Makna dari “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,” Pada Al Baqarah Ayat 195


Al Baqarah 195
وأنفقوا في سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة ۛ وأحسنوا ۛ إن الله يحب المحسنين

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [195]”

Artikel ini menelusuri makna kata “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,” yang ada pada QS Al Baqarah ayat 195 dengan bunyi lengkap seperti diatas. Ayat sebelumnya yaitu ayat 190 sampai dengan 194 berisi perintah untuk memerangi orang yg menyerang muslimin, tujuan memerangi musyrikin/kafir adalah agar Dien hanya untuk Allaah dan bolehnya memerangi mereka di bulan haram.

Ayat 195 di atas sering digunakan oleh kaum penggembos perjuangan Islam untuk menggembos semangat orang-orang yang berjuang keras dalam membela agama ini dari cengkeraman tangan-tangan kotor orang-orang kafir. Dengan ayat di atas kaum munafikin tersebut beralasan bahwa diharamkan bagi seorang muslim untuk melakukan perlawanan pada musuh Islam yang berjumlah banyak atau lebih modern senjatanya atau lebih diatas angin, sebagaimana yang terjadi di Palestina, afghanistan, suriah dan negara-negara lain yang sedang terjadi pertempuran antara mujahidin dan musuh Islam (untuk dinegara yang tidak terjadi perang ada pembahasan tersendiri yang lebih panjang dan tidak dibahas disini) dengan alasan bahwa perbuatan seperti ini adalah upaya menceburkan diri ke dalam jurang kebinasaan. Akan tetapi benarkan ayat di atas berbicara tentang larangan bagi seorang Muslim untuk melakukan perlawanan ketika dalam kondisi peperangan? Jika ternyata tidak demikian, maka hendaknya para penggembos perjuangan tersebut takut akan ancaman Allah dalam QS. al-Isra’ : 36. Atau ketika mereka pada hekekatnya mengetahui tafsiran yang sebenarnya dari ayat di atas namun ternyata mereka memplesetkan tafsiran ayat tersebut dan pura-pura didak tahu karena lembaran-lembaran rupiah yang tidak ada harganya, maka ingatlah firman Allah dalam QS. al-Baqarah : 178. Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik akan kalah dan binasa. Lalu bagaimana sebenarnya tafsiran ayat di atas?

Sebab Turun Ayat

Imam al-Qurtubi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam bin Imran, ia mengatakan, “Dahulu tatkala kami di kota Romawi, mereka mengeluarkan kepada kami sebuah barisan pasukan yang besar dari bangsa Romawi, lalu kaum muslimin mengeluarkan sebuah barisan yang sama, dan yang memimpin penduduk Mesir adalah ‘Uqbah bin ‘Amir, dan yang memimpin sebuah jamaah adalah Fadhalah bin ‘Ubaid. Lalu ada seseorang dari kaum muslimin yang menyerang barisan orang-orang Romawi sampai orang tersebut masuk ke tengah-tengah barisan mereka. Lalu orang-orang pada berteriak, ‘Subhaanallaah, ia menceburkan diri ke dalam kebinasaan.’ Maka Abu Ayyub al-Anshari r.a berdiri dan mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah menafsirkan (ayat yang melarang untuk menceburkan diri ke dalam kebinasaan) dengan tafsiran seperti ini, padahal ayat tersebut turun berkenaan dengan kami orang-orang Anshar, yaitu tatkala Allah -ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya, maka sebagian kami mengatakan kepada sebagian yang lain secara sembunyi-sembunyi di belakang Rasulullah saw, ‘Sesungguhnya harta kita telah musnah, dan sesungguhnya Allah -ta’ala- telah memuliakan Islam dan telah banyak pembelanya. Maka alangkah baiknya jika kita mengurusi harta kita dan memperbaiki harta kita yang telah musnah. Maka Allah -ta’ala- pun menurunkan kepada kami sebuah ayat berkenaan dengan apa yang telah kami katakan tersebut, yang berbunyi:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan berinfaqlah kalian di jalan Allah dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah : 195)

