerang islam dan pengikutnya.

Diantara mereka bahkan ada orang-orang yang cerdas, ahli ibadah, serta ulama’nya. Imam adz Dzahabi menjelaskan dalam perkataannya dalam kitab sairul a’lam an nubala’ juz 3 halaman 45 :
Ghulat mu’tazilah, ghulat syi’ah, dan ghulat hanabilah, dan ghulat asya’iroh dan ghulat murji’ah dan ghulat jahmiyah dan ghulat karomiyah telah menyebar diseluruh dunia dan jumlah mereka banyak. Diantara mereka ada orang-orang yang pandai, ahli ibadah dan ulama’. Kita memohon pada Allah ampunan dan maghfiroh untuk ahli tauhid. Dan kita berlepas diri pada Allah dari hawa nafsu dan bid’ah, dan kita mencintai as sunnah dan pengikutnya. Dan kami mencintai seorang ‘alim yang senantiasa memiliki sifat mutaba’ah dan sifat-sifat yang mulia. Dan kami tidak menyenangi apa-apa yang diikuti dari ta’wil-ta’wil yang sesat.

Itulah pemikiran-pemikiran sesat yang muncul pada zaman dahulu dan masih exsis sampai sekarang. Pemikiran-pemikiran itulah yang kemudian digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menyerang pejuang-pejuang islam dan pengikut ahlussunnah wal jama’ah. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas peran mu’tazilah dalam menggembosi umat islam untuk memperjuangkan islam.

Dengan penjelasan ini semoga menjadi jelas jalan orang-orang yang berbuat dosa dan kesesatan. Walaupun kesesatan tersebut dilingkupi dengan orang-orang cerdas dan para ulama’ nya.

Sejarah mu’tazilah
Mu’tazilah adalah termasuk firqoh diantara firqoh-firqoh islam yang muncul pada akhir masa Umawi dan berkembang pada masa Abasiyah. Kelompok ini menyandarkan hanya kepada akal saja dalam masalah-masalah aqidah sehingga jauhlah mereka dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Diantara nama-nama lain dari mu’tazilah adalah qodariyah, al ‘adliyah, ahlul ‘adli wat tauhid dan yang lainnya. [ al mausu’ah al muyassaroh fil adyan wal madzahib wal ahzab al ma’ashiroh, Nadwah al ‘ilmiyah lis syabab al islami. http://www.said.net.

Islam sebenarnya tetap menghargai akal. Akan tetapi harus ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan syari’at. Diantaranya, akal tidak boleh bertentangan dengan dalil yang jelas dari qur’an dan sunnah. Akalpun tidak boleh dipakai dalam permasalahan-permasalahan gho’ib yang seharusnya dikembalikan pada wahyu. Dan kita tidak boleh mengedepankan akal dalam hal yang belum kita ketahui hikmah dari suatu permasalahan.

Mu’tazilah pada awalnya hanya memili dua pemikiran yang menyeleweng. Pertama adalah keyakinan mereka bahwasanya manusia memiliki kemampuan mutlak untuk menciptakan seluruh perbuatannya sendiri. Yang populer mengangkat pemikiran tersebut adalah Ghoylan ad damsyiqi. Ia menyebarkan pemikirannya ini pada masa kholifah Umar bin Abdul ‘Aziz sampai pada pemerintahan Hisyam bin abdul Malik. Dan akhirnya ia mati ditangan Hisyam karena pemikirannya tersebut.

Yang kedua adalah pemikiran bahwasanya pelaku dosa besar tidaklah menjadi seorang mukmin dan juga tidak kafir. Akan tetapi mereka menempatkan pelaku dosa besar pada kefasikan yang berada dua kedudukan. Ini hukum di dunia, sedangkan di akhirat mereka tidak masuk jannah karena belum beramal dengan amalan ahlull jannah. Bahkan ia kekal di dalam neraka walaupun mereka dinamakan seorang muslim dan mengucapkan dua kalimah syahadat.

