UNDANGAN KAJIAN TAFSIR ADHWAUL BAYAN FI IDHOHIL QURAN BIL QURAN, Karya Syaikh Muh Amin Asy Syinqithi Rahimahullaah (Guru Syaikh Bin baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan dll)


asy-syinqithi
Alhamdulillaah salah satu Ustad FS3I yaitu Ust Oemar Mita diminta oleh sebuah yayasan untuk mengisi rutin kajian tafsir di tangerang kota, dan Kitab Tafsir yang dipilih oleh yayasan tersebut adalah Kitab Tafsir Adhwaul Bayan fi idhohil qur’an yang mungkin belum banyak dikaji secara umum di indonesia. Dan fihak yayasan tersebut yang bernama YABA/Yayasan Adhwaul Bayan (adhwaulbayan.or.id) juga mengundang FS3I untuk menghadiri acara rutin tersebut. Oleh karena itu berikut kami sampaikan undangannya kepada antum/anti sekalian agar juga bisa menghadiri kajian umum ini.

UNDANGAN KAJIAN TAFSIR ADHWAUL BAYAN FI IDHOHIL QURAN BIL QURAN, Karya Syaikh Muh Amin Asy Syinqithi Rahimahullaah
WAKTU : TIAP PEKAN KE-2 TIAP BULANNYA (MULAI TANGGAL 13 Juli 2014) JAM 09:30 s/d Dluhur
TEMPAT: MASJID AL ISTIQOMAH (jln jend. sudirman cikokol kota tangerang dekat fly over cipondoh/cikokol, peta lokasi klik link dibawah)
PEMATERI : Ust Umar Mita Lc (Da’i yg aktif memda’wahkan tauhid & sunnah dan aktif mentelaah jga merujuk pada kitab-2 klasik salaf) PETA MASJID : http://goo.gl/maps/1AAZJ Mari luangkan waktu untu pelajari tafsir dari ulama ahlussunnah yg terkenal ini,…HANYA SEBULAN SEKALI, YAITU TIAP PEKAN KE-2 Penyelenggara : YABA/Yayasan Adhwaul Bayan(adhwaulbayan.or.id), CP 0813 84042994

APA KELEBIHAN TAFSIR ADHWA’UL BAYAN?

Syaikh Muhammad B. Soleh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau, Kitab al-‘Ilm:
“Kitab Adhwa’ul Bayan karya al-‘Allamah Muhammad asy-Syanqithi rahimahullah ini adalah kitab yang menggabungkan antara hadis, fiqh, tafsir, dan ushul fiqh.”

Kitab Tafsir Adhwaul bayan fi idhohil qur’an bil quran ditulis oleh Al Allamah Al Mufasir Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi -rahimahullah- salah satu ulama ahli tafsir abad ini dan guru dari sekian banyak ulama Ahlus Sunnah zaman ini, Guru dari ; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz –rahimahullah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah- , Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, dan banyak ulama lainnya, Kelebihan kitab tafsir Adhwa’ul Bayan ini diantaranya:
1.Menjelaskan makna ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an (Qur’an bil Qur’an). Hal ini sesuai dengan kesepakan para ulama yang menyebutkan bahwa tafsir yang paling mulia dan utama adalah menafsirkan ayat-ayat Kitabullah dengan menggunakan (ayat-ayat lainnya) Kitabullah. Sebab, tidak ada seorangpun yang lebih tahu makna Kalamullah kecuali kecuali Allah Azza wa Jalla sendiri. Dalam kitab ini penulis berkomitmen untuk menjelaskan Al Qur’an kecuali dengan menggunakan qiroah sab’ah (7 cara membaca Al Qur’an).•> 2.Menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam semua ayat yang dijelaskan dalam kitab ini yang disandarkan kepada dalil-dalil shahih dari Sunnah Nabwiyyah dan pendapat para ulama , kemudian dipilihkan pendapat yang terkuat tersebut tanpa ada fanatik madzhab.
3.Dilengkapi penjelasan tambahan. seperti ilmu lughah (pembahasan tentang beberapa masalah ilmu bahasa), ilmu sharaf (pembahasan tentang perubahan suatu kata) dan hal-hal yang lain seperti ilmu i’raab ( pembahasan tentang kedudukan kata dalam suatu kalimat), penyebutan syair-syair arab sebagai penguat serta analisis terhadap masalah-maslah yang dibutuhkan dalam menafsirkan sebuah ayat seperti masalah ushuliyah (hal yang utama/pokok) serta ilmu kalam (akidah) yang dilandasi sanad-sanad hadits 4.Pada akhir tafsir ini, Syaikh membawakan satu pembahasan panjang (satu jilid buku) berupa penjelasan dan jawaban berkaitan dg ayat-2 qur’an yg disangk oleh sebagian pihak bertentangan satu dg yg lain.

