Nasehat Syaikh Profesor Sulaiman Bin Nashir Bin Abdillah Al ‘Ulwan


image
Beliau adalah Profesor Jurusan Studi Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Al-Imam Muhammad Bin Saud (lihat ringkasan biografi beliau dibawah)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Sesungguhnya Ad Dien Al Islamiy tidak akan terealisasikan dalam jiwa-jiwa kaum muslimin dan tidak pula pada waqi’ (realita) manusia kecuali dengan menegakkan Al jihad fi Sabiilillah dengan seluruh macam-macamnya. Dan kejahatan para perusak di muka bumi ini tidak akan terhenti kecuali dengan kekuatan yang menggetarkan mereka dan jihad yang meluluhlantakkan segala kekuatan yang mereka miliki.

Seandainya tidak ada Jihad Fi sabiilillah, tentulah bumi ini rusak, dan tentulah masjid-masjid dirobohkan. Perseteruan antara al haq dan al batil adalah ketentuan yang pasti berjalan, dan selalu saja ahlul batil lebih banyak jumlahnya dari ahlul haq, sedangkan kekalahan mereka dan penghadangan kejahatan mereka itu tidaklah mungkin berhasil kecuali dengan Al Jihad. Banyak dari manusia tidak tunduk kepada Al haq tanpa kekuatan yang menggiring mereka kepada hal itu.

Dan Al jihad fi sabiilillah itu terus berlangsung sampai hari kiamat. Ia adalah jalan kejayaan umat ini dan kemenangannya, dan bagaimanapun ditebar duri-duri rintangan di depan lajunya, dan bagaimanapun musuh-musuh islam berupaya keras dalam memeranginya, melenyapkan pilar-pilarnya, menindas para pemeluknya, mengusir mereka, memfitnah mereka, menuduh mereka dengan kekurangan dan cacat, mencap mereka sebagai ahlul ghuluw, militan dan teroris, maka tetap tidak akan berhenti alur langkahnya, dan akan nampak cahayanya, akan melebar pengaruhnya, dan ia akan tegak berdiri selagi masih ada malam dan siang, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina, dan masalahnya berkisar pada kemenangan atau syahadah (mati syahid).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [akan senantiasa (ada) sekelompok dari ummatku berperang di atas al haq, mereka menang atas orang yang merintangi mereka, sampai golongan terakhir dari mereka memerangi Al Masih Ad Dajjal]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalan Hammad Ibnu Salimah, dari Qatadah, dari Mutharri dari ‘Imran ibnu Hushain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ada dalam Shahih Muslim (1922) dari jalan Muhammad ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepada kami dari Syu’bah dari Sammah Ibnu Harb dari Jabir ibnu Samurah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Akan senantiasa dien ini tegak, berperang untuk mempertahankannya sekelompok dari kaum muslimin sampai hari kiamat tiba]

Dan Muslim meriwayatkan (1924) dari jalur Yazid ibnu Abi Habib, telah memberi tahu saya Abdurrahman Ibnu Syumasah Al Mahriy dari ‘Uqbah ibnu ‘Amir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Senantiasa sekelompok dari umatku berperang di atas urusan Allah, mereka mengalahkan musuhnya, tidak memadhorotkan mereka orang yang menyelisihi mereka, sampai datang kiamat kepada mereka, sedang mereka di atas hal itu”.

Dan di antara fenomena kekuatan salaf dan kejayaan mereka adalah tegaknya jihad fi sabiilillah, dan ia adalah jalan yang darinya umat Islamiyyah menduduki posisi tertingginya dan kejayaannya, serta mengembalikan pamornya. Dan setiap tarbiyah yang berdiri tanpa disertai ruh jihad dan tanpa mengaitkan realita sekarang umat ini dengan masa lalunya, maka ia adalah tarbiyah yang lemah, bagaimanapun upaya keras para pengusungnya dan apapun niat-niat mereka itu.

Dan tatkala umat Islamiyyah sekarang ini tidak mempedulikan terhadap sebab kejayaan mereka dan dasar ketinggian mereka maka Allah menghinakan mereka dan menguasakan atas mereka musuh-musuh mereka dan kita tatkala memberikan diri kita kepada dien ini, kita kembali kepada dien kita, kita mencari sebab-sebab kejayaan para pendahulu kita, kita mengamalkannya dan menjaharkannya (menampakkannya) dalam dunia realita, maka sesungguhnya kemenangan berada di pihak kita dan kejayaan adalah syiar kita.

