Nasihat Salah SatuTokoh Mujahidin (Yang Di-“Teroris”-kan oleh Musuh-2 Islam) kepada Para Pemimpin Mujahidin


athiyatullah
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Ingatlah. Jangan sekali-kali salah seorang diantara kalian bertaqlid kepada seseorang dalam masalah agama; jika panutannya beriman, ia ikut beriman; dan jika panutannya kufur, ia ikut kufur. Sesungguhnya tidak ada tauladan pada manusia”.
Beliau juga berkata: “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menjadikan seseorang sebagai panutan, maka jadikanlah orang yang sudah mati sebagai panutan. Karena yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka (yang sudah mati itu, Red) adalah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang paling utama (generasi terbaik) dari umat ini, hati mareka paling bertaqwa, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit menyusahkan diri. Allah memilih mereka untuk menemani NabiNya, menegakkan agamaNya. Maka, fahamilahlah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka. Sesungguhnya mereka berada diatas jalan yang lurus.”

Nama tokoh mujahidin yang akan kita baca tulisannya kali ini adalah Athiyatullah Al-Libi alias Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim As-Syitiwi Al-Misrati adalah amir tanzhim Al-Qaeda wilayah Khurasan, yaitu Afghanistan dan Pakistan. Tokoh ini beberapa kali sering dimuat dalam media barat sebagai “General Manager”-nya Al Qaeda, dan tentu saja seperti biasa oleh musuh islam baik di luar maupun dalam negeri ataupun oleh orang-orang yang tidak mengetahui atau termakan dengan media-2 musuh Islam tersebut tokoh ini sering dianggap sebagai salah satu gembongnya teroris dunia. Biografi dari tokoh ini dapat dibaca di : http://www.arrahmah.com/read/2012/12/05/25136-eksklusif-biografi-syaikh-athiyatullah-al-libi-amir-tanzhim-al-qaeda-wilayah-afghanistan-dan-pakistan.html.
Dibawah ini adalah surat beliau kepada para pemimpin mujahidin yang ada :

بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa-lah hasil yang baik, dan tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zhalim, shalawat, salam dan keberkahan ditujukan kepada nabi kita Nabi Muhammad SAW, yang diutus dengan rahmat kepada seluruh alam, kepada keluarganya, kepada sahabatnya orang-orang yang berhati kukuh, baik dan suci, serta kepada orang-orang yang senantiasa mengikutinya dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Kepada saudara-saudara kami para pemimpin mujahidin – semoga Allah senantiasa menjaga kalian semua,
[Kepada saudara yang terhormat:………………………………………]
Dari saudara kalian, Athiyatullah semoga Allah mengampuninya, Assalamualaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kami berharap kepada Allah, semoga kalian semua senantiasa berada dalam kondisi yang baik, senantiasa bertambah taufiqnya dan senantiasa menambah bekal dengan ketakwaan, amma ba’du..
Allah berfirman:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Qs. Al Ashr: 1-3]
Juga firman-Nya:
..dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” [Qs. Al Maidah: 2]
Juga firman-Nya:
Katakanlah: “Hai ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”.” [Qs. Al Maidah: 68]
Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kepada saudara, bahwa Allah menganugerahkan kepada kita nikmatnya dengan tujuan supaya kita gunakan sebagai sarana untuk mentaati-Nya, dan agar kita dan kalian para mujahidin fi sabilillah menjadikannya sebagai sarana untuk menegakkan agama-Nya dan menjunjung tinggi kalimat-Nya pada saat sekarang ini, yang mana dunia beserta fitnahnya tengah menguasai mayoritas manusia, hawa nafsu dan peribadatan kepada thaghut-thaghut baik yang hidup maupun yang mati juga tengah menguasai manusia, maka segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat-Nya yang besar ini, kami juga memohon kepada Allah agar Ia memberikan kepada kita rasa syukur atas nikmat-Nya dan agar Ia membantu kita untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
Kemudian saya mengingatkan diri saya sendiri dan juga kalian tentang ujian yang telah Allah berikan kepada kita berupa tugas, ia adalah amanah, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan sesungguhnya (jika ia tidak dituntaskan – red.) maka ia akan menjadi kerugian dan penyesalan di hari kiamat kelak, kecuali bagi yang mengambil sesuai dengan haknya dan melaksanakannya dengan baik. Sungguh demi Allah, seorang hamba tidak akan sanggup untuk melaksanakannya kecuali dengan pertolongan dari Allah dan atas persetujuan dari-Nya, maka DIA akan menunjukinya dengan hidayah, menguatkannya, memberikannya rizki berupa ketaqwaan dan rasa takut baik disaat ia sendiri maupun disaat terang-terangan. Allah juga akan memberinya rezeki berupa keyakinan dan kekuatan hati, serta membantunya untuk mengemban tugas ini sebagai bentuk ibadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sebagai bentuk rendah diri dihadapan-Nya, dan jalan yang harus ditempuh menujunya adalah berusaha untuk merealisasikan ubudiyah kita kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, merendahkan diri dihadapan-Nya, beristiqamah dengan sekuat tenaga dalam ketaatan kepada-Nya baik secara zhahir maupun batin, bersikap tawadhu’, rendah diri dan takut terhadap kesalahan-kesalahan kita, sehingga kita dapat memperbanyak berdzikir, berdoa, qiyamul lail, puasa sunnah, bermajelis dengan orang-orang shalih dan ulama-ulama yang baik, mendekati mereka, menjadikan ahli akhirat sebagai teman dekat, menjauhi para pecinta dunia, orang yang sombong, riya’, suka berkhayal dan cetek agamanya.