Sehingga yang dimaksud dengan kebinasaan dalam ayat tersebut adalah mengurusi dan memperbaiki harta benda serta meninggalkan perang. Maka Abu Ayyub pun terus ikut berangkat perang sampai ia dikuburkan di negeri Romawi.[Al-Qurtubi, al-Jaami’ lie Ahkaam al-Qur’an, (Riyadh: Daar ‘Aalam al-Kutub, 2003), (II/362-363). Lihat pula: al-Wahidi an-Naisaburi, Asbaab an-Nuzuul, (I/35)]

Tafsir

Al-Hakim meriwayatkan dalam “Kitaabut Tafsiir” dan Al-Baihaqi dalam Syu’abu al-Imannya, dari Abu Ishaq, ia dari al-Barraa’ –radhiyallaahu ta’ala ‘anhu-, ada orang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Amarah, firman Allah -ta’ala- yang berbunyi,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(QS. al-Baqarah : 195)

…apakah yang dimaksud adalah seseorang yang menceburkan diri ke dalam barisan musuh lalu ia berperang sampai terbunuh?” Ia menjawab, “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa lalu ia mengatakan, ‘Allah tidak mengampuniku.” [HR. Hakim, dalam Kitab at-Tafsiir, hadits no. 3089; dan al-Baihaqi, (hadits no. 7093)]

Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim.”[[3] Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Adzim, (Daar Thayyibah, 1999), (I/529)]

Al-Baihaqi juga meriwayatkan mengenai hadits ini, ketika Abu Ishaq ditanya mengenai ayat yang berbunyi,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…”(QS. al-Baqarah : 195)

…apakah yang dimaksud adalah seseorang yang membawa pedang lalu menyerang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) yang berjumlah seribu orang?” Ia menjawab, “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa, lalu ia melemparkan tangannya dan mengatakan, ‘Tidak ada taubat bagiku.’”[ Al-Baihaqi, (hadits no. 7094)]

Ibnu al-‘Arabi –rahimahullah-dalam Ahkaamu al-Qur’an, (I/116) (Lihat pula: al-Qurthubi, (II/364)) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kebinasaan dalam QS. al-Baqarah : 195 ada lima penafsiran yaitu:

1- Meninggalkan berinfaq,

2- Keluar (pergi) dengan tanpa bekal,

3- Meninggalkan jihad dan lebih mempedulikan keluarga dan harta benda,[ Ibnu Katsir, op.cit., (I/528) diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir]

4- Masuk ke dalam pasukan yang kalian tidak mampu untuk menghadapinya, ( Poin nomer 4 ini dikomentari oleh Imam Al Qurtubi, lihat dibawah)

5- Berputus asa dari maghfirah (ampunan).

Kemudian al-Qurthubi mengatakan,[Al-Qurthubi, (II/364).] “(Yang dimaksud ayat ini) adalah (kebinasaan yang bersifat) umum mencakup semua poin (kebinasaan) tersebut dan semua itu tidaklah saling kontradiksi. Ia mengatakan, ‘Dan semua itu benar adanya kecuali pada poin menceburkan diri ke dalam pasukan musuh -yaitu poin keempat – , karena sesungguhnya para ulama’ berselisih pendapat tentang masalah tersebut. Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan ‘Abdul Malik dari kalangan ulama’ kita mengatakan, ‘Tidak mengapa seseorang menyerang sebuah pasukan yang besar sendirian, jika ia mempunyai kekuatan dan dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah -ta’ala-. Namun jika ia tidak mempunyai kekuatan maka hal itu termasuk (menceburkan diri ke dalam) kebinasaan. Namun ada yang mengatakan bahwasanya jika ia mencari syahaadah (mati syahid) dan niatnya ikhlas maka silahkan dia melakukan serangan karena tujuannya adalah satu orang di antara mereka – maksudnya adalah satu orang dari orang-orang musyrik tersebut – untuk dia bunuh. Hal itu dijelaskan di dalam firman Allah -ta’ala- yang berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari ridlo Allah. (QS. al-Baqarah : 207)