BIOGRAFI SYAIKH SINQITHY

Nama dan Nasab
Dilahirkan pada tahun 1325 H (1905 M), dari seorang ibu sepupu ayahnya sendiri. Nama beliau Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syinqithi -rahimahullah-. Jk dirunut Kabilah beliau akan sampai ke daerah Himyar di Yaman. Tempat kelahiran beliau di Tanbah, desa di kota Syinqith, yang adl daerah di belahan timur dari Negara Islam yang skg terkenal dengan nama Mauritania, yaitu di benua Afrika yang berbatasan dengan Sinegal, Mali, dan al-Jazair (Algeria).

Semangat Menuntut Ilmu
Beliau menimba dasar-dasar ilmu agama dan ilmu al-Qur`an dari paman-paman beliau dari pihak ibunya, juga dari anak-anak mereka. Beliau hafal al-Qur`an pe usia 10 tahun di bawah didikan pamannya, Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Mukhtar Bin Ibrahim Bin Ahmad Nuh Al-Ja’ni. Semua bidang ilmu syar’i beliau pelajari dengan penuh semangat pada ulama-ulama dibidangnya.

Guru
Di antara guru beliau adalah para ulama terkenal di negeri itu yaitu dri kabilah jakniyun. Mereka antara lain:
-Syaikh Muhammad bin Shalih, yang popular dengan sebutan Ibnu Ahmad al-Afram.
-Syaikh Ahmad al-Afram bin Muhammad al-Mukhtar.
-Syaikh, al-’Allamah Ahma bin Umar.
-Pakar fikih terkemuka Muhammad an-Nikmat bin Zaidan.
-Pakar fikih terkemuka Ahmad bin Muud.
-Al-’Allamah, lautan ilmu dalam bidang ilmu Ahmad Faal bin Aaduh.

Murid
Murid beliau yg belajar dan menimba ilmu dri beliau banyak, termasuk :
1. Syaikh Abdul Aziz Bin Baz tetap menghadiri pelajaran beliau dalam tafsir di Masjid Nabawi ketika beliau sebagai kepala Universitas Islam.
2. Syaikh Atiyah Muhammad Salim, salah satu yang menyelesaikan tulisan Syaikh Muhammad Al-Amin (sepeninggal beliau) berjudul tafsir Adwa Al-Bayan.
3. Syaikh Bakr Bin Abdullah Abu Zaid.
4. Putranya, Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.
5. Putranya, Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.

Sebagian Karya Tulis Beliau
1. Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran 2. Adab Al-Bath wal Munatharah 3. Daf’u Iham Al-Idhtirab ‘an Ai Al-Kitab 4. Alfiyah fil Mantiq 5. Khalis Al-Jaman fi Zikr Ansab Bani Adnan 6. Man’u Jawaz Al-Majaz fil Munazzal lit Ta’abbud wal I’jaz 7. Mudzakhirah Ushul Al-Fiqih 8. Manhaj Ayat Al-Asma wa Sifat 9. Rajz fi Fura’ Madzhab Malik Yakhtas bil ‘Uqad min Al-Buya’ wa Ruhan 10. Syarah Maraqi As-Saud 11. Nadzm fil Fara’id Beberapa ceramah yang kemudian dicetak dan disebarluaskan dalam bentuk buku, seperti:

– Ayat ash-Shifaat.
– Hikmah at-Tasyri’.
– Al-Mashalih al-Mursalah.
– Haula Syubhah ar-Raqiq.

