SIKAP TERHADAP AHLU AL-BID’AH


Banyak permasalahan ummat yang bersumber dari ketidak-jelasan pola hubungan dan pensikapan terhadap sesama ummat Islam terkait dengan perbuatan bid’ah yang tersebar di tengah-tengah ummat. Jenis-jenis dan tingkatan bid’ah serta kadar pensikapan kepada pelakunya menjadi hajat untuk dimengerti agar tidak salah dan berlebihan di dalam meng-implementasi-kannya. Berlebihan dalam maslah ini dapat berakibat rusaknya ukhuwah imaniyah, bahkan tumpahnya darah dan pembunuhan jiwa.

Pembagian bid’ah
Siapakah ahlu al-bid’ah yang mendapat permusuhan total, dan siapakah ahlu al-bid’ah yang mendapat perwalian (kecintaan) sebagian dan permusuhan pada bagian yang lain? Untuk mengetahui batas-batas dalam ber-mu’asyarah dengan ahlu al-bid’ah kita perlu mengetahui terlebih dahulu pembagian bid’ah tersebut.

Yang pertama, bid’ah mukaffiroh (bid’ah yang dapat mengantarkan pelakunya menjadi kafir) diantaranya :
Bid’ah jahiliyah. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman :
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (136(
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sesaji-sesaji yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sesaji-sesaji yang diperuntukkan bagi Allah, maka sesaji itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (Al An’aam : 136).

Atau bid’ah-nya orang-orang munafiq ketika mengambil Islam sebagai sarana untuk menyelamatkannya dari hukum Allah di dunia.

Juga bid’ah-nya orang yang mengingkari urusan yang telah disepakati ke-mutawatir-annya di dalam syari’at, seperti menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Karena permasalahan penghalalan dan pengharaman adalah hak khusus bagi Allah. Maka barang siapa menghalalkan dan mengharamkan selain yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Rosul-Nya maka ia telah membuat suatu syari’at atau undang-undang. Barangsiapa yang membuat syari’at, maka ia telah menuhankan dirinya. (Al-Wala’ wa Al-Bara’ fi Al-Islam, Sa’id bin Salim al-Qohthoniy : 141).

Atau berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah Ta’aalaa dan Rosul-Nya dan kitab-Nya dari urusan nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Keyakinan seperti itu merupakan tindakan mendustakan kitab Allah dan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Seperti bid’ahnya Jahmiyah dalam mengingkari dan meniadakan shifat Allah. Begitu pula perkataan kaum mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluq. (Ma’arij al-Qobul : 3/1228).

Atau bid’ahnya orang-orang yang melecehkan syari’at Islam dan menerjang pembatal-pembatal keislaman. Begitu juga orang-orang yang ingin menyatukan seluruh agama samawi, seperti yang diyakini oleh para penganut wihdah al-adyan (penyatuan agama-agama) yang banyak dikampanyekan oleh jaringan Islam liberal. Semua ini adalah bid’ah yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

Bid’ah-bid’ah yang sudah sampai tingkatan kufur tersebut, wajib bagi kaum muslimin untuk memusuhinya dan membencinya serta memeranginya setelah diberikan peringatan dan ancaman oleh para ‘alim robbaniy yang memiliki integritas ilmu syar’iy. Dan untuk menetapkan kekafiran atas orang-orang semacam ini harus ada iqomatul hujjah (tersampaikannya argumentasi) atas mereka terlebih dahulu. (Ma’arij al-Qobul : 3/1229).

Yang kedua adalah bid’ah ghoiru mukaffiroh (yang tidak menjadikan pelakunya kafir). Yaitu yang tidak mendustakan Al-Qur-aan dan apa yang dibawa oleh Rosulullah. Seperti bid’ah ruhaniyah yang di-ingkari oleh para pemuka sahabat. Mereka tidak dikafirkan dan mereka tidak mencabut bai’atnya. Seperti mengakhirkan sebagian waktu sholat atau mendahulukan khutbah sebelum sholat ‘ied seperti yang dilakukan salah seorang pemuka bani Umayyah (karena takut jama’ahnya bubar)… (Ma’arij al-Qobul : 3/1229).