Saudara saya yang tercinta, saya menuliskan untuk kalian tulisan ini, sebagai bentuk usaha saya untuk menerapkan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita, yaitu saling menasehati, saling mewasiati dengan kebaikan dan kesabaran, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan, ketaqwaan, menasehati kaum muslimin dan para pemimpin mereka, memerintahkan untuk berbuat baik dan mencegah dari berbuat kemungkaran, berjihad di jalan Allah, dan sebagai bentuk sumbangsih dalam keilmuan.
Tidak diragukan lagi bahwa kita semua berada di dalam bahtera yang sama, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Dari Nu’man bin Basyir Radiyallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah & orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas & sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata; Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tak mengganggu orang yang berada di atas kami. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dgn tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya.” [HR. Bukhari No.2313].
Dan tidak diragukan lagi bahwa perjalanan jihad umat ini membutuhkan kesungguhan dari kita untuk merealisasikannya dan mewujudkannya, karena sesungguhnya jalan-jalan yang menyimpang jumlahnya banyak, dan tidak ada yang dapat lolos darinya kecuali orang yang senantiasa berada di jalan Rabb yang Maha Agung dan berpegang teguh kepada-Nya baik secara zhahirnya maupun secara batinnya, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, Allah berfirman:
“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus
.” [Qs. Ali Imran: 101]
Maka tidak ada yang benar kecuali bagi siapa yang berpegang teguh kepada Allah saja, tidak ada yang selamat dari fitnah kecuali bagi orang berpegang teguh kapada Allah, tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang, tidak ada yang beruntung kecuali bagi orang yang berpegang teguh kepada Allah, ia terus berada di barisan Allah, Allah selalu menjadi wali bagi dirinya, ia selalu melaksanakan perintah-Nya, sebagai bentuk realisasi peribadatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka orang seperti inilah yang dapat membela kebenaran, dialah yang dapat menguatkan dan menjadi sebab (terwujudnya kemenangan), dia tidak takut akan kerugian, karena dia melakukan jual beli yang tidak ada kata rugi di dalamnya.
Allah berfirman:
Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Ali Imran: 126]
Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Al Anfal: 10]
Allah juga berfirman:
Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” [Qs. Hud: 88]
Allah juga berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. [Qs. Fathir: 29-30]
Saudaraku yang mulia…
Kita selalu berfikir tentang satu hal yang penting: apa keuntungan kita jika kita berhasil menang dari musuh-musuh kita, kita berhasil menaklukkan, meluluh lantakkan dan memberikan pukulan telak kepada mereka? Lalu kita berhasil menegakkan negara islam yang kita cita-citakan, dan kitalah orang-orang yang selamat dari peperangan ini, namun Allah justru marah kepada kita karena kemaksiatan dan dosa-dosa kita baik yang zhahir maupun yang batin, lalu nasib kita di akhirat justru masuk neraka, semoga Allah melindungi kita semua.
Bukankah Nabi SAW telah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan seorang yang fajir”?
Maka kesimpulan penting yang sekaligus menjadi nasehat dan wasiat adalah: kita harus menjadi orang-orang yang lurus dalam menapaki agama Allah, syariat-Nya dan hukum-hukum-Nya, baik secara zhahir maupun batin di dalam diri kita, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, kemudian kepada siapa saja yang berada di bawah kendali kita, mulai dari keluarga, pengikut dan masyarakat, semuanya haruslah melaksanakan perintah Allah. kita harus memberi karena Allah, melarang karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, berwala’ dan berteman karena Allah, memusuhi karena Allah, meridhai seseorang atau sesuatu karena Allah, dan membenci karena Allah pula.
Saudaraku yang mulia…
Maka darinya, sesungguhnya kita semua harus mengintensifkan dalam menyebarkan fiqh dan ilmu yang benar, bermanfaat dan dapat menyadarkan, juga menyebarkan ilmu Tsaqafah Islamiyah kepada para pengikut kita dan seluruh anggota jamaah kita, yaitu dengan menerangkan pelajaran, menyelenggarakan seminar-seminar keilmuan, membentuk lingkar-lingkar studi, mengirimkan para kader keilmuan untuk belajar lebih lanjut agar mereka menjadi para ulama di masa depan, membuka pengajian di masjid-masjid, mushalla-mushalla dan di tempat-tempat umum lainnya, menyebarkan buku-buku dan memarakkan gerakan membaca yang dapat menambah pengetahuan dan mendekati pakar-pakar keilmuan dan orang-orang saleh serta mengutamakan mereka.