Kemudian beliau mengatakan, “Dan yang benar menurutku adalah diperbolehkan menceburkan diri ke dalam pasukan musuh bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi pasukan tersebut, karena dalam perbuatannya itu terdapat empat hal:

Mencari syahaadah (mati syahid),
Adanya nikayaah (membunuh atau melukai musuh),
Menumbuhkan keberanian kaum muslimin terhadap mereka,
Melemahkan mental mereka, karena mereka melihat kalau satu orang saja melakukan seperti ini lalu bagaimana jika yang melakukannya sekelompok orang. Dan semua poin ini terwujud di dalam ‘amaliyyah istisyhaadiyyah.
Asy-Syaukani mengatakan, ketika menafsirkan firman Allah -ta’ala- yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(QS. al-Baqarah : 195)

Beliau mengatakan, “Dan yang benar adalah bahwasanya yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz dan bukan terbatas pada sebab (turunnya ayat) yang khusus (mengenai kasus tertentu). Maka segala sesuatu yang dapat disebut sebagai kebinasaan dalam permasalahan dien (agama) dan dunia, sesuatu tersebut masuk ke dalam kategori (kebinasaan yang disebutkan di dalam ayat) ini. Dan inilah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, dan termasuk dalam (kebinasaan) yang dimaksud oleh ayat ini adalah seseorang yang ketika berperang menceburkan diri ke dalam pasukan musuh padahal dia tidak mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan diri, dan tidak dapat memberikan dampak yang bermanfaat bagi mujahidin. Maka mafhuumnya (yang dapat difahami) dari perkataannya ini adalah jika terdapat manfaat pada perbuatan tersebut maka perbuatan tersebut diperbolehkan.[Asy-Syaukani, Fathu al-Qadiir, (Maktabah Syamilah), (I/256)]

Al-Qurthubi mengatakan,[ Al-Qurthubi, (II/364)] “Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, murid dari Abu Hanifah –rahimahullah- mengatakan, ‘Jika seseorang menyerang seribu orang dari kaum musyrikin, sedangkan dia sendirian, hal itu tidak mengapa jika ia optimis akan selamat, atau menimbulkan nikaayah (melukai atau membunuh) pada musuh, namun jika hal itu tidak ada maka perbuatan tersebut makruh karena ia menceburkan diri ke dalam kematian yang tidak ada manfaatnya bagi kaum muslimin. Maka barangsiapa melakukannya dengan tujuan untuk menumbuhkan keberanian kaum muslimin supaya mereka melakukan apa yang ia lakukan maka hal itu bisa diperbolehkan, karena di dalamnya ada manfaat bagi kaum muslimin dari sebagian sisi pandang, dan jika tujuannya adalah menggentarkan (menteror) musuh, dan supaya musuh mengetahui keteguhan kaum muslimin dalam menjalankan diin (agama) mereka maka hal ini juga bisa diperbolehkan. Dan apabila perbuatannya tersebut ada manfaatnya bagi kaum muslimin maka hilangnya nyawa untuk kemuliaan diin (agama Islam) dan untuk melemahkan kekafiran, maka ini adalah kedudukan mulia yang mana Allah -ta’ala- memuji orang-orang beriman dengannya dalam firmanNya yang berbunyi:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah : 111).

Tafsir Syaikh Nashir as-Sa’dy Atas Ayat 195

“Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan para hamba-Nya agar berinfak (membelanjakan harta) di jalan Allah, yaitu mengeluarkan harta di jalan-jalan menuju Allah. Yakni setiap jalan kebaikan seperti bersedekah kepada si miskin, kerabat atau memberikan nafkah kepada orang yang menjadi tanggungan.

Yang paling agung dan hal pertama yang termasuk kategori itu adalah infak dalam jihad fi sabilillah. Sesungguhnya, berinfak dalam hal itu merupakan jihad dengan harta yang juga wajib, sama seperti jihad dengan badan. Infak tersebut banyak sekali mashlahatnya seperti membantu dalam memperkuat barisan kaum Muslimin, melemahkan syirik dan para pelakunya, mendirikan dienullah dan memperkuatnya.