Dan pada masa kita ini mulai muncul kesadaran umat ini, merebak perlawanan terhadap orang-orang kafir, dan berkibar tinggi panji-panji jihad di Afghanistan, Palestina, Checnya, Fhilipina dan banyak tempat lainnya serta mulai ummat ini memahami tujuan-tujuan jihad dan maksudnya, dan ia menjauhi dengan kesadaran sendiri dari panji-panji kebangsaan dan Nasionalisme, panji-panji pembebasan tanah air dan pembelaan terhadap pemerintahan-pemerintahan thaghut dan sekuler. Dan kita menunggu pertolongan Allah yang dekat untuk mengaitkan realita kekinian umat ini dengan masa lalunya, dan agar kalimat Allah lah yang tinggi dan kalimat orang-orang kafir-lah yang terendah. Maka apakah ada orang yang menyingsingkan lengannya untuk jihad, dan apakah ada orang yang mau terjun memerangi Ahlul Kufri wal ‘Inad, karena sesungguhnya termasuk pengecewaan terbesar adalah engkau melihat Junudurrahman (tentara-tentara Ar Rahman) dan ‘Asaakirul Iman (prajurit-prajurit iman) memerangi Yahudi dan Nashrani dari bangsa Rusia dan Amerika sedangkan engkau ada bersama al khawalif (orang-orang yang duduk menyelisihi mujahid, tidak berperang), engkau tidak berjihad langsung dengan dirimu padahal engkau mampu dan dibutuhkan, dan engkau juga bakhil dengan harta yang dimiliki, Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari ‘adzab yang pedih?? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash Shaff: 10-12).

Dan dalam Surat Bara’ah (At Taubah), Allah telah menyediakan surga sebagai penukar transaksi bagi jiwa dan harta orang-orang yang beriman, Dia berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

Dan Allah telah mencela orang-orang yang diajak berjihad dan mereka malah duduk-duduk bersama orang-orang yang duduk serta mereka absent dari nushrah (menolong) ikhwan mereka dan (absen) dari melindungi kehormatan dan harga diri mereka. Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, “berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tetap tinggal di tempatmu??? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akherat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akherat hanyalah sedikit.” (QS.At Taubah: 38)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akherat berperang di jalan Allah, barangsiapa yang berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Robb kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekkah) yang dholim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.” (QS. An-Nisaa’: 74-75)

Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala untuk berjihad dalam rangka meninggikan kalimat-Nya dan menyelamatkan mukminin dan mukminat, serta membebaskan mereka dari tangan-tangan kafir yang aniaya.

Para ulama telah ijma’ terhadap kewajiban memerangi orang-orang kafir yang lancang menduduki negara kaum muslimin, bila kejahatan mereka itu bisa ditangani oleh penduduk negeri yang diduduki atau dirampas maka kewajiban sudah gugur dari yang lain. Dan bila penolakan atas kejahatan mereka dan kedhalimannya tidak teratasi oleh penduduk negeri yang diduduki itu maka wajib atas orang-orang yang dekat dengan musuh dari penduduk negeri-negeri lain menolong saudara-saudara mereka dan menghadang gerak langkah orang-orang kafir itu. Dan kewajiban ini tidak gugur dari pundak kaum muslimin sampai musuh diusir dari negeri kaum muslimin.

Dan dalam perang ini tidak wajib ada izin dari pemimpin, apalagi kalau si pemimpin itu telah mengkhianati diennya lagi mencampakkan aturan-aturan Allah, dan jihad yang wajib ‘ain.

Para ulama tidak berselisih bahwa tugas paling utama para penguasa adalah menegakkan syari’at Allah, menjihadi orang-orang kafir dan murtaddin serta nushrah Islam dan kaum muslimin di seluruh belahan dunia. Dan bila mereka tidak melakukan hal itu, maka apa gerangan tugas mereka itu??.

Alangkah butuhnya umat ini kepada para ulama yang jujur dan mengkritisi para penguasa dan mengingkari di hadapan mereka keburukan perbuatan-perbuatan mereka dan kenistaan tingkah laku mereka. Dan alangkah butuhnya umat ini kepada tokoh-tokoh yang jujur yang mengerahkan seluruh kemampuannya dan menggunakan waktunya dalam MEMERANGI orang-orang kafir dan menghadang sikap aniaya mereka, serta mereka mencari syahadah sebagimana orang-orang kafir mencari kehidupan.