Maka jika ditinjau secara umum, dengan ilmu yang bermanfaat, banyaknya ulama dan diiringi dengan banyaknya pelajar, maka ini adalah merupakan ‘sabuk pengaman’ yang menghindari jamaah dan umat dari kecelakaan.
Sedangkan jika ditinjau secara khusus, kita sebagai mujahidin ada ilmu tertentu yang harus kita kuasai dan kemudian kita sebarkan kepada anggota jamaah kita, yaitu ilmu hukum jihad (perang dan membunuh); apa saja yang boleh kita perangi dan kita bunuh, dan apa saja yang tidak diperbolehkan, harta mana saja yang boleh kita ambil dan yang tidak boleh kita ambil, apa saja tindakan yang diperbolehkan dan apa saja yang tidak diperbolehkan dalam berjihad.
Di sana terdapat prinsip-prinsip umum bersifat global yang harus diketahui oleh para mujahidin kemudian mereka harus memegangnya, untuk permasalahan detailnya kita serahkan kepada para ulama, karena tidak seluruh mujahidin dapat menjelaskan prinsip-prinsip ini secara detail.
Tidak diragukan lagi jika sebuah perjalanan jihad telah berlangsung dengan lama, maka ia akan disusupi dengan hal-hal yang menyimpang dari jihad, sehingga jihad tersebut membutuhkan banyak pengarahan, koreksi, evaluasi dan pengawasan. Begitu juga dengan tahapan jihad kita saat ini, sesungguhnya kita meneliti dan mendapati banyak kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para mujahidin, sebabnya pertama adalah kebodohan, sedangkan kedua adalah karena jihad ini dimasuki oleh kelompok atau gologan tertentu yang tidak pernah mendapatkan pendidikan Islam yang benar, golongan ini dipenuhi dengan orang-orang yang bodoh, perilakunya rusak, agamanya dangkal, lalu pakar-pakar keilmuan menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang fajir, namun mereka berjihad. Maka tidaklah mengeherankan jikalau kita merasa takut apabila gerakan jihad menyimpang, rusak atau musnah, kami memohon kepada Allah agar jihad ini selalu dalam keadaan yang selamat dan baik-baik saja.
Maka untuk itu, kami perlu memperhatikan dan merinci, kami katakan: sesungguhnya bagian-bagian ilmu yang wajib kita ketahui dan kita sebarkan di kalangan para mujahidin, lalu kita berusaha menjadikannya pemahaman yang dipraktekkan di lapangan dan menjadikannya pendapat yang diyakini dan dipegang oleh kita adalah: ILMU TENTANG BETAPA AGUNGNYA KEHORMATAN DARAH ORANG ISLAM, MENGHORMATI HAL INI DAN MENJADIKANNYA TEKAD DI DALAM HATI KITA. Karena sesungguhnya membunuh jiwa yang yang beriman adalah merupakan salah satu dosa besar, dan mungkin – menurut penelitian terhadap dalil-dalil syari – ia adalah dosa besar setelah kufur dan syirik kepada Allah Ta’ala, karena ancamannya sebagaimana yang tertera di dalam Al Kitab dan As Sunnah adalah ancaman terbesar, oleh karenanya maka orang yang terlibat dalam dosa ini, hampir-hampir ia menjadi orang yang tidak beruntung, sebagaimana yang tertera di dalam hadits Nabi Muhammad SAW:
لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا
Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tak menumpahkan darah haram tanpa alasan yang dihalalkan.” [HR. Bukhari No.6355].
Jangan dikata bahwa seluruh mujahidin mengetahui hal ini, karena kenyataan berbicara lain, apalagi kabilah-kabilah dan mayoritas orang-orang Afghanistan dan Pakistan, mayoritas mereka hanya memahami cara membunuh, mendendam, meremehkan kehormatan darah, mereka mudah sekali melakukannya jika sedang terlibat pertempuran, mereka juga selalu menimbulkan kedengkian. Dan tidak ada yang benar-benar mematuhi perintah Allah serta berpegang teguh dengannya dengan benar dan jujur, kecuali orang-orang yang memiliki basis pemahaman agama yang kuat dan berusaha merealisasikan tauhid, dan jumlah mereka sangat sedikit.
Kesimpulannya adalah, sesungguhnya kita wajib menyebarkan ilmu ini (ilmu tentang bagaimana menghormati darah orang Islam serta menghormati hak-hak orang islam, baik darahnya, hartanya dan kehormatannya) dan menjadikannya terealisasi di kalangan para mujahidin. Ilmu ini disebarkan dengan menggunakan seluruh perantara media yang ada, dan kita sebagai para pemimpin wajib mengontrol para pengikutnya, mengevaluasi mereka, dan menegakkan syariat bagi diri kita, yaitu dengan menjalani hukum Allah dan beristiqamah dalam mentaati-Nya, serta dengan menerapkan hukuman kepada siapa saja yang melanggar.
