Masalah Mengada-ada Dalam Beribadah


Di dalam menjalankan dan menegakkan Islam, kita tinggal mengikuti syari’at yang jelas, yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasul dan dijelaskan oleh para sahabat, tabi’ien, dan tabi’it-tab’ien. Tapi apa yang terjadi sekarang? Sebagian orang malah membuat syari’at sendiri, tidak puas dengan syariat yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam. Mereka cenderung untuk menyimpang dari syari’at. Ironisnya hal itu justru mereka anggap dan mereka yakini sebagai kebenaran. Padahal Allah telah berfirman dalam surat Al-An’am 153:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (Al-An’am:153).
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan ber-taqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7).

Mengapa disaat sekarang ini semakin ngetren, berbangga-bangga dengan syariat yang diada-adakan dalam beribadah maupun aqidah padahal sudah menjadi ketetapan bahwa cara-cara yang sah untuk menyembah Allah Subhannahu wa Ta’ala telah ditetapkanNya dan telah disampaikan oleh RasulNya. Maka setiap peribadatan dan penetapan hukum haruslah berdasarkan Al-Qur’an atau ketetapan Rasul. Seseorang tidak boleh menambah-nambahi menurut kemauannya sendiri.
Nah, sekarang seperti memperingati orang mati (tahlilan) dengan upacara pesta dan bacaan-bacaan tertentu pada waktu-waktu tertentu yakni hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, seribu hari dst, menanam kepala kerbau guna keselamatan bangunan, sesaji untuk menolak balak, maulidan, ratiban, nujuh bulan (pitonan), berjanjen, manakib, berbagai macam shalawat yang menyimpang (Shalawat Nariyah, Ya Rabbibil Musthofa .. dll), melakukan penginjakan (pecah telur) pengantin saat dipertemukan, melakukan penerobosan di bawah keranda (mayat) bagi ahli waris, meminta do’a pada isi kubur, puji-pujian menjelang shalat fardhu, puasa mutih, nisfu sya’ban, sadranan, dzikir dengan goyangan dan diiringi rebana, sedekah bumi, sedekah laut, mencari petunjuk dengan tidur di kuburan, menjalankan tirakat, dan berkecimpung dalam tasawuf. Apakah ini semua sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah? Jawabannya adalah hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dan tidak diperintahkan oleh Allah. Lantas bagaimana dengan sebagian orang yang melaksanakan hal-hal terebut? orang-orang tersebut telah menjalankan hal yang tidak diperintahkan Allah dan tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam . Dalam istilah agama mereka telah menjalankan kebid’ahan (sesuatu yang diada-adakan dalam urusan agama).
Rasullullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. (رواه أبو داود والترمذي).
“Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam Neraka” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih).
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم).
“Barangsiapa mengada-adakan pada perkara (agama) kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka ia adalah tertolak” (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
“Barangsiapa melakukan amalan, yang tidak ada keterangannya dari kami, maka amalan itu tertolak” (Diriwayatkan Muslim).
Dari hadits-hadits ini sangat jelas bahwa semua bid’ah pada agama, hukumnya adalah haram, sesat dan tertolak. Oleh karena itu, kita harus menjaga kemurnian aqidah Islamiyah. Apapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah maka wajib ditinggalkan atau ditolak. Apabila seseorang tetap mengikuti ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-shahihah, maka akan menyesal dan rugi sebesar-besarnya di akhirat kelak. Walaupun di dunia bisa jadi dinilai oleh sesama sebagai orang yang hidup bermasyarakat dan banyak konco-konconya, banyak yang mengikutinya, dan banyak pengayomnya, tapi apa yang terjadi di akhirat, kesemuanya akan mendapat dan menerima balasan dari Allah, setimpal dengan kemaksiatan dan kesesatannya.

Oleh karena itu, marilah kita pegang teguh ajaran Islam dengan sebenar-benarnya, sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah dengan pemahaman salafus shalih dan juga marilah kita jauhi sikap ikut-ikutan tanpa ilmu ta’ashub dan fanatisme semata-mata.
Penjelasan yang benar dan shahih yaitu berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah dengan jalan yang shahih pula, yaitu manhaj salaf yang telah ditempuh oleh generasi awal Islam yakni shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Namun bagi mereka yang tetap memegangi ajaran atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan kebenaran Islam, maka ancaman dan kecaman akan ditimpakan oleh Allah kepada mereka.

Perintah untuk tetap berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shahihah ditegaskan dalam beberapa nash, sehingga tak perlu diragukan lagi. Ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ketika berkhutbah pada haji wada’ (perpisahan), beliau menegaskan:
“Sesungguhnya syetan telah berputus asa untuk disembah di bumimu ini, tetapi senang bila kalian mengikutinya pada sesuatu yang menyia-nyiakan amal-amalmu, maka waspadalah. Sesungguhnya aku telah meninggalkan padamu satu perkara, kalau kamu sekalian berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah RasulNya”. (Hadits shahih).
Demikian uraian singkat tentang hal-hal yang tidak pernah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kerjakan, tapi sebagian orang menganggap itu adalah suatu amalan ibadah yang berpahala. Padahal itu mengada-ada dalam ibadah dan balasannya adalah Neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

One thought on “Masalah Mengada-ada Dalam Beribadah

  1. iyaa setuju skalee dlm masalah ibadah kagak boleh meng-ada2,bisa runyam jadinya,namun..kan yg paling tahu,faham,dekat dgn Rasul se-hari2 kan bukan temen2nya,tapi Keluarga-nya…jadi gmanee…mau coba ikuti Rasul yaa coba pintu masukny dari Keluarganya bukan temen2nya,Aku(Rasul) sbg Kota ilmu dan Ali adalah Pintu kota ilmu..,selanjutnya silahkan tafsirkan dewe2 gt,masuk via pintu yaa bukan via atap/jendela/ato bobol dinding..ngerti kan ??

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s