Meninjau Makna Jihad, Di Mana Posisi Kita?


Ditulis oleh: Anung Al Hamat, Kandidat Doktor Pendidikan dan Direktur Forum Studi Sekte-Sekte Islam (FS3I)

Salah satu pilar agama yang disebutkan al-Jazâiri adalah mu’amalah. Dan bagian dari materi mu’amalah yang paling terdepan dan utama sebagaimana disebutkan dalam kitabnya adalah pembahasan: al Jihad.

Jihad merupakan tonggak dan penyangga pondasi Islam. Bahkan, ia merupakan puncak Islam. Jihad merupakan cara untuk menjaga dan menolong negeri-negeri kaum muslimin dari setiap penjajahan dan penindasan, ia merupakan perisai kokoh yang bisa menjaga keberlangsungan dakwah dari gangguan moncong senjata musuh-musuh Islam, ia merupakan sarana atau alat yang bisa menjaga Maqashid as-Syariah sehingga agama, jiwa, harta, akal, nasab dan kehormatan bisa terlindungi.

Dalam menjelaskan urgensi jihad dan relevansinya dengan menjaga Maqashid as-Syari’ah, Imam Syatibi menyatakan, “Yang namanya jiwa harus dihormati, dijaga dan dituntut untuk bisa hidup. Sehingga kalau saja diberi pilihan antara hilangnya harta dan hidupnya jiwa maka yang harus diprioritaskan adalah bagaimana jiwa bisa hidup. Dan jika dibenturkan antara hidupnya jiwa dan matinya agama maka menghidupkan agama harus menjadi skala prioritas meskipun menyebabkan matinya jiwa. Hal ini seperti yang terjadi pada kasus jihad dalam rangka berperang melawan kaum kafir, murtad dan kalangan lainya.”

Oleh sebab itu, jihad akan senantiasa eksis selamanya hingga hari akhir nanti. Sehingga, wajar jika salah seorang tokoh Mazhab Hanafiyah, Abu Ja’far at-Thahawi dalam matan aqidahnya menyatakan, bahwa Jihad dan Haji akan terus berlanjut hingga hari kiamat.

Maka, wajar jika banyak kalangan yang ingin dikaruniai syahadah di jalan Allah. Dalam dialognya dengan seseorang yang akan meninggalkan tempat latihan di Afghanistan. Abdullah Azzam sosok yang dikenal dengan sebutan ‘Maestro Jihad Abad XX’ mendoakannya, “Saya mohon kepada Allah supaya Dia memberimu karunia syahadah. Atau saya berdoa kepada Allah supaya memberi karunia pada diri saya dan kepada dirimu syahadah.”

Demikian juga dengan pernyataan Amr bin Atabah bin Farqad. Abdullah bin Mubarak meriwayatkan bahwa Amr bin Atabah berkata, “Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla tiga perkara, dan Allah sudah mengabulkan dua permohonanku. Dan aku masih menunggu yang permohonanku yang ke tiga; Aku memohon kepada Allah agar menjadikan aku sosok yang zuhud sehingga aku tidak peduli apa yang sudah berlalu dan yang akan berlalu, aku memohon kepada Allah agar menguatkan aku dalam melaksanakan shalat dan itu sudah aku dapatkan semua. Kemudian aku memohon agar syahid di jalan Allah dan ini yang masih aku harapkan.”

Dengan adanya keutamaan jihad dan syahadah di jalan Allah, dalam tataran praktis ditemukan ada beberapa kalangan yang keliru dalam memahami jihad. Ada kalangan yang menempatkan operasi dan aksi jihad bukan pada tempatnya. Di sisi lain kemudian muncul beragam reaksi dan upaya dari berbagai kalangan untuk mereduksi makna jihad. Bahkan banyak kalangan yang mengusulkan untuk menghapus materi jihad dalam pendidikan. Gagasan seperti ini muncul terlebih khusus dari pihak-pihak yang anti ajaran Islam.