Karena jika kita tidak melakukan hal itu, kita meremehkannya, kita justru condong mengikuti keinginan masyarakat umum, kita justru berbasa-basi di antara kita, para pemimpin justru lemah untuk mengevaluasi para pengikutnya, lemah dalam memberikan perintah dan larangan terhadap mereka, tidak mampu membawa mereka untuk mentaati Allah dan berlaku istiqamah terhadap syariat-Nya, maka sesungguhnya kita telah gagal, kita sedang berjalan menuju kehancuran, wal iyaadzu billah.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari kemurkaan-Mu, sesungguhnya saya bersaksi di hadapan kalian, bahwa saya, kepemimpinanku dan saudara-saudaraku berlepas diri dari segala perilaku meyimpang dari syariat, kami hanya ingin berwala’ dan mendekati serta meridhai siapa saja yang menjadi wali Allah, dia mentaati perintah Allah, tunduk kepada-Nya, hatinya lembut, suka bertaubat, senang bersyukur, dan mudah berdzikir, dan kami membenci, menjauhi dan menghindari siapa saja yang memiliki sifat yang berlawanan dari yang telah disebutkan di atas apapun yang terjadi.
Dan hal yang masih dalam pembahasan ini yang perlu kita ketengahkan adalah; berhati-hati dalam menerangkan fiqh operasi bom syahid dan operasi-operasi lainnya yang bersinggungan dengan apa yang para fuqaha sebut sebagai “tatarrus” (orang kafir/musuh yang berlindung di balik kaum muslimin/ menjadikan kaum muslimin sebagai pagar betis atau tameng bagi mereka), juga berhati-hati dalam menerangkan batasan-batasannya, aturan-aturannya. Kita menerangkannya kepada anggota-anggota jamaah kita, lalu kita menerangkannya secara khusus kepada dua jenis anggota, yang pertama kepada komando militer pelaksana (pihak yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan eksekusi operasi) dan kepada para pelaku dari mujahidin, yaitu mereka yang disebut “Fedayeen” (pasukan berani mati/ pasukan istisyhadiyah), karena saya telah melihat beberapa kecerobohan yang dilakukan oleh sejumlah orang dari pasukan berani mati ini, mereka bodoh dan tidak peduli dengan manusia.
Terkadang si pasukan berani mati ini adalah seorang bocah yang belum pernah menerima ilmu, pengetahuan dan pendidikan agama yang memadai, dan yang paling membahayakan adalah terkadang dia telah dicekoki – wal iyadzu billah – suatu doktrin yang menyimpang dari agama, kemudian dia menerimanya dan berangkat beraksi dengan berdasarkan doktrin sesat tersebut. Contoh dari doktrin tersebut tersebut adalah ada sebagian mujahidin yang mengatakan bahwa mereka (orang-orang awam) yang berada di jalanan adalah orang-orang munafik, mereka berdiam diri dari melakukan kebenaran dan membela para mujahidin, dan mereka semua adalah berada di kubu thaghut dan orang-orang murtad, mereka senang berada bersama orang-orang murtad, dan lain-lain, maka dari itu jangan pedulikan jika ada di antara mereka yang turut terbunuh, kalian tidak akan dikenai tanggung jawab terhadap darah mereka!! MAKA TIDAK DIRAGUKAN LAGI INI ADALAH MUTLAK SEBUAH KESALAHAN BESAR, KESESATAN YANG NYATA DAN JALAN YANG JELAS-JELAS RUSAK.
Karena sesungguhnya orang-orang awam yang berada di jalanan, di pasar dan di tempat-tempat umum di negara yang berpenduduk Islam yang dikuasai oleh pemerintah murtad, mereka dihukumi dengan keislaman merek berdasarkan jumlah dan asal-usul sejarah mereka, kemudian bersama mereka terdapat orang-orang yang shalih dan orang-orang yang tidak. Memang benar, terkadang di antara mereka terdapat orang-orang kafir lagi murtad, yang diketahui dari ciri-cirinya, maka darahnya adalah halal untuk ditumpahkan, namun jika dihukumi secara keseluruhan maka orang-orang awam di negeri kita dan di negeri-negeri yang berpenduduk kaum muslimin adalah orang Islam secara mutlak, dengan didasari dalil dari Al Kitab dan As Sunnah, dari penjelasan dan fiqh madzhab kaum muslimin, dan terdapat pembahasan yang lebih rinci dalam permasalahan ini di beberapa buku dan makalah. Maka barangsiapa yang berkata selain dari itu, ia telah berlebih-lebihan dan sesat serta menyimpang dari pemahaman seluruh ahli ilmu.