Orang yang terbunuh dalam jihad ini dalam keadaan maju tidak mundur adalah syahid fi sabiilillah. Sungguh telah ada dalam Shahih Muslim (1915) dari jalur Suhail Ibnu Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid. Dan siapa yang mati di jalan Allah maka ia syahid. Siapa yang mati dalam wabah Tha’un maka ia syahid. Serta siapa yang mati dalam sebab penyakit perut maka ia syahid.”

Hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan bahwa jihad di jalan Allah adalah tergolong amalan paling utama dan orang-orang yang menjalankannya adalah tergolong hamba-hamba yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditanya tentang amalan yang membandingi jihad fi sabiilillah Azza wa Jalla? Beliau berkata: “Kalian tidak akan mampu,” mereka mengulangi pertanyaan kepada beliau dua atau tiga kali, semua itu beliau jawab: “Kalian tidak akan mampu!” Dan ketiganya beliau berkata: “Perumpamaan mujahid fi sabiilillah adalah seperti orang yang shaum yang berdiri shalat lagi khusyu’ dengan ayat-ayat Allah, ia tidak menghentikan diri dari shaum dan shalat sampai mujahid fi sabiilillah Ta’ala pulang,” (HR. Muslim dari jalan Suhail Ibnu Abi Shalih dari Ayahnya dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan oleh Al Bukhari dengan maknanya dari hadits Abu Hushair dari Dzakwan dari Abu Hurairah)

Dan ada dalam Ash Shahihain dari jalan Az Zuhri, berkata : “Atha’ Ibnu Yazid Al Laitsi telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu, telah mengabarkannya, ia berkata : “Dikatakan wahai Rasulullah, manusia macam apa yang paling utama?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mukmin mujahid fi sabiilillah dengan jiwanya dan hartanya.” Mereka berkata, “Kemudian siapa?” Beliau berkata : “Mukmin yang berada di suatu lembah, dia bertaqwa kepada Allah dan ia meninggalkan manusia dari kejahatannya.” (Shahih Al Bukhari (2786) dan Muslim (1888)).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh saya ingin saya ini terbunuh di jalan Allah kemudian saya hidup kemudian saya terbunuh kemudian saya hidup kemudian saya terbunuh “ Diriwayatkan oleh Al Bukhari 2797 dan Muslim 1876 dari jalan ‘Umarah, berkata: Abu Zar’ah Ibnu ‘Amr Ibnu Jarir telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: “Saya telah mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ….. dengannya.

Dari Anas radliyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidaklah seorang meninggal yang memiliki kebaikan di sisi Allah (terus) ia ingin kembali ke dunia dan bahwa baginya dunia dan isinya, kecuali orang yang mati syahid, karena ia melihat (pahala) dari keutamann syahadah, maka sesungguhnya ia merasa senang bila kembali ke dunia kemudian ia terbunuh sekali lagi” (Diriwayatkan Al Bukhari dari jalan Abu ‘Ishaq dari Humaid dari Anas. Dan diriwayatkan Al Bukhari 2817 dan Muslim 1877 dari jalan Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dan Nabiyyullah Sulaiman telah berangan-angan ingin memiliki banyak anak supaya mereka menjadi para pendekar yang berjihad di jalan Allah. Ini ada dalam Ash Shahihain.

JIHAD ADA DUA MACAM

Jihad Thalab (invasi): Yaitu mendatangi orang-orang kafir dan menginvasi mereka di negeri-negeri mereka walaupun tidak pernah muncul dari mereka sedikitpun penganiayaan, supaya mereka masuk dalam Islam seluruhnya, atau mereka memberikan jizyah dari tangan mereka langsung sedang mereka itu hina. Dan ini adalah nash Al Kitab, As-Sunnah dan ijma’ ulama, dan tidak menghalangi dari jihad ini kecuali bahaya-bahaya yang kuat atau ketidakmampuan dan kelemahan. Dan dalam hal ini dikembalikan kepada orang-orang ‘alim dan jujur, dan hal ini tidak boleh dicari pada orang yang telah menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, atau orang-orang yang pecundang dan para penebar isu di muka bumi ini. Dan tujuan terbesar dari jihad ini adalah meninggikan kalimat Allah, membela dien-Nya serta menghinakan kekafiran dan para pelakunya.