Setelah beberapa saat kemudian mereka mengembangkan pemikirannya dengan menyimpulkan pemikirannya menjadi lima dasar. Diantaranya adalah at tauhid, al ‘adl, al wa’du wal wa’id [ janji dan ancaman], almanzilatu baina manzilataini [ kedudukan diantara dua kedudukan], al amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar [memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar].
Tidak disini tempatnya untuk mendalami pemikiran mereka, karena sempit dan terbatasnya lembaran-lembaran ini. Akan tetapi cukuplah kita memahami dua pokok awal pemikiran mereka, karena yang lainnya hanyalah pengembangan.

Kemunculannya kembali
Banyak buku-buku dan para pakar yang berusaha menghidupkan kembali pemikiran ini setelah lenyap beberapa saat. Maka mereka kenakanlah nama dan pakaian baru agar menarik. Muncullah nama seperti Islam liberal, gerakan pembaharu, gerakan pembebasan, cendikiawan muslim dan lain-lain.

Pemikiran-pemikiran mereka rata-rata dipengaruhi oleh pemikiran barat yang serba rasional. Maka berusahalah mereka mentafsirkan nas-nas syar’i disesuaikan dengan akalnya. Diingkarilah oleh mereka peristiwa-peristiwa mu’jizat yang disebutkan alqur’an. Maka dihilangkanlah peristiwa ashabul fiil dan yang lainnya. Semuanya ini adalah imbas mendewakan akal.

Yang paling berbahaya dari pemikiran mu’tazilah hari ini adalah usaha mereka untuk merubah hukum-hukum syar’i yang terdapat dalam kitab dan sunnah dengan dalil yang jelas. Maka dihapuslah hukuman murtad dalam islam, kewajiban jihad, pelaksanaan hukuman had dan yang lainnya. Apalagi tema-tema tentang hijab wanita muslimah, poligami, emansipasi, perceraian, serta warisan. Mereka perjuangkan pemikiran-pemikiran tersebut mati-matian dan meminta pada umat islam untuk menimbang hal-hal tersebut dengan akal mereka. Padahal maksud mereka adalah akal yang sesuai dengan barat.

Diantara penyeru-penyeru paham ini adalah Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Abdallah Laroui, Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta. Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta. Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Mohammed Arkoun, University of Sorbone, Prancis. Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta. Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah. Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Rizal Mallarangeng, CSIS, Jakarta. Budi Munawar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta. Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS. Taufiq Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta. Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta. Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta. Saiful Mujani, Ohio State University, AS. Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok – Jakarta.Syamsurizal Panggabean, Universitas Gajahmada, Yogyakarta. dan masih banyak lagi. Mereka memakai berbagai media mulai dari radio, koran surat kabar dan bahkan TV untuk menyebarkan pemikiran mu’tazilah ini.

Walaupun gencarnya permusuhan mereka terhadap islam, akan tetapi Allah akan senantiasa menolong diin-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyenanginya. [ Amru ]

Filed under: ‘Adawah

OKTOBER 20, 2009 • 4:48 AM 2

MU’TAZILAH DAN DERADIKALISASI

deradMemang hari ini kita tidak mendapatkan sebuah institusi bernama mu’tazilah. Akan tetapi pemikiran dan manhajnya masih dipegangi oleh penerusnya dengan nama yang berbeda.

Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821, Siyar A’lam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi, 5/464-465, dan Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48)

Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih didahulukan daripada syariat yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Dan akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal menurut persangkaan mereka maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil. (kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi ‘alal Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/65)

Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl ayat 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini. Untuk lebih rincinya lihat kitab Dar’u Ta’arrudhil ‘Aqli wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah ‘Alal-Jahmiyyatil-Mu’aththilah, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim.

