Esensi Pendidikan Jihad: Tanpa Dididik, Mujahid Bisa Jadi Pembegal


image

image
Pendidikan jihad merupakan bagian dari ranah pendidikan Islami. Karena pendidikan Islami bukan hanya fokus dalam aspek intelektual saja. Akan tetapi seperti yang sudah dijelaskan oleh salah seorang ‘jeger’ (jagoan, bahasa sunda) Pendidikan Islam (mantan guru besar Pendidikan Islam UIN Bandung) Ahmad Tafsir, “Berdasarkan definisi itu maka teori-teori pendidikan Islami sekurang-kurangnya haruslah membahas hal-hal berikut; Pendidikan aspek jasmani, pendidikan aspek akal dan pendidikan aspek ruhani.”

Dengan adanya pernyataan beliau, maka bisa dipastikan bahwa pendidikan jihad merupakan bagian dari pendidikan Islami yang fundamental. Terkandung di dalamnya aspek akal, ruhani dan jasmani. Dengan ungkapan lain bahwa bagian dari pendidikan Islami adalah pendidikan jihad. Hal ini dikarenakan beberapa hal;

Pertama, Jihad merupakan bagian dari ajaran Allah dan RasulNya atau bahkan merupakan bagian dari perintah Allah dan rasulNya. Kedua, Pendidikan Islami harus bisa memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih masyarakat muslim. Dan pada hari ini masyarakat muslim sedang membutuhkan pendidikan yang berdasarkan Islam dan dalam rangka menghidupkan kembali ruhul jihad. Ketiga, Pendidikan Islami merupakan pendidikan yang integral, komprehensif dan proporsional. Pendidikan Islami mengembangkan seseorang dari sisi ruhani, akal dan jasmaninya.

Pendidikan jihad merupakan tahapan yang pernah dilalui oleh Rasulullah saw. Salah seorang intelektual Islam, Ali Juraisyah menyatakan, “Dengan melihat sekilas perjalanan manusia terbaik dan suri tauladan manusia, Muhammad saw maka kita mendapatkan bahwa dalam berdakwahnya beliau menempuh tiga jalan. Atau dalam ungkapan lain melakukan 3 tahapan; 1) menyebarkan dakwah, 2) melakukan tarbiyah dan pembentukan (kaderisasi), 3) melakukan konfrontasi fisik (jihad) sehingga meraih kemenangan….Pendidikan militer atau Pendidikan Militer Islam (atau tarbiyah jihadiyah-pen) merupakan bagian dari pilar pendidikan yang benar (at Tarbiyah as Shahihah)…jika kita telah mengetahui bahwa seorang muslim mempunyai akal, ruh dan jasad. Maka dalam konsep pendidikan yang benar adalah pendidikan dimulai dari akal kemudian melewati ruh dan berakhir di jasad. Dengan demikian merupakan perkara yang penting seorang muslim siap melakukan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya serta memahami urgensitas jihad dan komitmennya terhadap umat Islam.”