Maka orang-orang awam kaum muslimin yang di dalamnya ada orang yang fasik, pendosa, orang yang meremehkan syariat dan orang yang tidak pergi berjihad atau lainnya, maka siapa saja yang mensyariatkan boleh untuk membunuh mereka dengan sengaja dan tidak peduli siapa saja yang terbunuh, dengan dalih yang sebagaimana telah kita sebutkan di atas, ia adalah orang yang sesat, keluar dari batasan keilmuan dan fiqh, ia mengerjakan perbuatan yang haram, ia menantang kemarahan, kemurkaan dan hukuman Allah, ia sedang bergegas menuju kegagalan yang akan Allah timpakan kepadanya, dan musuh akan segera menguasainya!
Saudaraku yang mulia, jika salah satu dari hal itu telah menimpa sebagian mujahidin karena mereka mendengarnya dari kalian, maka saya mengharapkan kepada kalian untuk memberikan mereka terapi dengan ilmu syariat, karena ini adalah cara yang wajib kalian lakukan sesegera mungkin, kalian harus mencegah mereka sesegera mungkin, karena jika tidak, maka saya memperingatkan kepada kalian konsekuensi dari hal itu dan akibat yang buruk yang akan menimpa, maka bersegeralah untuk melakukan pembenahan, jadikanlah ia prioritas utama bagi kalian, semoga Allah memperbaiki urusan kalian dan menolong kalian : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Qs. Muhammad: 7]
Kemudian jika ditinjau dari standar keagamaan dan keduniaan, bagaimana mungkin program politik revolusi dapat berhasil jika para pelakunya dan para pemimpinnya tidak berusaha untuk menarik simpati masyarakat (orang-orang awam, masyarakat dan rakyat) tidak menarik dukungan mereka, tidak bersatu padu dengan mereka dan tidak menggandeng mereka. Bagaimana mungkin para pelaku revolusi berharap jika program revolusi mereka berhasil jika orang-orang membenci mereka dan ketakutan terhadap mereka? Bagaimana bisa jika yang hanya program buatan manusia dapat berhasil jika orang-orang berkeyakinan dan berkata tentang mereka: “kamu hanya ingin menjadi penguasa di muka bumi dan kamu tidak ingin menjadi orang yang berbuat ishlah”? Karena banyak orang yang berkata demikian, dan keyakinan ini mulai merebak di kalangan masyarakat, dan mereka percaya bahwa para mujahidin telah berbuat demikian, dan mereka tidak mendapati bahwa para pelaku revolusi berusaha menanggalkan kesalahannya, mereka tidak memiliki rasa kasihan, kasih sayang dan perilaku yang baik!
Bagaimana bisa, padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia dan Allah berfirman kepada kepadanya:
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” [Qs. Ali Imran: 159]
Maka janganlah bersikap canggung jika pimpinan mujahidin mengajarkan kepada para pengikutnya dan mendidik mereka – sebelumnya mereka haruslah terkondisikan untuk menerimanya – untuk memiliki sikap belas kasihan terhadap orang lain, ramah terhadap mereka, mempermudah urusan mereka, bersabar terhadap kekurangan, kesalahan dan apapun yang ada pada diri mereka dari kecacatan-kecacatan lainnya. Para mujahidin haruslah berusaha untuk membenahi kondisi mereka dengan selalu bersikap rendah hati, ramah dan perlahan-lahan, tidak teburu-buru dalam menjudge mereka, membunuh dan memiliki rasa dendam kepada mereka.
Sesungguhnya apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengutus sebuah sariyah, maka beliau selalu mewasiatkan kepada komandan pasukan – sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadist – : “permudahlah, jangan mempersulit, berilah kabar gembira, dan janganlah membuat orang lari”. Maka apakah kita tidak merenungi hal itu dan memperdalam fiqhnya dan kemudian mengamalkannya?!
Selanjutnya: SESUNGGUHNYA KITA WAJIB MENJAGA PARA MUJAHIDIN DAN MENGHINDARKAN MEREKA DARI PENYAKIT GHULUW DALAM HAL AGAMA, KHUSUSNYA DALAM MASALAH MENGHUKUMI KAFIR SESEORANG (PERMASALAHAN TAKFIR), karena sesungguhnya ghuluw dalam hal ini adalah musibah yang besar, dan ia adalah penyakit paling berbahaya yang dapat menimpa para mujahidin dan menguji mereka, dan terdapat pengalaman yang hanya dapat diingat oleh orang-orang yang mengambil pelajaran. Secara umum sikap ghuluw ini adalah penyakit yang membinasakan dan berbahaya bagi seluruh agama, sebagaimana yang disebutkan oleh nabi dalam hadits:
أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ؛ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Wahai masyarakat, jauhilah oleh kalian sikap ekstrim dalam beragama, karena hal yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah sikap ekstrim dalam beragama.” [Imam Ahmad no. 3248, An-Nasai no. 3057, Ibnu Hibban no. 3871, Abu Ya’la no. 2427, Al-Baihaqi no. 9534] dan dikatakan “menghancurkan orang-orang yang berlebih-lebihan” ini diriwayatkan oleh tiga perawi, [HR Muslim]. Maka yang dimaksud adalah sikap ghuluw dalam hal agama secara mutlak, sedangkan jika bersikap ghuluw dalam menghukumi kafir kepada kaum muslimin, terlibat dalam hal ini dan meremehkan bahaya yang ditimbulkan olehnya, maka ini lebih mencelakakan, bahaya dan membinasakan, semoga Allah menghindarkan kita semua darinya.