Jadi, jihad fi sabilillah tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya infak sebab infak ibarat roh (nyawa) baginya, yang tidak mungkin ada tanpanya. Dengan tidak berinfak di jalan Allah, itu artinya membatalkan jihad, memperkuat musuh dan menjadikan persekongkolan mereka semakin menjadi. Dengan begitu, firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” menjadi seperti alasan atas hal itu. “Menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan” (teks arabnya, al-Ilqaa’ bi al-Yad) kembali kepada dua hal: Pertama, meninggalkan apa yang seharusnya diperintahkan kepada seorang hamba, jika meninggalkannya itu mengandung konsekuensi -atau hampir mendekati- binasanya badan atau jiwa dan mengerjakan apa yang menjadi sebab kebinasaan jiwa atau roh. Termasuk juga ke dalam kategori ini beberapa hal pula, di antaranya: meninggalkan jihad fi sabilillah atau berinfak di jalannya di mana konsekuensinya adalah menjadikan musuh berkuasa, tipuan diri untuk berperang, bepergian yang mengandung resiko, ke tempat yang banyak binatang buas atau ularnya, memanjat pohon, bangunan yang berbahaya dan semisalnya. Ini dan semisalnya termasuk kategori orang yang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Di antara hal lain yang termasuk ‘menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan’ adalah melakukan maksiat terhadap Allah SWT dan berputus asa untuk bertaubat.

Ke-dua, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah di mana meninggalkannya merupakan bentuk kebinasaan bagi jiwa dan agama.

Manakala infak di jalan Allah tersebut merupakan salah satu jenis berbuat baik (Ihsan), maka Allah menyuruh berbuat baik secara umum. Dia berfirman, “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Ini mencakup semua jenis berbuat kebaikan sebab Dia tidak mengaitkannya dengan sesuatu tanpa harus adanya sesuatu yang lain, sehingga termasuk di dalamnya berbuat baik dengan harta seperti yang telah dikemukakan di atas.

Termasuk juga, berbuat baik dengan kehormatan diri berupa pemberian ‘syafa’at’ (pertolongan) dan sebagainya. Termasuk pula, beramar ma’ruf nahi munkar, mengajarkan ilmu yang bermanfa’at, membantu orang yang sedang dalam kesusahan, menjenguk orang sakit, melawat jenazah, menunjuki jalan kepada orang yang tersesat, membantu orang yang mengerjakan suatu pekerjaan, bekerja untuk orang yang tidak bisa melakukannya dan bentuk kebaikan lainnya yang diperintahkan Allah SWT. Termasuk juga berbuat baik (ihsan) dalam beribadah kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya mengenai apa itu ihsan, “Bahwa kamu menyembah Allah SWT seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Siapa saja yang memiliki sifat-sifat seperti di atas, maka ia termasuk orang yang Allah sebut, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga).” (QS.Yunus:26) Allah SWT akan selalu bersamanya; memberikannya ketepatan (dalam tindakan dan perkataan), membimbingnya dan menolongnya dalam segala hal.” (Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan Fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan karya Syaikh Naashir as-Sa’idi berkenaan dengan ayat tersebut)