Juga bid’ah yang sifatnya dibenci oleh para shahabat, seperti berkumpul untuk do’a, menyebut para penguasa pada khotbah jum’ah dan yang semacamnya. (Al I’tishom : II/37).
Bagi para pelaku bid’ah jenis yang kedua ini, tidaklah dikafirkan, akan tetapi diberikan perwalian sebatas perwalian mereka terhadap Islam dan diberikan permusuhan sebatas penyelewengan mereka dari Islam.

Adab dalam meng-hajr (mengisolir, menjauhi) ahlu al-bid’ah yang belum tingkatan sampai kafir
Islam mengajarkan pada kita untuk berlaku adil dalam mensikapi segala sesuatu. Islam juga mengajarkan kepada ummatnya bagaimana harus bersikap kepada saudaranya yang melakukan perbuatan bid’ah. Diantara adab yang harus diperhatikan adalah : Hendaknya sikap hajr (menjauhi) ahlu al-bid’ah dilakukan hanya karena Allah.

Seorang muslim haruslah memahami bahwa seluruh amalan hanya diperuntukkan bagi Allah. Maka barang siapa menjauhi ahlu al-bid’ah karena nafsu, atau mengisolir ahlu al-bid’ah dengan hal-hal yang tidak dituntunkan Islam, ia berdosa walaupun ia ber-argumentasi bahwa apa yang dilakukannya untuk menjaga Islam. Hajr (mengisolasi, menjauhi ahlu al-bid’ah) tidak menghalangi seseorang untuk mencabut perwalian karena Allah dan ukhuwah (persaudaraan) diantara umat Islam. Berapa banyak orang yang meng-hajr saudaranya muslim dengan mencaci secara terbuka, men-cap dengan label kafir dan julukan-julukan lain yang tidak pantas hanya karena melakukan beberapa kesalahan kecil diluar kesengajaan.

Ibnu Taimiyah rahimahul-Laah berkata :
“…seorang mukmin harus engkau ambil sebagai wali walaupun dia mendhalimi dan memusuhimu, dan orang kafir harus engkau musuhi walaupun dia memberi sesuatu dan berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab supaya dien itu hanya bagi Allah, supaya kecintaan hanya untuk para wali-Nya dan permusuhan untuk musuh-Nya. Apabila terkumpul pada seseorang ; kebaikan dan kejelekan (dosa), ketaatan dan ma’shiyat, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak mendapatkan perwalian dan ganjaran sesuai dengan kebaikannya, dan berhak mendapatkan permusuhan dan balasan sesuai dengan kadar kejelekannya. Maka berkumpullah dua kewajiban dalam diri seseorang. Yaitu kewajiban untuk memberikan kecintaan dan kebencian. Seperti seorang pencuri yang fakir, dia dipotong tangannya dan diberi harta dari baitul maal untuk kebutuhannya ….” (Majmu’ Fatawa : 28/208-209).

Perkataan Ibnu Taimiyah ini perlu kita cermati agar tidak termasuk orang-orang yang jahil, keinginannya menegakkan syari’at Islam, pada saat yang sama mereka merobohkan sendi-sendi syari’at yang ingin ditegakkannya itu. Dahulu, orang-orang khowarij ber-maksud untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (yang merupakan salah satu pilar syari’at Islam), tetapi mereka justru terjerembab dalam jurang menghancurkan ukhuwah imaniyah, bahkan menumpahkan darah, membunuh saudara-saudara muslim-nya. Jangan mengira bahwa yang bisa terperosok seperti itu hanya mereka, apalagi jika bekal ilmu yang dimiliki belum mencukupi.

Bagaimana sikap Imam Ahmad bin Hanbal rahimaul-Laah (yang Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menasabkan diri kepada madzhab beliau) terhadap Jahmiyah? Apakah Imam Ahmad mengkafirkan mereka? Apakah semua jahmiyah dan seluruh pengikutnya dikafirkan? Tidak! Tidak seluruhnya dikufurkan oleh beliau. Padahal mereka telah menyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluq. Dan mereka me-nafyi-kan shifat-shifat Allah. Mereka telah menyiksa para ulama’ Ahlu as-Sunnah pada waktu itu, mereka memperlakukan orang-orang beriman yang berbeda pandangan dengan mereka dengan siksaan dan penjara.