Kami mulai mendengar ada sebagian mujahidin yang terlibat dalam mengkafirkan mujahidin lainnya atau mengkafirkan orang-orang awam, maka kita betul-betul wajib menghindari hal itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mendidik para mujahidin dengan manhaj yang benar dalam memahamkan persoalan ini, saya sendiri memiliki pengalaman dalam persoalan ini, dan saya ingin menunjukkan kepada kalian beberapa darinya, semoga bermanfaat dengan izin Allah:
Mendidik saudara-saudara kita agar mereka memperhatikan aib-aib diri mereka dan sibuk untuk memperbaikinya serta mensucikan diri, menjauhi untuk memperhatikan aib-aib orang lain, serta mendidik mereka untuk selalu meminta kebaikan dan keselamatan dalam agama, menyadarkan akan bahaya berfatwa dalam hal agama tanpa menggunakan ilmu. Yang paling berbahaya adalah mengkafirkan orang Islam tanpa didasari ilmu yang layak dan tanpa disertai kemampuan dalam melakukannya, mereka harus menyerahkannya kepada para ulama dan fuqaha yang memiliki kapabilitas di bidangnya dan terkenal dengan kebaikan agamanya dan selalu bersikap hati-hati. Maka orang-orang awam (selain ulama) dilarang terlibat dalam permasalahan ini secara mutlak, sedangkan kepada para pemimpin hendaknya memarahi para mujahidin jika mendengar mereka berbicara tentang kekafiran si fulan dan si fulan, yang hukum kekafirannya masih berada di dalam ranah ijtihadi, dan agar para pemimpin melarang mereka untuk membicarakannya.
Jika kita telah melakukan hal ini, maka bergembiralah kalian dengan keberhasilan yang akan segera diraih, insya Allah.
Bacakanlah kepada para mujahidin hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW:
طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ
Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain”. [Ibnu Hajar berkata dalam Bulughul Maram: HR Al Bazzar, hadits hasan].
Dan hadits Nabi Muhammad SAW:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan & tangannya.” [HR. Muslim No.58]
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللَّهِ
Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya di jalan Allah.” [Tirmidizi: hadits no. 1621, hadist hasan shahih]
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa apa yang dilarang oleh Allah”. [HR Bukhari]
Dari Sahl bin Mu’adz, dari ayahnya iya berkata : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami pernah berperang bersama Nabi- Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dalam perang ini dan itu. Lalu manusia mempersempit jalanan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang seraya mengumumkan bahwa barangsiapa yang mendempetkan rumah atau ia menutup jalan (untuk perumahan), maka tidak ada jihad baginya.” [HR. Abudaud No.2260] dalam beberapa riwayat disebutkan: “atau menyiksa seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya”.
Selanjutnya adalah: sesungguhnya wajib bagi pimpinan mujahidin untuk melakukan dengan sungguh-sungguh dan bersabar dalam menjaga diri mereka beserta para pengikut mereka dari segala hama dan penyakit yang dapat menimpa mereka, dan itu banyak, di antaranya adalah: ‘ujub, sombong, arogan dan merendahkan orang lain serta menzhalimi mereka, karena ini adalah penyakit yang merusak keimanan dan menyebabkan kebinasaan, semoga Allah menghindarkan kita darinya.
