ORANG YG MENYATAKAN DIRI BER-IMAN PASTI AKAN DIUJI !


Segala puji hanya hak Allah swt yang telah telah menciptakan manusia dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini dan tidak ada satu pun makhluk yang menanggung rezekinya melainkan hanya Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

Allah berfirman dalam Quran Al An’am (6) :102-103

ذلكم الله ربكم ۖ لا إله إلا هو ۖ خالق كل شيء فاعبدوه ۚ وهو على كل شيء وكيل

لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار ۖ وهو اللطيف الخبير

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Allah Ta’aala berfirman pula: “Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada.” (al-Hadid: 4)
Allah Ta’aala berfirman lagi: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di langit.”(Aali-Imran: 5)
Lagi firman Allah Ta’aala: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (al-Fajar: 14)

👉Dalil Diperintahkannya Manusia Untuk Beriman
Katakanlah : Hai manusia sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya, Nabi yang ummiy yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [Al A’raaf 158]
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rosul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa’ 136]
Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku perintahkan kalian untuk beriman kepada Allah wahdah.” (HR.Bukhori Muslim)

👉Tidak Diterima Amal Shalih dan Tidak Masuk Surga Kecuali dengan IMAN
Banyak ayat qur’an yang menerangkan bahwa tidak diterima amal shalih dan tidak masuk surga seorang hamba kecuali dia ber-iman, lihat diantaranya QS. Thaha: 112, QS. Al-Isra’: 19, QS. Al-Anbiya’: 94 dan lain-lain
Juga hadits shahih ini menjelaskan bahwa Iman adalah asas segala amal : Dari Barro’ radliyallaahu ‘anhu telah datang kepada Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam seseorang dengan perlengkapan perang yang lengkap, berkata, “Wahai Rosulullah, apakah aku harus maju perang atau harus masuk Islam?” Rasul menjawab, “Islamlah dulu lalu berperanglah.” Maka ia masuk Islam kemudian berperang dan lalu terbunuh. Rosulullah shallalaahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Ia sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak.” (HR. Bukhori Muslim)

👉Ringkasan Penjelasan Tentang IMAN
Setelah tahu disyari’atkannya kita untuk beriman, tahu bahwa amal shalih tidak berguna dan tidak dapat masuk surga tanpa iman, mari kita segarkan lagi pemahaman kita tentang apa yang dimaksud ber-iman itu, paragraf dibawah ini tidak dimaksudkan utk menjelaskan pengertian iman secara keseluruhan (karena akan terlalu luas pembahasannya) akan tetapi dimaksudkan untuk merangkum secara mudah dan sederhana pengertian iman yangdinelaskan ualama ahlussunnah wal jama’ah:
Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolaniy berkata, Iman menurut pengertian syar’i adalah membenarkan apa-apa yang datang dari Allah, yang dibawa oleh Rosulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wa sallam.[Fathul Bari, I/46]
Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, dan beberapa ulama ahli hadits serta ahlul Madinah dan juga pengikut madzhab Dhahiriyah dan sebagian ulama mutakallimin berpendapat bahwa definisi iman itu adalah : pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang (lihat Kitab Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9).
Ibnu Al-Qoyyim menulis, “Hakekat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati yaitu i’tiqod dan perkataan lisan yaitu pengucapan kalimat Islam. Perbuatan (amal) juga terdiri dari dua : amal hati yaitu niat dan ikhlash-nya, dan amal jawarih. Apabila ke-empat hal ini hilang, maka hilanglah iman keseluruhannya, apabila pembenaran hati hilang, maka yang lain tidak lagi bermanfaat. Apabila amal hati tidak ada, sedangkan i’tiqod masih ada, maka Ahlus-Sunnah bersepakat akan hilangnya iman. Dan jika iman hilang dengan tiadanya amal hati, maka tidak dipungkiri lagi ia juga hilang dengan hilangnya amal jawarih yang terbesar (yaitu sholat), apalagi jika hal ini merupakan buah dari kosongnya kecintaan hati dan ketundukannya.” [Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kitaabush-sholah wa hukmu Taarikuha, 22]
Jadi lebih sederhananya lagi ‘Iman itu berupa pembenaran hati’ (tashdiqul bil qolbi) artinya hati menerima semua ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Pengakuan dengan lisan’ (Qoulul bil lisan) artinya mengucapkan dua kalimat syahadat ‘asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’. Sedangkan ‘perbuatan dengan anggota badan’ (amalul jawarih) artinya amal hati yang berupa keyakinan-keyakinan dan beramal dengan anggota badan yang lainnya dengan melakukan ibadah-ibadah sesuai dengan kemampuannya (Lihat Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9)