Pindah, Mengajar dan wafat di Madinah
Beliau safar dan kemudian menetap di Madinah, dan mengajar di Madinah hingga beliau wafat pada tanggal 17 Dzul Hijjah, tahun 1393 H (1973 M), semoga Allah senantiasa merahmatinya.

Kesan Syaikh Utsaimin pd Gurunya ini
“Dahulu ketika kami masih menjadi santri di Ma’had Al ‘Ilmi di Riyadh. Saat kami duduk-duduk di kelas, tiba-tiba ada seorang guru (syaikh) masuk menemuai kami. Maka ketika aku melihatnya, aku pun berkomentar:
“Orang badui ini dari Arab plosok (A’robi), tidak punya perbendaharaan ilmu, bajunya lusuh, tidak memiliki berkas-bekas kewibawaan, tidak mempedulikan penampilan lahiriah. Ia pun jatuh (kedudukannya) di mata kami.
Aku teringan Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di, aku pun membatin, ‘Aku tinggalkan Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di untuk duduk di depan orang badui ini?!’
Maka ketika Asy Syinqithi memulai pelajarannya, beliau pun menghujani kami dengan mutiara-mutiara dari faidah-faidah ilmunya, dari lautan ilmunya yg meluap. Maka kami menjadi tahu bahwa kami ini sedang berada di hadapan imam yg benar-benar ahli, termasuk ulama dan salah satu tokoh terkemukanya.
Kami memperoleh faidah dari ilmu, akhlak, zuhud, dan waro’nya.”
(Ad Durr Ats Tsamin fi Tarjamah Faqihil Ummah Al ‘Allamah Ibni ‘Utsaimin hal. 51-52)

Ada juga kisah perdebatan yang terjadi secara spontanitas antara Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dengan salah seorang ulama Al-Azhar yang mengajar di Ma’had Al-Ilmi di Riyadh, di hadapan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada waktu itu. Kisah ini menunjukkan kepribadian seorang ulama salafi yang cerdik, pemberani dan anti taqlid. Sekaligus menunjukkan bahwa para ulama ahlus sunnah kepentingannya adalah mencari dan membela kebenaran, meski kebenaran itu berseberangan dengan pendapat dan fatwa guru dan leluhurnya.
Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Amin bin Ahmad Asy-Syinqithi menceritakan kisah ini dalam kitabnya yang berjudul ‘Majalis Ma’a Fadhilah asy-Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna Asy-Syinqithi’. Penulis bercerita: Saya diberitahu oleh guru saya Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna asy-Syinqithi, beliau berkata:

“Ketika aku keluar dari kelas, sehabis mengajar materi tafsir, aku memasuki ruang istirahat para mudarris. Saat itu dua Syaikh; yang mulia Syaikh Muhammad bin Ibrahin bin Abdul Lathif Alu Asy-Syaikh dan saudaranya Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Ibrahim sedang berada diruang istirahat tersebut, yang pertama adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia dan yang kedua adalah DirekturUmum untuk Ma’ahid dan Kulliyaat. Ketika aku memasuki ruang istirahat para mudarris tiba-tiba seorang mudarris dari al-Azhar Mesir berkata, “Hai orang Syinqith aku dengar kamu menetapkan dalam pelajaran dikelas bahwa neraka itu abadi dan siksanya tidak akan berkesudahan?!”.

Aku jawab, “Ya.”

Dia berkata, “Bagaimana engkau rela untuk dirimu, hai orang Syinqith! Engkau mengajarkan kepada anak-anak kaum muslimin bahwa neraka itu abadi dan adzabnya tiada henti, sementara Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab keduanya menetapkan bahwa neraka itu akan padam dan dari dasarnya akan tumbuh sayur Jirjir?!!”.