Macam kedua: Jihad Menghalau musuh dari negeri kaum muslimin, dan ini adalah wajib dengan ijma’, serta tidak ada yang menghalangi darinya kecuali orang jahil dan orang munafiq. Ia wajib di Palestina, Checnya, Afghanistan, Philipina dan banyak negeri lainnya. Negara-negara kafir, AS dan sekutu-sekutunya, telah saling mewasiatkan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, membunuh para pemimpin mereka, menebar kerusakan di antara mereka dan mengembargo sebagian negeri-negeri mereka.

Presiden Amerika Bush, dalam siaran pers hari Ahad 28/6/1422 H telah menegaskan bahwa perang ini adalah perang salib (CRUSADE) dan koalisi salib ini membutuhkan pada penghadangan yang paling besar, upaya-upaya berkesinambungan dan terjun rame-rame, sehingga tidak seorang pun di’udzur dengan sikap tidak ikut serta menghadapinya, dan masing-masing sesuai kadar kemampuannya. Ini dengan jiwanya di mana hajat membutuhkan kepadanya, sedang yang ini dengan harta dan lisannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta-harta kalian, jiwa-jiwa kalian dan lisan-lisan kalian.’ HR. Abu Dawud (2504) dan An Nasaai (3089) dari jalan Hammad dari Humaid dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam….

Dan hal paling minimal yang dikerahkan dalam penghadangan dan perang salib ini adalah do’a buat Hizbullah Al Mu’minin dan ‘Ibaadullah Al Mujaahidin, bersungguh-sungguh dalam (do’a) itu dan mencari waktu-waktu ‘ijabah do’a, seperti sepertiga malam terakhir, dalam sujud, antara adzan dan iqamah, qunut dalam shalat lima waktu di mana ia menda’akan untuk orang-orang yang tertindas dari kaum mu’miniin dan meminta pertolongan kepada Allah atas kafirin dari kalangn Yahudi perampas dan Nashara yang aniaya.

Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, berkata: “Sungguh saya akan mempraktekkan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, maka Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, qunut dalam raka’at terakhir dari shalat dhuhur, shalat isya’ dan shalat subuh setelah mengatakan, “Sami’allahu liman hamidah”, terus beliau berdo’a buat kaum mu’minin dan melaknat kuffar. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya (797) dan Muslim (676) dari jalur Yahya Ibnu Abi Katsiir dari Abu Salamah dari Abu Hurairahh radliyallahu ‘anhu)

Dan tidak wajib meminta izin kepada penguasa dalam hal qunut di masjid-masjid, karena tidak ada dalil atas hal itu, dan serupa itu andai dilarang dari melaksanakan shalat sunnah rawatib maka sesungguhnya penguasa itu tidak asal ditaati, karena ketaatan hanyalah dalam hal ma’ruf, sedangkan ini sama sekali bukan tergolong hal ma’ruf. Sungguh ummat ini telah diberi bencana dengan para penguasa yang menelantarkan hudud dan yang melarang jihad fi sabiilillah serta qunut dalam shalat yang lima waktu. Dan (umat diberi bencana) dengan ulama yang melegalkan sikap-sikap hina ini dan mereka mengomentari sikap pengecutan mereka dari Nushrah Al Islam wal Muslimin dengan (dalih) mendengar dan patuh kepada para penguasa dalam kondisi giat dan malas?!.

Padahal ini adalah penempatan hadits bukan pada tempatnya, di mana para ulama telah ijma’ bahwa orang yang memerintahkan kemungkaran adalah tidak boleh ditaati. Dan sesungguhnya kewajiban para ulama adalah berdiri menghadang kebatilan dan gerak langkah kesesatan. Wajib atas mereka mengobarkan ruh jihad di tengah umat dan memimpinnya dalam meninggikan panji ini serta berlomba-lomba dalam mengitari hal itu.

Mereka adalah pewaris para Nabi dan pengemban syari’at, serta orang yang paling paham akan hukum-hukum jihad dan keutamaannya serta apa yang telah Allah siapkan berupa pahala buat Mujahidin. Sekarang adalah waktu pengorbanan, membela kaum muslimin dan menjihadi orang-orang kafir dan kaum salib. inilah jalan yang menghantarkan kepada syahadah, ridha Allah dan surga-Nya.