Kekeliruan lainnya adalah adanya kalangan yang memandang dikarenakan lemahnya kaum muslimin pada hari ini, maka tidak ada yang namanya Jihad. Kalangan ini tidak melakukan usaha dan upaya persiapan (i’dad), mereka menyerah dan pesimis dengan melihat kondisi kaum muslimin sehingga ujung-ujungnya mereka menyalahkan kelompok-kelompok jihad yang ada di muka bumi ini. Baik yang ada di Kashmir, Suriah, Irak, Afghanistan, Chechnya maupun yang ada di negri lainnya. Alasan yang diketengahkan oleh kalangan ini adalah alasan klasik, Nabi saw pun ketika di Mekah menahan diri dari memerangi kaum muslimin.

Setelah muncul pemahaman tersebut, kemudian muncul kalangan lain yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu kalangan yang memandang bahwa ayat-ayat pedang telah menghapus tahapan-tahapan jihad. Sehingga hari ini yang wajib bagi kaum muslimin adalah melakukan jihad dengan mengangkat senjata dalam rangka memerangi kaum murtad dan kaum kafir tanpa memandang bagaimana kondisi kaum muslimin dengan segala kelemahannya; lemah dari sisi memahami hakikat jihad dan lemah dari sisi kekuatan. Bagi kalangan ini ayat-ayat pedang sudah menghapus yang namanya perdamaian atau perjanjian dengan orang kafir.

Maka, tidak ada ruang bagi orang kafir kecuali diperangi dengan melupakan kemampuan yang dimiliki dan langkah-langkah yang masih bisa ditempuh dengan berdakwah menjelaskan jalan orang-orang yang beriman dan membongkar jalan orang-orang yang menyimpang. Sehingga jelas siapa nantinya yang layak hidup dan siapa yang layak binasa. Dan disayangkan juga kalangan ini melupakan persiapan lain seperti persiapan spiritual, akhlaq yang baik dan ilmu.

Di tengah kelompok-kelompok tersebut muncul kelompok yang lebih mendekati kebenaran. Yaitu kalangan yang melihat adanya kelemahan pada kaum muslimin, kaum muslimin tertindas di negerinya sendiri. Namun kalangan ini tidak berputus asa dalam menghadapi realita. Mereka tetap berdakwah menjelaskan tauhid yang benar, membentuk kader yang tangguh dari sisi ilmu dan amal yang dipersiapkan dalam menyongsong jihad, mereka tetap melakukan persiapan fisik semampunya. Jika mereka ikhlas karena Allah, maka Allah akan membuka jalan bagi mereka untuk merealisasikan jihad. Allah akan menyiapkan bagi kalangan ini para pendukung dan tempat yang bisa dijadikan naungan. Meskipun di negerinya kalangan ini terusir.

Kalangan ini juga berbeda dengan kalangan sebelumnya dalam masalah kesabaran, dan tidak tergesa-gesa dalam memerangi kaum kafir dan murtad sebelum tahapan-tahapan sebelumnya dilakukan. Nasir al ‘Umar dalam bukunya ‘Haqaiqah al-Intishar’ menyebutkan di antara faktor-faktor kekalahan adalah ketergesa-gesaan.

Tulisan ini tidak ditujukan kepada mereka yang sedang berjuang di Irak, Suriah, Palestina, Chechnya, Kasymir dan para pejuang di negeri lainnya. Karena telah jelas bagi mereka siapa musuh sebenarnya; di Afghanistan musuhnya adalah kalangan salibis, di Kashmir musuhnya adalah kaum hindu, di Suriah dan Irak musuhnya adalah kalangan Syi’ah dan begitu seterusnya. Telah jelas bagi mereka panji jihad dan secara umum mereka berada di atas jalan yang benar dan mereka termasuk ke dalam kategori Thaifah Manshurah, kelompok kecil yang senantiasa eksis dan mendapat pertolongan dari Allah swt. Dengan catatan ringkas ini semoga jelas dimana posisi kita?

Wallahu a’lam.

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s