Aku waktu itu masih baru saja meninggalkan suasana padang pasir Mauritania, maka aku marah jika dibuat marah, maka aku katakan, “Hai orang Mesir! Siapa yang mengabarkanmu bahwa Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani bernama Muhammad bin Abdul Wahhab?!! Sesungguhnya Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani namanya Muhammad bin Abdullah, yang dilahirkan di Makkah bukan dilahirkan di Huraimla, dikubur di Madinah bukan dikubur di Dir’iyyah, dia datang dengan membawa kitab namanya al-Qur’an, dan al-Qur’an itu aku bawa diantara dua lempengku. Dialah yang wajib diimani. Ketika aku amati ayat-ayatnya aku dapatkan bahwa seluruh ayat-ayatnya sepakat bahwa neraka itu abadi, dan adzabnya tidak akan pernah berhenti. Aku ajarkan hal itu kepada anak-anak kaum muslimin karena para wali mereka mempercayakan pengajarannya kepadaku. Kamu dengar itu wahai orang Mesir ?!!”.

Maka yang mulia Syaikh Mufti Muhammad bin Ibrahim berkata, “Apa yang kamu katakan?”

Maka yang mulia kemudian berkata, “Semoga Allah memperpanjang usiamu, darimu kami mengambil pelajaran.”

Syaikh Amin Asy-Syinqithi berkata, “Sesungguhnya saya mengatakan apa yang telah saya katakan setelah saya menelaah dalil-dalil yang digunakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menetapkan madzhab Syaikhnya.” Dan setelah Syaikh menyebut dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan Sunnah yang datang dalam tema ini dan setelah meluruskan semua syubhat yang dikemukakan oleh pengikut pendapat kedua yang sulit disebutkan dalam kesempatan yang singkat ini, dan mungkin merujuk kembali kepada kitabnya.

Maka berkatalah Syaikh Mufti: Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Alu Asy-Syaikh, “Hai Abdul Lathif (maksudnya saudaranya sendiri yang menjadi direktur umum lembaga-lembaga pendidikan dan fakultas), rujuk kepada yang benar (al-haqq) adalah lebih baik dari pada terus menerus dalam kebathilan. Dari sekarangtetapkan bahwasanya neraka adalah abadi (kekal) dan adzabnya tiada henti, dan bahwasanya dalil-dalil yang dimaksud itu adalah jurang neraka yang dikhususkan untuk ahli maksiat dari kalangan orang-orang mukmin.”

Para pembaca yang mulia, begitulah dada para ulama begitu lapang untuk meninggalkan kesalahan dan menerima kebenaran kapan saja kebenaran itu datang kepadanya. (Majalah Mingguan Al-Furqan, edisis 468, 16 Dzul Qa’dah 1328 H, halaman 34-35)

Perlu diketahui bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak pernah menyatakan kefanaan neraka, malah yang ada dia menyatakan kekekalan beberapa makhluk seperti surga, neraka dan arsy dan lain-lain. Dan dia mengatakan bahwa ini adalah aqidah kaum salaf, para imam serta seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sementara Ibnul Qayyim rahimahullah membahas pendapat kekekalan atau kefanaan neraka panjang lebar dalam kitabnya ‘Hadil Arwah Ila Biladil Afrah’ 43-80. Sedangkan dalam 4 kitabnya beliau meyakini kekalnya neraka, yaitu, ‘Ar-Ruh, Manzumah al-Kafiyah ash-Shafiyah, al-Wabil as-Shayyib, Muqaddimah Zadil Ma’ad. (silahkan baca Pengantar Syaikh al-Albani untuk kitab Raf’ul Atsar Li Ibthal al-Qaul bi Fana’ an-Nar, karya Syaikh Muhammad bin Amir ash-Shan’ani).

Sementara untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kami belum bisa memberi komentar. Insya Allah di lain waktu, namun menurut syaikh Mamduh, itu hanya dinisbatkan oleh sebagian orang tanpa ada buktinya. Seandainya pun benar, maka komentar Syaikh Syinqithi atas tuduhan guru Azhari itu sudah cukup. Wallahu A’lam.(Sumber : Dinukil dari Majalah Qiblati)

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s