Pendidikan jihad adalah menyiapkan individu dan umat untuk siap melakukan jihad. Kata-kata menyiapkan tentunya menuntut adanya pendidikan lain, seperti pendidikan ruhani yang bisa menjadikan mereka merasa tinggi (tidak rendah diri) dalam kehidupan dunia, pendidikan pemikiran yang menjadikan mereka mengetahui posisi jihad dalam Islam dan mengetahui siapa musuh dan siapa lawan, pendidikan jiwa yang menjadikan mereka siap untuk mengorbankan harta dan jiwa serta waktu di jalan Allah, pendidikan jasmani yang menjadikan mereka mempunyai fisik kuat yang mampu memikul beban jihad dalam medan pertempuran, pendidikan sosial yang bisa menjadikan mereka bisa berinteraksi, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan komponen masyarakat lain. Dan satu lagi yang perlu ditambahkan dalam pendidikan jihad adalah pendidikan akhlaq terlebih antar sesama mujahid yang sama-sama mengusung panji-panji jihad. Dan bagian materi terpenting dalam pendidikan akhlaq adalah fiqhul khilaf.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa pendidikan jihad bukan berarti tidak memperhitungkan aspek-aspek pendidikan lainnya. Bukan berarti fokus dalam pendidikan kelaskaran dan urusan perang, bukan berarti meremehkan pendidikan spiritual, intelektual dan politik. Yang dimaksud dengan pendidikan jihad adalah menanamkan ruhul jihad baik dalam skala individual maupun sosial dan menjadikan ruhul jihad sebagai pengikat di antara sektor-sektor pendidikan lainnya. Maksud pendidikan jihad adalah mencetak manusia yang siap hidup dalam rangka memajukan Islam. Manusia yang mengetahui betapa besar perannya dalam Islam, manusia yang hatinya senantiasa terpaut dengan Allah dan hari akhir, manusia yang tidak hidup untuk dunia dengan mendahulukan kepentingan akhirat dalam segenap aktifitasnya.

Pendidikan jihad adalah pendidikan yang menjadikan manusia apapun spesialisasinya sosok yang siap berjuang di jalan Allah, menundukan spesialisasinya dalam rangka kepentingan jihad di jalan Allah. Dengan demikian seorang mujahid bisa terdiri dari seorang ilmuwan, dokter, penulis, arsitek, dosen dan seterusnya. Demikianlah jihad mempunyai ciri khas dan merupakan bagian dari mereka yang tidak bisa dipisahkan.

Sementara Iyad Abdul Hamid ‘Aql menyatakan, “Pendidikan jihad adalah salah satu sektor dari pendidikan islami yang mengkhususkan memberikan skill dalam aspek jasmani dan ruhani sehingga mereka mampu menghalau musuh dengan kekuatan senjata dalam rangka meninggikan kalimat Allah.”
Mujahid Butuh Pendidikan
Kembali kepada sub judul di atas, barang kali judul tersebut terasa sangat pahit dan pedas. Namun tidak dipungkiri bahwa pendidikan jihad dan komponen-komponen pendidikan pendukung lainnya merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter seorang hamba terlebih bagi seorang mujahid.

Selain itu, penulis juga terinspirasi oleh pernyataan ‘emas’ Syaikh Abdullah Azzam dalam bukunya at Tarbiyah al Jihadiyah wal Bina yang mengindikasikan betapa pentingnya pendidikan bagi mujahid. Beliau menyatakan, “Seseorang yang memiliki senjata namun tidak memiliki taqwa maka dia bisa merusak negri. Kami tidak ingin senjata tanpa taqwa. Dari sini, merupakan suatu keharusan akan adanya pendidikan bagi mujahid. Karena seorang mujahid jika membawa senjata sedangkan dia tidak terdidik akan berubah menjadi seorang penyamun (perompak). Perompak yang membegal di jalan. Jika ada pengendara unta dipksa bayar 100 rupe dan jika ada mobil lewat dipaksa bayar 100 rupe.”

Dalam kesempatan lain -sebagaimana yang dinukil oleh Iyad Abdul Hamid ‘Aql dan Shafwat Samir al Buhairi – Abdullah Azzam menyatakan, “Pendidikan merupakan skala prioritas sebelum seseorang memegang senjata. Kalau tanpa pendidikan maka orang-orang yang membawa senjata itu bagaikan gerombolan bersenjata yang mengancam keamanan warga serta menakutkan mereka siang dan malam. Hal ini bisa anda bandingkan antara komandan yang terdidik dengan komandan yang tidak terdidik yang masing-masing menguasai satu wilayah. Akan ditemukan satu wilayah dalam keadaan tenang dan nyaman sementara wilayah yang lainnya justru mencekam dan banyak pengaduan dari masyarakat.”