Pendapat Ulama Lain

Ibn Hajar al-‘Asqalani

Setelah memaparkan makna bahasa dari kata “al-Halaak” dan “at-Tahlukah” (kebinasaan), Ibn Hajar di dalam kitabnya atas syarah al-Bukhari, Fat-h al-Bari mengatakan, “Kemudian mushannif (Imam al-Bukhari) menyebutkan hadits Hudzaifah mengenai ayat ini, ia mengatakan, ‘Ayat ini turun mengenai infak, maksudnya tidak mengeluarkan infak di jalan Allah.’ Apa yang dikatakannya (Hudzaifah) ini penafsirannya terdapat dalam hadits Abu Ayyub yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibn Hibban dan al-Hakim dari jalur Aslam bin ‘Imran, ia berkata, ‘Ketika kami berada di Konstantinopel, datang barisan besar pasukan Romawi, lalu ada seorang prajurit muslim membendung barisan Romawi tersebut lalu menyusup ke barisan tersebut, kemudian kembali lagi. Maka orang-orang pun berteriak, ‘Subhanallah, ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan (nekad masuk ke barisan musuh-red).!’ Maka berkatalah Ayyub, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian menakwil ayat ini dengan takwil seperti ini. Padahal ayat ini turun mengenai kami, orang-orang Anshar. Yakni, ketika Allah telah memuliakan agama-Nya dan sudah banyak pendukungnya, kami berkata di antara sesama kami secara sembunyi-sembunyi, ‘Sesungguhnya harta kita telah hilang. Andai kata kita tinggal (berdiam) dan memperbaiki apa yang telah hilang itu tentu lebih baik (maksudnya, mengumpulkan harta benda dan menyibukkan diri dengannya, wallahu a’lam-red).’ Maka Allah pun menurunkan ayat ini. Jadi, maksud kebinasaan di sini adalah tinggal (berdiam) seperti yang kami maksud itu.’”
Dan penakwilan ayat tersebut seperti itu juga telah valid berasal dari Ibn ‘Abbas dan beberapa orang dari kalangan Tabi’in.

Selanjutnya, setelah memaparkan hadits semakna dengan hadits Ayyub, Ibn Hajar mengomentari, “Membatasi ayat ini hanya sebatas itu perlu ditinjau kembali sebab yang menjadi tolok ukur adalah makna umum dari suatu lafazh (bukan hanya kekhususan sebabnya-red).” (Fat-h al-Baari, Ibn Hajar)

Imam al-Qurthubi ( Ringkasan dari penjelasan beliau diatas)

Setelah memaparkan beberapa hadits terkait dengan ayat di atas, termasuk hadits Abu Ayyub, Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Abu Ayyub menginformasikan kepada kita bahwa menjerumuskan diri sendiri ke dalam kebinasaan itu adalah dengan meninggalkan jihad di jalan Allah SWT dan ayat tersebut turun mengenai hal itu.” al-Qurthubi juga menyebutkan makna lainnya dengan berpijak pada beberapa hadits tertentu mengenai ayat tersebut di antaranya; berdiam mengurusi dan memperbaiki harta, takut menjadi beban orang lain, tidak bersedekah dan berinfak untuk orang-orang yang lemah, berbuat dosa, berinfak di jalan yang haram dan lainnya. (Tafsir al-Qurthubi)

Imam ath-Thabari

Imam ath-Thabari berkata, “Firman-Nya, ‘Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan’ bersifat umum mencakup semua hal yang telah disebutkan karena lafazhnya dapat menerima hal itu.”

Selanjutnya, ath-Thabari memaparkan perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum tindakan seorang Muslim dari pasukan kaum muslimin yang mengorbankan dirinya untuk menggempur pasukan musuh yang jumlahnya banyak tetapi hal itu dapat memperkuat barisan kaum muslimin (memiliki implikasi yang baik) sementara niatnya ikhlash karena Allah semata. (Tafsir ath-Thabari)

Ibnu Katsir

Sehubungan dengan firman Allah Ta’ala:

Î وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Ï “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasa-an.” Imam al-Bukhari meriwayatkan, dari Hudzaifah, katanya, “Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan masalah infak.”