👉Allah Memisah Orang Iman dg Tidak Iman Dengan Mengujinya
Setelah kita tahu Allah mensyari’atkan kita untuk ber-iman, dan kita tahu bagaimana beri-iman itu yaitu seperti yang diteladankan Rasulnya, kemudian kita harus membuktikan ke-imanan kita dalam kehidupan sehari-hari. Al Hasan Al Bashri menjelaskan bahwa “Iman bukan sekedar angan-angan dan omong kosong, tetapi ia adalah yang mantap di dalam hati dan dibenarkan dengan amal.”. Sampai disini terkadang kita merasa sudah selesai sehingga lupa dan merasa sudah ber-iman seutuhnya. Maka kemudian Allah memberitakan pada kita tentang kepastian Dia akan menguji setiap orang yang menyatakan diri beriman sehingga nyatalah kualitas iman kita dan nyatalah manusia terpisah antara orang yang beriman dan tidak beriman
Alloh Ta’aalaa berfirman:

هوالذي خلقكم فمنكم كافر ومنكم مؤمن

Dialah yang menciptakan kalian lalu diantara kalian ada yang kafir dan ada yang mu’min. (QS. At Taghoobun: 2)

Dan Alloh ta’aalaa tidak menyamakan antara dua golongan tersebut, baik di dunia maupun di akherat. Alloh Ta’aalaa berfiman:

أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف تحكمون

Apakah Kami jadikan orang-orang Islam itu seperti orang-orang jahat, bagaimana kalian membuat ketetapan? (QS. Al Qolam: 35-36).

Dan Alloh ta’aalaa berfirman:

أفمن كان مؤمنا كمن كان فاسقا لايستوون

Apakah orang yang beriman itu seperti orang yang faasiq, mereka tidaklah sama. (QS. As Sajdah: 18).

Dan Alloh ta’aalaa berfirman:

لايستوي أصحاب النار وأصحاب الجنة

Tidak sama penghuni naar (neraka) dan penghuni jannah (surga). (QS. Al Hasyr: 20).

Dengan ayat-ayat diatas Allah mengingatkan kita agar tidak terlena dengan penilaian “kaca mata dunia” bahwa seolah-olah manusia yang berjalan dimuka bumi ini (dikampung-kampung, dikantor-kantor, dipasar-pasar) sama saja antara yang ber-iman dan tidak ber-iman (yang penting mengakunya beriman), seolah-olah sama saja kedudukannya didalam hukum, seolah-olah sama saja kedudukannya didalam hak, seolah-olah tidak ada yang membedakan antara manusia yang ber-iman dan tidak ber-iman kecuali memakai ukuran-2 “kaca mata dunia” (harta, kedudukan, keturunan, jumlah, kulit, barat/timur dll). Allah membikin garis yang jelas antara manusia dengan ukuran iman yaitu antara yang beriman dan tidak beriman. Saking tegasnya garis antara iman dan kafir ini, bahkan Imam Bukhari , Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan ketika rasulullaah Saw akan mendoakan (memintakan ampunan) paman (keluarga) beliau (yg beliau adalah seorang nabi) yang sedang sakaratul maut, Nabi saw bersabda:

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أَنَّهُ عَنْكَ
“Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.” maka Allah menurunkan Surat At-Taubah ayat 113 dan dilanjutkan Surat At-Taubah ayat 114:

ماكان للنبي والذين أمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا ألى قربى من بعد ماتبين لهم أنهم أصحاب الجحيم. وماكان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه. إن إبراهيم لأواه حليم (سورة التوبة:113-114)

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh swt) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh swt) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS At-Taubah :113-114)
Demikianlah tegas garis antara iman dan kafir , hal ini dibahas lebih detil oleh para ulama ahlussunnah wal jama’ah pada cabang-cabang ilmu tauhid/aqidah termasuk pada bidang pembahasan nama/istilah (iman, kafir, munafiq, musyrik) dan tentunya juga pada pembahasan al wala’ wal baro’.