Ini Umar Ibnul Hammam Al Anshariy saat mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Bangkitlah untuk menggapai surga yang lapangnya langit dan bumi.” Umar berkata “Wahai Rasulullah, Surga lapangnya langit dan bumi?’. Beliau berkata: “Ya. “maka ia berkata, “bakh bakh bakh.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”apa yang membuatmu mengucapkan bakh bakh?” Ia berkata: “tidak wahai Rasulullah, kecuali harapan saya ingin untuk menjadi bagian ahli surga”, Rasulullah berkata: “Sesungguhnya kamu termasuk ahli surga”. Maka ia mengeluarkan kurma-kurma dari kantongnya terus ia memakan sebagian darinya, kemudian ia berkata: “Andai saya hidup sampai saya habis makan kurma-kurma ini, maka sesungguhnya ia adalah kehidupan yang panjang.” Maka ia melemparkan kurma-kurma yang ada padanya, kemudian ia memerangi mereka (pasukan kafir) sampai terbunuh.” HR. Muslim dalam Shahihnya (1901) dari jalur Hasyim Ibnul Qasim, telah mengabarkan kami Sulaiman Ibnul Mughirah dari Tsabit dari Anas Ibnu Malik….

Dan ada dalam Shahih Muslim (1889) dari jalan Abdul Aziz Ibnu Abi Hazim dari ayahnya dari Ba’jah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ia berkata: “Sebaik-baiknya kehidupan manusia bagi mereka adalah: seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, ia melesat di atas punggungnya, setiap kali ia mendengar suara teriakan atau peperangan maka ia terbang di atasnya, mencari tempat-tempat pembunuhan atau kematian. Atau orang yang berada di tengah-tengah kambingnya di atas lereng gunung atau di lembah dari lembah-lembah ini, ia mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beribadah kepada Rabbnya sampai menemui kematian, tidak ada kebaikan pada manusia kecuali itu.”

Dan banyak mereka adalah orang-orang yang terjelma pada mereka hakekat ini dan ‘ubudiyyah ini, mereka mencari-cari syahadah saat manusia lain mencari dunia dan kelezatannya…

Biarkan kami safar dalam jalan harga diri kami

Sedang kami memiliki bekal berupa cita-cita yang tinggi

Janji buat kami adalah kemenangan yang nyata, maka bila

Kami mati maka disisi Rabb kami ada tempat tersedia

Biarkanlah kami mati hingga meraih kesyahidan

Karena mati di jalan petunjuk adalah kelahiran

JANGAN HERAN! KARENA KEHIDUPAN MUJAHIDIN SELURUHNYA ADALAH KEAJAIBAN

Syiar mereka adalah “Saya menang demi Rabb Ka’bah”. Tsumamah Ibnu Abdillah Ibnu Anas berkata: Saya mendengar Anas Ibnu Malik radliyallahu ‘anhu berkata: Tatkala ditusuk Haram Ibnu Malhan – sedang ia adalah pamannya – di hari Sumur Ma’unah, ia mengisyaratkan dengan darahnya: Begini, terus ia melumurkan darah itu ke wajah dan kepalanya, terus berkata: “Saya menang demi Rabb ka’bah.” (HR Al Bukhari (4092) dalam Shahihnya dari jalan Abdullah Ibnu Mu’ammar dari Tsumammah dan Al Waqidiy meriwayatkan bahwa ‘Amir Ibnu Fuharah mengatakannya, kemudian orang yang membunuhnya masuk Islam saat itu juga, dan saat Khubaih Ibnu ‘Addiy ditawan dan di kedepankan untuk dibunuh, dia berujar:

Saya tidak perduli dalam keadaan muslim saya dibunuh

Di sisi manapun karena Allah sebab saya terbunuh

Dan itu karena Dzat Allah dan bila dia mau

Dia memberkati terhadap anggota-anggota badan yang terputus

Engkau bisa melihat ini dalam Shahih Al Bukhari (3045)