Al-Laits bin Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, dari Aslam Abi Imran, katanya, ada seseorang dari kaum muhajirin di Konstantinopel menyerang barisan musuh hingga mengoyak-ngoyak mereka, sedang bersama kami Abu Ayub al-Anshari. Ketika beberapa orang berkata, “Orang itu telah mencampakkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan,” Abu Ayub bertutur, “Kami lebih mengerti mengenai ayat ini. Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami. Kami menjadi sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersama beliau kami mengalami beberapa peperangan, dan kami membela beliau. Dan ketika Islam telah tersebar unggul, kami kaum Anshar berkumpul untuk mengungkapkan suka cita. Lalu kami katakan, sesungguhnya Allah telah memuliakan kita sebagai sahabat dan pembela Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Islam tersebar luas dan memiliki banyak penganut. Dan kita telah mengutamakan beliau daripada keluarga, harta kekayaan, dan anak-anak. Peperangan pun kini telah berakhir, maka sebaiknya kita kembali pulang kepada keluarga dan anak-anak dan menetap bersama mereka, maka turunlah ayat ini kepada kami. Î وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Ï “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam ke-binasaan.” Jadi, kebinasaan itu terletak pada tindakan kami menetap bersama keluarga dan harta kekayaan, serta meninggalkan jihad.
Hadits di atas diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, semuanya bersumber dari Yazid bin Abi Habib. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih gharib. Sedangkan menurut al-Hakim hadits ini memenuhi persyaratan al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Abu Bakar bin Iyasy meriwayatkan, dari Abu Ishaq as-Subai’i, bahwa ada seseorang mengatakan kepada al-Bara’ bin Azib, “Jika aku menyerang musuh sendirian, lalu mereka membunuhku, apakah aku telah mencampakkan diriku ke dalam kebinasaan?” Al-Bara’ menjawab, “Tidak, karena Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Î فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ Ï “Berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri.” (QS. An-Nisaa’: 84) Sedangkan ayat (195) ini berkenaan dengan infak.”

Hadits di atas diriwayatkan Ibnu Mardawaih, juga al-Hakim dalam Mustadrak, dari Israil, dari Abu Ishak. Al-Hakim mengatakan, “hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan.”

Dan at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits tersebut, dari al-Bara’. Kemudian al-Barra’ menuturkan riwayat ini. Dan setelah firman Allah Ta’ala, Î لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ Ï “Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri,” Ia mengatakan, “Tetapi kebinasaan itu apabila seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan dan tidak mau bertaubat.”

Ibnu Abi Hatim mengemukakan, bahwa Abdur Rahman al-Aswad bin Abdi Yaghuts memberitahukan, bahwa ketika kaum Muslimin mengepung Damaskus, ada seseorang dari Azad Syanu’ah tampil dan dengan cepat bertolak untuk menyambut musuh sendirian. Maka kaum muslimin pun mencelanya karena perbuatannya itu. Kemudian mereka melaporkan kejadian itu kepada Amr bin al-’Ash. Setelah itu Amr memerintahkan kepadanya agar kembali pulang seraya menyitir firman Allah Ta’ala, Î وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Ï “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

Berkata Hasan al-Bashri, Î وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Ï “Maksud dari ayat ini ialah bakhil (kikir).” Masih mengenai firman Allah Ta’ala tersebut, Samak bin Harb meriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, “Ayat ini mengenai seseorang yang melakukan perbuatan dosa, lalu ia yakin bahwa ia tidak akan diberikan ampunan, maka ia pun mencampakkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan. Artinya, ia semakin berbuat dosa, sehingga binasa.”

Oleh karena itu diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa, “Kebinasaan itu adalah adzab Allah.”

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Abdullah bin Iyasy, dari Zaid bin Aslam mengenai firman Allah Ta’ala, Î وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Ï “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuh-kan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Yang demikian itu adalah bahwasanya ada beberapa orang yang pergi bersama dalam delegasi yang diutus Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa bekal (nafkah), lalu Allah menyuruh mereka mencari bekal (nafkah) dari apa yang telah dikaruniakan-Nya serta tidak mencampakkan diri ke dalam kebinasaan. Kebinasaan berarti seseorang yang mati karena lapar dan haus atau (keletihan) berjalan.

Dan Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang berkecukupan, Î وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ Ï “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Ayat ini mengandung perintah berinfak di jalan Allah dalam berbagai segi amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dalam segi ketaatan, terutama membelanjakan dan menginfakkan harta kekayaan untuk berperang melawan musuh serta memperkuat kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Selain itu, ayat ini juga memberitahukan bahwa meninggalkan infak bagi orang yang terbinasa dan selalu berinfak berarti kebinasaan dan kehancuran baginya. Selanjutnya Dia menyambung dengan perintah untuk berbuat baik, yang merupakan tingkatan ketaatan tertinggi, sehingga Allah Ta’ala pun berfirman, Î وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ Ï “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, Pustaka Imam As-Syafi’i)