Sebabnya adalah, jika seorang mujahid tidak membentengi dirinya dengan fiqh dan pengetahuan yang bermanfaat, maka seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya sumbangsihnya dalam jihad, seiring dengan seringnya dia mendapatkan dan membahas kekuatan, kemenangan dan ketenaran, seiring dengan banyaknya cemoohan yang ia terima dari orang-orang karena ia mencoba untuk menjadi putra-putra umat ini, dan seiring banyaknya rintangan dari orang-orang yang memusuhinya karena ia menempuh jalan jihad, maka ia akan mudah terjangkit oleh penyakit dan setan mudah untuk menembus pertahanan keimanannya dengan trik-triknya, maka setan berhasil memalingkannya dan si mujahid tersebut mendapati khayalan yang manis dalam perjalanannya karena ia tidak panjang akal, sehingga akhirnya ia terjerumus ke dalam keburukan yang besar, setanpun berhasil merusak jihadnya, rasul telah mengabarkan kepada kita dalam haditsnya :
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya setan mengintai untuk menghalang-halangi anak Adam di seluruh jalannya, ia menghalanginya di jalan Islam, lalu berkata; apakah engkau masuk Islam & meninggalkan agamamu, agama bapakmu & bapaknya bapakmu? Kemudian orang tersebut menentangnya & masuk Islam. Kemudian ia menghalanginya di jalan Hijrah, lalu berkata; apakah engkau akan berhijrah & meninggalkan bumi & langitmu? -sesungguhnya permisalan orang yang berhijrah seperti kuda yang dikendalikan tali kusir-, lalu orang tersebut menentangnya, maka iapun berhijrah. Kemudian setan duduk menantinya di jalan Jihad, lalu berkata; apakah engkau akan berjihad -yaitu berjuang dengan jiwa & harta- lalu engkau berperang, & terbunuh sehingga isterimu akan dinikahi orang lain, & hartamu dibagi-bagi? Lalu orang tersebut menentangnya, maka iapun berjihad. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa melakukan hal tersebut, maka menjadi hak atas Allah ‘azza wa jalla untuk memasukkannya ke Surga, & barang siapa yang terbunuh maka menjadi hak atas Allah ‘azza wa jalla untuk memasukkannya ke Surga, & jika ia tenggelam maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke Surga, atau ia dijatuhkan kendaraannya maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga.” [HR. Nasai No.3083]
Sebabnya adalah sebagaimana yang telah saya katakan, sedikitnya pemahaman terhadap agama, maka obatnya adalah memahami agama, sadar dan berusaha mendidik dirinya dengan pendidikan Islam yang benar, merawat dirinya dengan mensucikan hati, kemudian menyerahkan pengawasan kepada orang-orang shalih dari para pemimpin dan orang-orang yang wara’, yang temperamen dan sikapnya selalu stabil, yaitu orang-orang yang sabar, toleran dan selalu memotivasi, yaitu memotivasi dirinya dengan Allah, dengan tidak mengharapkan selain dari-Nya balasan dan ucapan terima kasih, selalu memotivasi dirinya untuk berbelas kasihan terhadap kaumnya, dan mengasihi makhluk-Nya yang dikasihi oleh Sang Maha Pengasih.
Allah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, Padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?“. Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [Qs. Al Hujurat: 15-18]
Dalam ayat yang mulia ini, Allah menentukan sifat keimanan yang ada pada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan menguras harta dan jiwa mereka di jalan Allah Ta’ala saja. Kemudian Allah mencela orang yang diajak bicara dalam ayat ini (mereka adalah sekelompok orang arab) karena mereka berbangga-bangga dengan klaim mereka yang mengabarkan bahwa mereka beriman padahal di dalam diri mereka tidak terdapat sifat-sifat yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya, maka Allah menampakkan aib mereka karena mereka merasa telah memberikan nikmat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dengan keislaman mereka, lalu Allah mengabarkan kepada mereka bahwa yang memberikan nikmat adalah Allah semata.
Maka kejelekan dari berbangga-bangga dengan klaim (telah beriman) dan dosa dari mengaku telah memberikan kenikmatan kepada orang-orang beriman (karena keimanan mereka) setelah Allah menyebutkan sifat orang yang benar-benar beriman, adalah merupakan sebuah isyarat akan bahaya dari penyakit ini, karena ia dapat menafikan keimanan seseorang dan menjadikan dirinya kehilangan sifat orang yang beriman, wallahu a’lam.
Selanjutnya: kepada pimpinan mujahidin harus merapatkan barisan para mujahidin dan menjadikan hari mereka terpaut satu sama lain, serta menyatukan pendapat mereka, sehingga mereka saling mencintai satu sama lain, dengan cara-cara yang disyariatkan baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, dan menjadikan mereka seperti yang Nabi sabdakan :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, & menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) & panas (turut merasakan sakitnya)” [HR. Muslim No.4685]
Dan Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [Qs. Ash Shaf: 4]
Allah mencintai hal itu, meridhainya dan memerintahkan kita untuk melakukannya, maka kita wajib berusaha untuk mewujudkannya, yaitu dengan memperbanyak penyebab yang dapat menjadikan di antara orang-orang yang beriman timbul rasa saling mencintai, dan kita juga harus memutus penyebab yang berlawanan darinya, yaitu penyebab timbulnya perselisihan, pengelompokan, perpecahan, salin membenci, saling menjauhi dan saling membelakangi.
Karena syariat yang bersih telah menunjukkan kepada kita dengan jumlah yang banyak, tentang sebab-sebab timbulnya rasa saling mencintai, syariat juga telah memperingatkan kepada kita akan sebab-sebab yang dapat menimbulkan perpecahan, saling membelakangi, permusuhan, kebencian di antara orang-orang yang beriman, baik secara rinci maupun secara umum dan global. Ini adalah salah satu kelebihan dari syariat islam yang mulia dan rabbani, dan pembahasan dalam hal ini sangat panjang, maka pelajarilah hal ini dari buku-buku para ahli ilmu, seperti buku yang membahas tentang perilaku, akhlaq, keutamaan-keutamaan dan buku-buku hadits beserta syarahnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling bersaing; janganlah saling mendengki; janganlah saling memarahi; & janganlah saling membelakangi (memusuhi)! Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [HR. Muslim No.4646]
Juga sabda beliau:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ أُسَامَةَ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ دَاوُدَ وَزَادَ وَنَقَصَ وَمِمَّا زَادَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ
Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, & saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya & jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dgn muslim yang lainnya adalah bersaudara, tak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya, Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali). Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, & kehormatannya”. Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Usamah yaitu Ibnu Zaid Bahwa dia mendengar Abu Sa’id -budak- dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah bersabda : -kemudian perawi menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Daud, dengan sedikit penambahan & pengurangan. Diantara tambahannya adalah; “Sesungguhnya Allah tak melihat kepada tubuh & rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian”. (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau). [HR. Muslim No.4650]
Maka alhasil, inilah persoalan yang para pimpinan mujahidin harus berhati-hati di dalamnya.