New mu’tazilah
Gambaran dari Mu’tazilah hari ini adalah Islam liberal. Pemikiran ini telah masuk keberbagai kampus-kampus di Indonesia. Mereka jajakan pemikiran-pemikiran mereka kepada para mahasiswa dan dosen Islam. Dan bahkan para tokoh-tokoh seperti Hasyim Muzadi dan Masdar F. Mas’udi dari Nahdlatul Ulama, Syafi’i Ma’arif dan Moeslim Abdurrahman dari Muhammadiyah, Nurcholish Madjid dari Universitas Paramadina, atau Azyumardi Azra dari Institut Agama Islam Negeri Jakarta menjadi pendukung-pendukungnya.

Tujuan Jaringan Islam Liberal adalah mencegah pandangan keagamaan yang militan dan pro-kekerasan menguasai wacana publik Indonesia. Luthfi dalam situs islamlib.com menjelaskan Islam liberal sebagai “protes dan perlawanan” terhadap dominasi Islam ortodoks baik yang wajahnya fundamentalis maupun konservatif.
Kira-kira siapa yang menjadi sasaran mereka ?. Siapa lagi kalau bukan organisasi dan tokoh yang mengusung jihad dan amar ma’ruf nahi munkar semacam Front Pembela Islam, Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT), Majlis Mujahidin dan yang lainnya. Mereka tak sekali dua kali melancarkan kritik terhadap organisasi-organisasi itu dalam web maupun mailing list Islam Liberal. Lihatlah berbagai artikel di http://www.islamlib.com yang rata-rata menghantam pemikiran-pemikiran Islam.

Ada enam isu yang jadi agenda pokok Islam liberal: anti-teokrasi, demokrasi, hak perempuan, hak nonmuslim, kebebasan berpikir, dan gagasan tentang kemajuan. Penjelasan lengkap enam agenda itu dibukukan oleh Charles Kuzman dalam Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global.

Penggembosan terhadap jihad
Munculnya berbagai tulisan tentang deradikalisasi Islam diberbagai koran dan majalah memang membuat kita tergelitik untuk mengomentarinya. Jawa pos misalnya memuat artikal bersambung tiga kali pada tanggal 26, 27, 28, dan 29 bulan september 2009 ketika mengomentari sebuah slogan “isy kariman au mut syahidan” [ hidup mulia atau mati syahid ] . Yang salah satunya berjudul “jargon indah untuk agenda busuk”. Penulis mengatakan bahwa ia adalah kalimat yang haq akan tetapi dipakai untuk sesuatu yang batil. Dan pada tanggal 29 deberi judul “hidup tak mulia mati tak syahid”. Kalau dilihat dari alur tulisannya, para penilis adalah pengikut islam liberal. Yaitu dengan cara mencari dalil dari al qur’an dan sunnah serta kitab-kitab para ulama’ dan bahkan mengambil perkataan orang-orang kafir untuk membenarkan pemikirannya. Itulah ciri has mu’tazilah gaya baru.

Adalagi buku yang ditulis oleh seorang mantan polisi Dr Petrus Reinhard Golose dengan judul “Deradikalisasi Terorisme”. Dia memaparkan bagaimana merubah pikiran seseorang yang radikal, sehingga berubah menjadi tidak radikal. Masih banyak berbagai artikel dan buku yang mengusung deradikalisasi Islam. Semuanya memiliki tujuan penggembosan terhadap jihad. Mereka dibiayai besar besaran oleh Amerika. Maka jangan heran jika rekening mereka bertambah setiap menciptakan sebuah karya dalam tujuan deradilakisasi.

Mereka tidak tahu bahwa islam adalah agama yang paling kasih sayang. Mereka juga tidak tahu bahwa, hanya islamlah yang akan menjadikan ketenangan negeri ini. Sejarah telah mencatat betapa banyak rakyat bangsa romawi pada masa Umar Ibnul Khottob radhiyallahu ‘anhu yang lebih senang dikuasi Islam dibandingkan pemerintah romawi.

Akan tetapi Islam dan pengikutnya akan bersikap tegas dan bahkan siap mengorbankan jiwa dan raganya jika dinnya dilecehkan. Dan mereka akan senantiasa memperjuangkan idiologi Islam diterapkan dibumi hingga mencapai kemenangan atau syahadah. [ Amru ]

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s