Diriwayatkan, bahwa Abu Ayyub al-Anshori RA pernah berkata, “Ayat ini diturunkan atas kami, kaum Anshor. Yaitu, tatkala Allah menolong Rasul-Nyya dan menggunggulkan agama-Nya, kami berkata, ‘Mari kita tinggal bersama harta benda dan memperbaikinya’ maka turunlah firman Allah SWT, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.” (ayat) Dan maksud dari kata menjatuhkan diri dalam kebinasaan (dari firman-Nya, Wa La Tulquu Bi Aydiikum Iia at-Tahlukah) adalah dalam sikap kita tinggal bersama harta benda kita (dengan meninggalkan jihad-red).

Selain penjelasan yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir dari ulama tafsir diatas, dibawah ini diberikan beberapa penjelasan dari ulama lain yang sejalan dengan penjelasan tadi

Ibnul Mubaarok dan Ibnu Abiy Syaibah V/303 meriwayatkan dengan sanad yang shohiih, dari Mudrik bin ‘Auf Al Ahmasiy, ia mengatakan: Ketika aku berada di sisi ‘Umar ra tiba-tiba utusan An Nu’maan bin Muqrin datang kepadanya, maka ‘Umar bertanya kepadanya mengenai pasukan kaum muslimin. Utusan itupun menjawab: “Si Fulan dan Si Fulan terluka, sedangkan yang lainnya saya tidak tahu.” Maka ‘Umar ra berkata: “Akan tetapi Alloh mengetahui mereka.” Lalu utusan tersebut berkata: “Wahai Amiirul Mukminiin! Ada seseorang yang menjual dirinya.” Dan Mudrik bin ‘Auf mengatakan: “Demi Alloh orang itu adalah khool (paman dari jalur ibu) ku wahai Amiirul Mukminiin, orang-orang beranggapan bahwa dia telah menceburkan dirinya ke dalam kebinasaan.” Maka ‘Umar mengatakan: “Mereka dusta, akan petepi justru ia adalah termasuk orang yang membeli akherat dengan dunianya.” Dan Al Baihaqiy mengatakan bahwasanya kisah ini terjadi ketika perang Nahaawand.

Ibnu Abiy Syaibah meriwayatkan dalam Mushonnaf nya V/322 dari Ibnu ‘Aun, ia dari Muhammad, ia mengatakan: Datang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) orang-orang kafir dari arah timur, lalu seseorang dari Anshoor memergoki mereka, maka ia menyerang mereka sehingga ia dapat menerobos barisan mereka sampai keluar kemudian dia kembali dan mengulanginya dua atau tiga kali. Lalu tiba-tiba Sa’ad bin Hisyaam menceritakan peristiwa tersebut kepada Abu Huroiroh, maka Abu Huroiroh membacakan ayat berikut:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari ridlo Alloh. (Al Baqoroh: 207)

Di dalam riwayat Ibnu ‘Asaakir dan lainnya mengenai hadits ini, ketika Abu Is-haaq ditanya mengenai ayat yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

.. apakah yang dimaksud adalah seseorang yang membawa pedang lalu menyerang sebuah katiibah (sekelompok pasukan berkuda) yang berjumlah seribu orang?” Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi yang dimaksud adalah seseorang yang melakukan dosa, lalu ia melemparkan tangannya dan mengatakan: Tidak ada taubat bagiku.”

Ibnun Nuhaas mengatakan di dalam Masyaari’ul Asywaaq II/528; Lebih dari satu orang meriwayatkan dari Al Qoosim bin Mukhoimaroh, salah seorang imam dan ulama’ dari kalangan taabi’iin, bahwasanya ia mengatakan tentang firman Alloh SWT yang berbunyi:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

… dan janganlah kalian campakkan diri kalian ke dalam kebinasaan…(Al Baqoroh: 195)

Ia mengatakan: “Yang dimaksud dengan kebinasaan adalah tidak mau berinfaq di jalan Alloh. Dan jika seseorang menyerang sepuluh ribu pasukan maka hal itu tidak ada mengapa.”