Tidak mengapa jika saya menyebutkan beberapa contoh kesalahan yang kita saksikan telah dilakukan oleh para mujahidin di sini, hingga dapat lebih diperhatikan dimana tepatnya letak kesalahan tersebut dan dapat segera dibenahi, karena adanya ilmu itu adalah untuk diamalkan:
Sesungguhnya ada sebagian pemimpin yang meridhai anak buahnya dan pasukannya yang mencela kehormatan orang lain dari para pemimpin dan para mujahidin, pemimpin ini tidak melarang mereka, bahkan mungkin mereka memotivasi dan menyemangati mereka untuk melakukannya, karena sebab permusuhan atau kedengkian terhadap pemimpin lainnya atau juga karena ia ingin menjatuhkannya, atau karena kebenciannya kepadanya, maka ini adalah penyakit yang terdapat dalam diri manusia, yang masih dapat diobati. Bagi para pemimpin yang posisinya lebih tinggi darinya, maka ia wajib mendekati setiap person yang berada di bawah kewenangannya, ia harus mengobati mereka, mengarahkan dan mendidik mereka. Dan bagi ketua yang mendengar ada anak buahnya yang berkata tentang (menjelek-jelekkan) orang lain dari mujahidin atau para pemimpin mujahidin, maka ia wajib melarang mereka, memperingatkan mereka tentang dosa ghibah, namimah, dan mencela kehormatan seorang muslim, dan memperingatkan mereka tentang dosa dari segala kesalahan yang dilakukan oleh lisan beserta banyak berbicara. Bagaimana bisa seorang mujahid melakukan perbuatan seperti itu tanpa didasari pemahaman yang benar terhadap agamanya serta tanpa didasari dengan ketaqwaan dan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala?!
Banyak dari kelompok-kelompok mujahidin atau grup-grupnya yang membanggakan kelompoknya beserta pemimpinnya, amalan-amalannya, mereka merasa angkuh terhadap kelompok lainnya lalu mereka mencelanya dengan berkata : “Sesungguhnya mereka tidak memiliki kesibukan, mereka tidak mengerjakan apapun, sedangkan kami melakukan ini dan itu, kami melakukannya bak pahlawan”. Maka ini termasuk perbuatan yang timbul dari berbagai penyakit hati, kami memohon kepada Allah kondisi yang baik dan keselamatan. Maka wajib bagi para pemimpin jihad untuk membenahi semua itu dengan memberikan contoh sikap yang rendah hati, ikhlash dan takut kepada su’ul khatimah, maka cukuplah Allah sebagai pelindung kami, karena DIA adalah sebaik-baik pelindung.
Bersikap buruk sangka, apakah kalian tahu apa itu sikap buruk sangka? Karena hal ini banyak menjangkiti para mujahidin, sehingga berdampak kepada mencela dan menuduh satu sama lain, fulan menuduh si fulan karena ingin berbuat seperti ini dan seperti ini, dia menafsirkan perbuatan atau perkataan saudaranya dengan pandangan duniawi, berkisar antara konflik kepentingan kekuasaan, saling menjegal demi jabatan, fulan akhirnya menuduh dia telah bekerjasama dengan pihak intelejen musuh, contoh dari peristiwa semacam ini sangat banyak dan tidak terhitung, maka ini adalah bahaya yang besar, para pemimpin mujahidin wajib menjadi contoh bagi anak buahnya dalam bersikap baik sangka, mereka harus mengajarkan kepada anak buahnya bagaimana berperilaku yang mulia ini.
Maka kami memohon kepada Allah agar memberikan rezeki kepada kita semua berupa keimanan yang sempurna, dan agar Allah memberikan kita kesempatan untuk melakukan amal saleh, agar Allah menjaga amal jihad kita, hijrah kita, agar Allah melengkapinya dengan karunia-Nya, anugerah-Nya dan karamah-Nya, karena sesungguhnya Allah adalah pemiliki keutamaan dan kenikmatan, tidak ada Ilah yang patut disembah selain-Nya, dan tidak ada Rabb selain-Nya.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya dan seluruh sahabat-sahabatnya.
Wassalamualaikum warahmatullah, wabarakatuh.
Dzulhijjah 1431 H
assahab
YAYASAN MEDIA AS-SAHAB
Follow akun twitter Syabkah Anshar Mujahidin : @as_ansar2

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s