Mereka telah cabut perwalian, menolak syahadat, membiarkan orang-orang muslim ditawan musuh, hanya karena menolak bahwa “Al-Qur’an itu makhluq”. Imam Ahmad mendo’akan kholifah dan orang-orang yang telah menyiksa dan memenjarakannya, beliau memintakan ampun mereka, belaiu maafkan segala siksaan yang ditimpakan. Dan tidaklah mungkin Imam Ahmad mendo’akan mereka jika beliau menganggap telah kafir. Ahlussunnah sepakat bahwa orang kafir tidak boleh dimintakan ampun, seandainya dido’akan pun dido’akan agar mendapatkan hidayah Allah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah : 12/488-489).

Mereka adalah saudara kita
Beban menegakkan Islam merupakan tanggung jawab seluruh ummat Islam. Semua elemen ummat Islam mengambil bagian dalam usaha Iqomatud diin. Karena pada hakekatnya ummat Islam belum dianggap merdeka di dunia jika mereka belum dapat menerapkan Islam secara menyeluruh.

Jika selama ini kelompok-kelompok ummat Islam, yang eksistensi kelompok-kelompok itu merupakan akibat logis dari ketiadaan khilafah dan Imam Syar’iy menganggap dirinya sebagai kelompok tunggal dan tanggung jawab iqomatud-dien itu hanya ada dipundak kelompoknya, ketahuilah bahwa ketika itu berarti sedang bermimpi. Jika mimpi itu telah terlewati dan kita telah bangun, maka yang kedua, bersamaan dengan ‘amal Islamiy yang dikerjakannya, hendaknya mengalokasikan waktu untuk duduk berbincang dengan elemen ummat Islam lain untuk menentukan grand strategi bersama yang menjadi acuan dalam iqomatud-dien.

Sambil mewaspadai serigala berbulu domba yang kemungkinan ikut nimbrung duduk bersama. Seringkali terjadi, kecurigaan dan prasangka buruk yang berkembang di antara kelompok-kelompok ummat Islam, persoalannya karena kesenjangan komunikasi, sehingga banyak persoalan tidak dapat dilakukan sharing. Shabar menempuh proses ini sehingga tumbuh tsiqoh (saling mempercayai) menjadi modal terbesar menuju wihdah (penyatuan), setidaknya wihdah at-tashowwur (kesamaan persepsi) kalaupun belum sampai wihdah al-qiyadah (kesatuan kepemimpinan) dan wihdah al-barnamij (kesatuan program).

Persoalannya akan lain, jika sejak awal ada kelompok ummat Islam yang menganggap kelompoknya sebagai pewaris kebenaran dan berhak memonopoli ukuran hanya karena menemukan jargon kembali kepada salaf, padahal pada waktu yang sama jarak antara klaim salafiy dengan kelengkapan untuk menjadi salafiy (baik ilmu maupun adab) masih sejauh timur dan barat. Kemudian, pada kondisi seperti itu memandang setiap kelompok lain yang sejatinya juga sedang berproses menuju yang lebih baik (yang lebih mendekati salaf), terus dihukumi sebagai ahlu al-bid’ah, ahlu al-hawa, khawarij dll. Sungguh, jika begitu, masalahnya karena terjerembab kepada sikap ifrath (berlebih-lebihan) dalam memandang saudaranya dan dalam waktu yang sama terkena syubhat atas nama hajr kepada ahlu al-bid’ah. (Amru)

One thought on “SIKAP TERHADAP AHLU AL-BID’AH

  1. ini tulisan ‘sakit’ dari penulis yg mmg ‘sakit’,dikit2 bid’ah,se akan2 full up in their head with a bloody bid’ah,namun apa mau dikata,lha wong agama mrk2 tsb adlah bid’ah,jangan bilang Islam.

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s