Salah seorang ulama Saudi Sayyid Abdul Ghani dalam bukunya Haqiqah al Wala wal Bara’ Fi Mu’taqad Ahli as Sunnah wa al Jama’ah, hlm. 616 menjelaskan tentang urgensitas pendidikan jihad, “Ajakan kepada setiap pendidik, ajakan kepada setiap kalangan yang sedang menyiapkan dan mendidik generasi muda, ajakan kepada setiap kalangan yang ikhlas dalam rangka menyelamatkan umat ini dan menghilangkan kabut duka pada umat ini. Seruan ini ditujukan kepada setiap yang menginginkan kemuliaan atas umat ini setelah bertahun-tahun lamanya berada dalam kehinaan dan kekerdilan, kepada kalangan yang ingin mengangkat umat ini dari lumpur (kehinaan) dan kepada yang ingin mengangkat kepala umat ini dengan mendongak ke atas sebagaimana mestinya dan sesuai pada tempatnya yang hakiki. Sudah seharusnya kita mendidik putra-putri kita dan generasi kita agar mencintai jihad di jalan Allah dan antusias dalam meraih gugur di jalan Allah.”

“Sudah seharusnya kita memberikan pendidikan kepada mereka (pendidikan jihad) dan menjadikan hal demikian berada dalam keyakinan mereka. Yaitu kemuliaan umat ini bisa diraih dengan jihad di jalan Allah. Tidaklah suatu umat yang tetap antusias atas jihad dan bercita-cita gugur di jalan Allah melainkan Allah akan memberikan kepadanya kehidupan dan memuliakannya di atas umat yang lain.”

Di halaman yang sama beliau menyatakan:

“Tidaklah suatu umat yang meninggalkan jihad dan terbuai oleh nikmatnya kehidupan dunia melainkan akan ditimpakan kehinaan dan keterpurukan. Tidak diragukan lagi dengan fenomena yang terjadi pada masa ini. Di mana kondisi kaum muslimin; darahnya ditumpahkan, hartanya dirampas, kehormatannya direnggut, tempat-tempat suci dan masjid-masjidnya dihancurkan, tanah airnya di jajah, semua ini terjadi dikarenakan cinta dunia dan takut akan kematian.”

Dan bagi kita yang ingin menggali lebih dalam tentang jihad dan dikaitkan dengan pendikan jihad bisa merujuk kepada karya-karya ditulis para ulama baik ulama klasik maupun kontemporer. Bahkan di antara ulama klasik ada yang telah menuliskan kitab jihad secara tersendiri dan akan ditemukan pembahasan seputar keutamaan jihad baik bersumber dari Al Quran maupun hadits.
Di antara ulama klasik selain penulis al kutub as sittah yang telah menulis kitab jihad adalah; Abdullah bin Mubarak (w 181H), Daud ad Dzahiri (w. 270H), Ibn ‘Ashim (w. 278H), Tsabit al Qurtubi al Maliki (w. 318H), Ibrahim bin Hammad al Uzdi al Maliki (w. ), Abu Sulaiman al Khaththabi (w. 388H), Abu Bakr al Baqilani (w. 403H), Taqiuddin Abdul Ghani al Maqdisi (w. 600H), Ibn Asakir (w. 600H), Ibn al Atsir (w. 630H), Bahauddin al Halabi (w. 632H), Abdul Aziz bin Abdussalam (w. 660H), Ibn Katsir (w. 774H), Ali bin Musthafa al Hanafi (w. 1007H), Husamuddin ar Rumi (w. 1042H) dan lain-lain.

Adapun Ibn ‘Asakir (w. 600H) yang yang menulis kitab tentang jihad dengan mengambil rujukan dari hadits-hadits Nabi saw yang ada dalam kitab-kitab hadits. Dari sekian hadits beliau memilah dan mensortirnya hingga menjadi 40 hadits. Kemudian beliau memberinya judul “Al Arba’un Fil Hatstsi ‘Alal Jihad” (40 Hadits dalam Memotivasi Jihad). Wallahu a’lam.

*Ditulis oleh: Anung Al Hamat (Direktur FS3I dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam)

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s