Ar Rifaa’iy, An Nawawiy dan yang lainnya mengatakan di dalam Syarhun Nawawiy ‘Alaa Muslim XII/187: Mengorbankan jiwa di dalam jihad itu diperbolehkan. Dan ia menukil kesepakatan para ulama’ dalam masalah ini di dalam Syarhu Muslim. Hal ini ia katakan dalam pembahasan Ghozwatu Dziy Qirodi.
Dan mengenai kisah ‘Umair bin Al Hammaam (dalil ke 14) An Nawawiy mengatakan di dalam Syarhu Muslim nya XIII/36: “Hadits ini menunjukkan bolehnya menceburkan diri ke dalam barisan orang-orang kafir dan menjerumuskan diri ke dalam syahaadah (mati syahid) dan perbuatan ini diperbolehkan tanpa dimakruhkan sedikitpun menurut pendapat mayoritas ulama’.”

Sebagai penutup mari kita lihat penjelasan dari salah satu ulama salaf mutaakhirin yaitu syaikh Bin Baz Rahimahullaah

Syaikh Bin Baz
Dari acara Nurun ‘alad Darbi Kaset pertama.

Pertanyaan : Bagaimanakah penafsiran firman Allah Ta’ala :
“[dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan]”

Jawab :

Para ahli tafsir telah menyebutkan bahwasannya ayat yang mulia ini turun kepada kaum Anshar di kota Madinah al Munawwarah, di saat mereka berkeinginan untuk meninggalkan jihad dan menyibukkan diri dengan pertanian mereka. Maka Allah menurunkan firmanNya berkaitan dengan hal tersebut “[Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan]”

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa yang dimaksudkan adalah mengakhirkan/ terlambat dari berjihad di jalan Allah dalam keadaan mampu menunaikannya. Makna ayat ini bersifat umum sebagaimana dalam sebuah kaidah syar’i “i’tibar/ pelajaran yang ada di dalam teks (syar’iat) adalah berdasarkan keumuman lafadznya, bukan berdasar pada kekhususan sebabnya”. Maka tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk melemparkan dirinya kepada kebinasaan, seperti misalnya seseorang menjatuhkan dirinya dari bangunan yang tinggi dan berkata, “sesungguhnya saya bertawakkal kepada Allah”, atau seseorang yang mengkonsumsi racun dan berkata, “sesungguhnya saya bertawakkal kepada Allah”, atau seseorang menusuk dirinya dengan sebilah pisau atau benda tajam lainnya dan berkata, “sesungguhnya saya bertawakkal dan pasrah kepada Allah”. Semua ini tidak diperbolehkan. Wajib bagi setiap muslim untuk menjauh dan menjaga dirinya dari sebab-sebab kebinasaan, kecuali pada cara-cara yang syar’i semisal jihad (fi sabilillah) dan selainnya.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum Mukminin agar menginfakkan harta mereka di jalan jihad untuk dengan menyiapkan perbekalan, memudahkan perjalanan satuan-satuan perang khusus dan para pejuang serta melarang mereka untuk meninggalkan infak di jalan Allah -yang tidak lain adalah jihad- sebab bilamana mereka meninggalkan infak dan jihad, maka itu sama dengan orang yang menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Hal ini dikarenakan, bila musuh yang selalu mengintai melihat mereka tidak lagi berjihad, maka mereka akan menyerang dan memerangi mereka bahkan bisa mengalahkan mereka sehingga karenanya mereka akan binasa.

Di samping itu, Allah juga memerintahkan mereka agar berlaku baik dalam seluruh perbuatan-perbuatan mereka. Berlaku baik dalam perbuatan artinya menekuninya, memperbagusnya dan membersihkannya dari segala ketimpangan dan kerusakan. Allah juga berjanji kepada mereka bahwa jika mereka berlaku baik dalam perbuatan-perbuatan mereka tersebut, maka Dia akan menolong membantu dan menolong mereka.

Firman-Nya, “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” ; siapa saja yang dicintai Allah, maka Dia akan memuliakan dan menolongnya, tidak akan menghina dan mengerdilkannya. (Aysar at-Tafaasiir, al-Jazaa’iri)

Waallahu a’lam

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s