👉Kepastian Datangnya Ujian Allah Pada Orang Yang Menyatakan Diri beriman
Sekarang mari kita perhatikan uraian berikut ini :
Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, aku berkata: wahai Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ucapkanlah: “aku beriman kepada Allah”, kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu” (HR. Muslim)
Dalam hadits muslim tersebut Rasulullaah saw mengajarkan abu ‘amr ucapan “aku beriman pada Allaah” yg adalah mencangkup semua perkara Islam dan kemudian rasul saw setelah itu menyuruh istiqamah dalam ucapan tersebut (yaitu ucapan “aku beriman pada Allah) jadi tidak hanya sekedar ucapan saja, kemudian perhatikan firman Allah dalam ayat berikut :

{ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ} [العنكبوت: 2، 3]

Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al ‘Ankabut: 2-3.

Asbabun Nuzul ayat 2:
Imam Ibnu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Sya’bi sehubungan dengan firman-Nya, “Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja…” (Q.S. Al-Ankabut 1-2) Sya’bi telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang tinggal di Mekah, mereka telah berikrar masuk Islam. Kemudian para sahabat Rasulullah saw. berkirim surat kepada mereka dari Madinah, bahwasanya Islam kalian tidak diterima kalau kalian tidak berhijrah. Mereka pun berangkat menuju Madinah, kemudian orang-orang musyrik mengejar mereka sehingga tersusul lalu mereka dikembalikan lagi ke Mekah. Setelah peristiwa itu lalu turunlah firman-Nya yaitu ayat ini. Para sahabat menulis surah kepada mereka, bahwasanya telah diturunkan firman Allah yang bunyinya demikian dan demikian, yaitu berkenaan dengan peristiwa yang telah kalian alami itu. Mereka yang berada di Mekah berkata, “Kami harus keluar berhijrah, jika ada seseorang mengejar kami, niscaya kami akan memeranginya.” Lalu mereka keluar dan orang-orang musyrik mengejar mereka, akhirnya terjadilah pertempuran di antara kedua belah pihak sebagian kaum Muslimin Mekah gugur dan lainnya selamat. Sehubungan dengan perihal mereka Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Rabbmu pelindung bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan…” (Q.S. An-Nahl 110). Ibnu Saad telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ammar bin Yasir, sebab ia disiksa oleh kaum musyrikin demi karena Allah; ayat yang dimaksud adalah firman-Nya, “Apakah manusia itu mengira…” (Q.S. Al-Ankabut 2)

Tafsir
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وقوله: { أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ } استفهام إنكار، ومعناه: أن الله سبحانه وتعالى لا بد أن يبتلي عباده المؤمنين بحسب ما عندهم من الإيمان، كما جاء في الحديث الصحيح: “أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحون، ثم الأمثل فالأمثل، يبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صلابة زيد في البلاء” . وهذه الآية كقوله: { أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ } [آل عمران: 142]، ومثلها في سورة “براءة” وقال في البقرة: { أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ } [البقرة: 214]؛ ولهذا قال هاهنا : { وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ } أي: الذين صدقوا في دعواهم الإيمان مِمَّنْ هو كاذب في قوله ودعواه. والله سبحانه وتعالى يعلم ما كان وما يكون، وما لم يكن لو كان كيف يكون . وهذا مجمع عليه عند أئمة السنة والجماعة؛ ولهذا يقول ابن عباس وغيره في مثل: { إِلا لِنَعْلَمَ } [البقرة: 143]: إلا لنرى؛ وذلك أن الرؤية إنما تتعلق بالموجود، والعلم أعم من الرؤية، فإنه [يتعلق] بالمعدوم والموجود.