Hadits-hadits dalam hal ini banyak, oleh hikayat-hikayat tentang para pendekar islam tidaklah membosankan, dan para ibu tidak pernah mandul dari melahirkan para pemberani itu. Nama-nama jihadiyyah yang muncul pada masa kita ini berlomba-lomba muncul dalam ingatan saya, inilah sang panglima Abdullah ‘Azam, Jamilurrahman, Anwar Sya’ban, Yahya Ayasy rahimahumullah serta Al Qa’id Samir As Suwailim yang dikenal dengan sebutan (Khaththab). Umat ini telah menderita sebulan yang lalu dengan terbunuhnya beliau karena diracun pada umur yang tidak lebih dari 33 tahun, beliau dilahirkan tahun 1390 H, beliau bergabung dengan mujahidin Afgan pada umur 18 tahun terus berada di medan-medan perang sampai akhirnya ia memimpin tentara islam di peperangan Checnya dan ia menimpakan banyak kerugian pada musuh, ia memang mencari syahadah dan khawatir meninggal di selain tanah jihad, maka Allah menyampaikannya pada cita-citanya.

Dan kami meyakini bahwa lenyapnya sang panglima pemberani ini serta mujahidin piawai lainnya tidak akan melemahkan mujahidin atau meluluhkan mereka. Bila mati seorang pendekar pemberani seperti Khathhab rahimahullah, maka sesungguhnya pada umat ini terdapat pada pendekar lainnya dan orang-orang yang tulus terhadap dien ini. Karena sesungguhnya umat yang dirahmati ini selalu terus memberi, ia melahirkan orang-orang yang shalih, para imam yang bertaqwa, ulama yang jujur dan panglima yang mukhlis.

Bila mati ditengah kami seorang tokoh maka berdiri tokoh lain yang mengucapkan lagi melakukan apa yang diucapkan orang-orang mulia yang mencetak tokoh, dan menanamkan pada mereka kekuatan dan keberanian adalah aqidah dan keteguhan di atas prinsip.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar membela diennya, meninggikan kalimatnya, memenangkan auliya-Nya dan menghinakan musuh-musuhnya, Ya Allah sesungguhnya bumi adalah bumi-Mu, langit adalah langit-Mu, dan laut adalah laut-Mu, Ya Allah apa yang dimiliki oleh Yahudi para perampas dan Nashara yang aniaya berupa kekuatan diatas, maka jatuhkanlah, dan apa yang mereka miliki berupa kekuatan di bumi maka hancurkanlah, serta apa yang mereka miliki berupa kekuatan di laut, maka tenggelamkanlah.

Wal hamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Biografi Beliau

Syaikh Nashir al-’Umar seorang ulama ahlussunnah yang berasal dari Saudi Arabia. Nama lengkapnya Nashir bin Sulaiman bin Muahammad Al-Umar. Beliau berasal dari kabilah Bani Khalid Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah yang cukup terkenal. Beliau lahir pada 1373 H/1952 M di desa Maridisiyah, Kota Buraidah, Propinsi Qasim.

Syaikh Nashir menyelesaikan pendidikan menengah pada Ma’had Ar-Riyadh Al-’Ilmi pada tahun 1390 H. Sementara itu pendidikan tingginya beliau selesaikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Al-Imam Muhammad Bin Saud, lulus tahun pada tahun 1394 H. Kemudian beliau menjadi asisten dosen di Jurusan Studi Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Universitas yang sama. Pada 1399H/1979M, beliau meraih gelas Magister dari Jurusan Studi Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin. Pada tahun 1404H/ 1984 beiau meraih gelar doktor dari jurusan dan fakultas yang sama pada. Pada tahun itu juga beliau ditetapkan sebagai asisten profesor pada Jurusan Studi Al-Qur’an , lalu menjadi dosen pendamping pada 1410 H/ 1989 M. Kemudian pada 1414 H/1993 M, beliau diangkat sebagai profesor.

Di Saudi dan negera-negara teluk, beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian serius terhadap probelmatika umat Islam. Hal dapat dilihat dari kiprah dan peran beliau dalam menghimpun dana bantuan kemanusiaan untuk membantu kaum Muslimin di daerah yang sedang bergolak. Saat ini beliau menjabat sebagai sekretaris jenderal Ikatan Ulama Muslim Sedunia yang berkedudukan di Suda dan ketua Lembaga Tadabbur al-Qur’an Internasional.

Selain itu beliau juga dikenal sebagai ulama dan akademisi pakar al-Qur’an yang produktif. Beliau memiliki banyak karya tulis berupa kitab dan risalah tentang Al-Qur’an, Parenting, Pergerakan, dan sebagainya. Diantara karya beliau adalah:

Al-’ahdu wal Mitsaq Fil Qur’anil Kariim.

Al Bats-tsu al Mubaasyir, Haqa-iq wa Arqoom.

Al-Futur; al Mazhaa-hir, al Asbaab, al ‘Ilaaj. (Melejitkan Semangat Beribadah, Energi Untk Kembali Bangkit Dari Kefuturan, Pustaka ‘Arafah, 2007).

Al-Hikmah. (Hikmah).

Al Ikhtilaaf fil ‘Amal al Islaamiy, Al Asbaab wal Aatsaar. ( Sebuah kitab yang mengulas persoaln Khilaf di dunia Islam. Dalam buku ini, beliau menguraikan sebab dan dampak perbedaan penadapat serta solusinya menurut Islam)

Al Ilmu. (Ilmu).

Al-Wasathiyah fil Qur’anil Karim (Sikap pertengahan dalam al-Qur’an).

Asbab Suquth Andalus (Sebab-sebab Keruntuhan Andalusia)

As-Sa’adah bainal Wahm wal haqiqah (Kebahagiaan, Antara Hakekat dan Ilusi).

At Tauhid Awwalan (Tauhid Sebagai Prioritas Utama).

Ayaat Lissaa-iliin, Tafsir Tahlili Mawdlu’i li Suroti Yusuf. (Tanda-tanda kekuasaan bagi orang-orang yang bertanya; kajian tafsir tematik terhadap surat Yusuf).

Banatuna Bainat Taghrib wa ‘Afaf (Putri-putri kita antara westernisasi dan sikap iffah)

Fiqhul Istisyaroh (Fiqih Musyawarah).

Fiqhul Waqi’ (Fikih Realitas).

Haqiqatul Intishar (Hakikat Kemenangan).

Haadza huwa al Islaam bikhtishoor. (Inilah Islam, secara singkat).

Illaa tanshurruhu faqod nashorohullooh. (Jika kalian tidak menolongnya maka Allah yang pasti akan menolongnya).

Imtihaanul Quluub (Ujian hati).

Jaziirotul ‘Arob Bainat Tasyriif wat Takliif.

Luhuum al ‘Ulamaa’ Masmuumah.

Mafhum at Tadabbur (Tahriir wa Ta’shiil). (Kumpulan tulisan temu ilmiah pertama Tadabbur al Qur’an).

Masyru’ Muqtaroh.

Mukhtashar Fiqih I’tikaf (Ringkasan Fiqh I’tikaf).

Muqawwimatus Sa’adah az-Zaujiyah (Faktor-faktor Pembentuk Kebahagiaan Suami Istri).

Ramadhan Madrasatul Ajyal (Ramadhan, Madrasah Pembinaan Generasi).

Risaalatul Muslim Fii Huqbatil ‘Aulamah. (Peran seorang muslim dalam era globalisasi).

Ru’yah Istirootijiyyah Fil Qodliyyah al Filisthiiniyyah (Kajian Strategis Terkait Persoalan Palestina).

Surat al Hujurat Dirasah Tahliliyah Maudhu’iyah(Tafsir Surat Al- Hujurat: Manhaj Pembentukan Masyarakat Berakhlak Islam, Pustaka al Kautsar, 2001).

Tahqiq Kitab Al-Burhan Fi Mutasyabihil Qur’an karya al-Karmani.

Tahqiq Juz Pertama Kitab Lubab Tafsir karya al-Karmani.

Thifluka minats tsaaniyah ilal ‘aasyiroh. (Putra Anda, dari usia 2 hingga 10 tahun).

Tsawaabitul Ummah bainal Mutaghoyyiroot Ad Dauliyah.

Zhoohirotul Isaa-ah lin Nabiyy shallallaahu ‘alaihi wasallam wa Syari’atihi Fil Ghorb. (Fenomena pelecehan terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan syariatnya, di dunia Barat). Dan lain sebagainya.

Wala Yaltafit Minkum Ahad,

Selain itu, beliau juga memiliki rekaman ceramah, seminar dan sejenisnya, yang beliau sampaikan di berbagai kesempatan. Ceramah-ceramah belaiu baik berupa audio maupun audio visual dapat disimak dan didownload di website yang beliau asuh: http://almoslim.net/ dan website lembaga tadabbur yang beliau pimpin: http://tadabbor.com/.

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s