Dan Firman-Nya: “{ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ }” ini adalah pertanyaan yang berupa pengingkaran, dan maknanya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala harus menguji hamba-hamba-Nya kaum beriman sesuai engan kadar iman yang ada pada mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih: “Manusia yang paling berat siksanya adalah para Nabi kemudia orang-orang shalih kemudian semisal dengan mereka lalu semisal dengan mereka, seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika di dalam agamanya terdapat kekokohan maka akan ditambahkan di dalamnya ujian.” Dan ayat ini seperti Firman-Nya:

“{ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ }”

(artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar). Dan semisal dengannya di dalam surat Bara’ah dan Allah berfirman di dalam, surat Al Baqarah:

“{ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ }”

(Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat). Oleh sebab itulah beliau berfirman di dalam ayat ini:

{ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ }

(“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”) yaitu orang-orang yang jujur di dalam pengakuan mereka tentang iman, dai orang yang dusta di dalam perkataannya dan pengakuannya dan Allh Ta’ala mengetahui apa yang teah terjadi dan apa yang sedang terjadi dan apa yang belum terjadi jikalau terjadi bagaimana terjadinya.” Dan hal ini disepakati oleh para imam Ahlu Sunnah Wal Jamaah, oleh sebab inilah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dan selainnya berkata di dalam ayat seperti { إِلا لِنَعْلَمَ } (melainkan agar kami mengetahui) maksudnya adalah melainkan agar kami melihat, yang demikian itu karena penglihatan terkait dengan yang ada dan ilmu lebih umum dari penglihatan, karena ia berkaitan dengan yang tidak ada dan yang ada.” Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/263.

Dalam hadits shahih disebutkan,

“Seberat-berat orang yang mendapat ujian adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang seperti mereka dan seterusnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka akan semakin banyak ujiannya.” (HR. At Tirmidzi. Diambil dari Sunan At Tirmidzi, 4/601. Hadits hasan shahih).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjelaskan, bahwa ujian itu adalah sifat yang lazim bagi kaum muslimin. Beliau bersabda,
“Perumpamaan orang beriman itu laksana pohon. Angin selalu menerpanya dan setiap mukmin akan senantiasa mendapatkan ujian. Sedangkan perumpamaan orang munafik itu adalah laksana tanaman padi yang tidak bergerak, kecuali saat dipanen.” (HR Muslim. Diambil dari syarah Imam Nawawi, dalam Bab Kiamat, Sorga dan Neraka:17/151).

“Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (Riwayat Bukhari)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rosululloh – shollollohu ‘alaihi wasallam -, “Yaa Rosululloh, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”
Nabi – shollollohu ‘alaihi wasallam – menjawab:
“Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka.
Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seseorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (HR. Bukhari)

diriwayatkan Hudzaifah adalah: Saat itu kami bersama Umar bin Khattab beliau berkata: ”Siapa diantara kalian yang mendengar Rasulullah saw. menyebutkan tentang fitnah-fitnah? Berkata diantara mereka: ”Kami mendengarnya”. Berkata Hudzaifah: ”Mungkin yang antum maksud terfitnahnya seorang lelaki oleh keluarga dan tetangganya ?” Mereka menjawab :” Benar”. Berkata Hudzaifah:” Fitnah itu terhapus dengan sholat, puasa dan sedekah, tetapi siapa yang mendengar Nabi saw. menyebutkan fitnah-fitnah seperti gelombang lautan ? “Berkata Hudzaifah:” Maka mereka terdiam”. Aku berkata:” Aku tahu”. Berkata Umar:” Engkau wahai Hudzaifah !”. Berkata Hudzaifah, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:” Fitnah-fitnah itu mengenai hati seperti tikar yang menempel secara terus-menerus” (HR Bukhori dan Muslim)

Uraian dari ayat qur’an dan hadits-hadits diatas adalah menunjukkan betapa Allah menjamin bahwa orang yang menyatakan dirinya ber-iman itu pasti akan diuji, jadi tidak akan pernah dibiarkan seorang menyatakan bahwa dirinya beriman kecuali pasti diuji oleh Allah sehingga bisa dibedakan siapa yang beriman, siapa yg fasiq dan siapa yang kufur.

Alhamdulillaah dengan artikel ringkas ini semoga kita paling tidak “tahu ilmu-nya” bahwa orang beriman pasti diuji, kita masih waj. pelajari lebih lanjut mengenai bagaimana sikap seorang mu’min terhadap ujian Allah? …. Dan mari kita tutup pembahasan kita kali ini dengan merenungkan firman Allah berikut ini :

Allah Ta’aala berfirman: “Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.” (Qashash:80)

Wallaahua’lam bishawwab,

Abu Salman Ibadurahman

One thought on “ORANG YG MENYATAKAN DIRI BER-IMAN PASTI AKAN DIUJI !

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s