Mungkinkah Ber-iman tapi sekaligus Syirik pd Allaah?


Pembahasan permasalahan ini berasal dari study tafsir pada firman Allah Qs yusuf ayat 106 yg menyatakan bahwa “sebagian besar dari mereka” tidak beriman pada Allaah melainkan dalam keadaan “syirik”, dalam study tafsir ini ingin dirunut apakah syirik dalam hal ini apakah syirik akbar atau syirik asghar :

Allaah berfirman Qs yusuf 106
وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”
[Quran 12:106]

Ibnu Jarir At-Thobari -Imamnya para ahli tafsir- dalam tafsirnya (Jaami’ul Bayaan ‘an takwiil Aayi Al-Qur’aan tatkala menafsirkan surat Yusuf ayat 106), beliau berkata :
(Perkataan tentang penafsiran firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106) Allah berkata : Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNya وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (QS Yusuf : 105)- mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini)(Tafsir At-Thobari 13/372).

Setelah itu Imam Ibnu Jarir At-Thobari menyebutkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan para sahabat dan para tabi’in tentang tafsiran ayat ini. Beliau kemudian meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas –radhiallahu ‘anhumaa-, beliau berkata :
“Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, siapakah yang menciptakan bumi?, siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” (Tafsir At-Tobari 13/373)

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah –rahimahullah- beliau berkata “Termasuk ke-imanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, mereka menjawab : Allah. Jika mereka ditanya : Siapakah yang menciptakan kalian?, mereka menjawab : Allah. Padahal mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” (Tafsir At-Thobari 13/373) Ikrimah juga berkata : “Itulah firman Allah “Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi?, maka mereka akan berkata : Allah” (QS Luqmaan : 25 dan Az-Zumar : 38). Maka jika mereka ditanya tentang Allah dan sifatNya maka mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang bukan merupakan sifat-sifat Allah, dan mereka menjadikan bagi Allah anak, dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” (Tafsir At-Thobari 13/373-374)

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dengan beberapa jalan dari Mujahid -rahimahullah-, diantaranya beliau berkata :
“Keimanan mereka adalah perkataan mereka : Allah pencipta kami dan Yang memberi rizki kepada kami dan mematikan kami. Inilah keimanan (mereka) bersama keyirikan mereka dengan beribadah kepada selain Allah” (Tafsir At-Thobari 13/374)

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotaadah –rahimahullah-, beliau berkata :
“Keimanan mereka ini, (yaitu) tidaklah engkau bertemu dengan seorangpun dari mereka kecuali ia mengabarkan kepadamu bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Dialah yang telah menciptakannya dan memberi rizki kepadanya. Padahal dia berbuat kesyirikan dalam ibadahnya” (Tafsir At-Thobari 13/375)

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah, beliau berkata :
“Tidak seorangpun yang menyembah selain Allah –bersama penyembahannya terhadap Allah- kecuali ia beriman kepada Allah dan mengetahui bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Allah adalah penciptanya dan pemberi rizkinya, dan dia berbuat kesyirikan kepada Allah. Tidakkah engkau lihat bagaimana peraktaan Nabi Ibrahim :

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (٧٥)أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ (٧٦)فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ (٧٧) Ibrahim berkata: “Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (QS As-Syu’aroo 75-77)
Nabi Ibrahim telah mengetahui bahwasanya mereka menyembah (juga) Allah bersama dengan penyembahan mereka kepada salain Allah. Tidak seorangpun yang berbuat syirik kepada Allah kecuali ia beriman kepadaNya. Tidakkah engkau lihat bagaimana orang-orang Arab bertalbiah?, mereka berkata : “Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa”. Kaum musyrikin Arab dahulu mengucapkan talbiah ini” (Tafsir At-Thobari 13/376)

Syaikh As Sa’di (tafsir As Sa’di) ketika menafsirkan ayat ini berkata, ”Meskipun mereka mengakui sifat-sifat Rububiyah Allah Ta’ala, (yaitu) Bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur segala urusan, (namun) mereka tetap berbuat syirik kepada Allah dalam uluhiyah/peribadatan …” (Taisir Karimir Rahman)

Tambahan penjelasan surat 12:106, dari tafsir ibnu katsir; وقوله ” وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون ” قال ابن عباس: من إيمانهم أنهم إذا قيل لهم: من خلق السموات ومن خلق الأرض ومن خلق الجبال؟ قالوا الله وهم مشركون به وكذا قال مجاهد وعطاء وعكرمة والشعبي وقتادة والضحاك وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم وفي الصحيحين: أن المشركين كانوا يقولون في تلبيتهم: لبيك لا شريك لك إلا شريك هو لك تملكه وما ملك وفي صحيح مسلم أنهم كانوا إذا قالوا لبيك لا شريك لك قال رسول الله صلي الله عليه وسلم قد قد أي حسب حسب لا تريدوا على هذا; وقال الله تعالى ” إن الشرك لظلم عظيم ” وهذا هو الشرك الأعظم يعبد مع الله غيره كما في الصحيحين عن ابن مسعود قلت يا رسول الله: أي الذنب أعظم؟ قال أن تجعل لله ندا وهو خلقك ; Dan firman Allah ta’ala ” dan mereka tidaklah beriman kpd Allah kecuali kebnyakan dr mrka menyekutukanNya“. Berkata Ibnu Abbas: diantara keimanan mereka adl bahwa mereka jika ditanya ‘ siapa yg mnciptakan langit dan siapa yg mnciptakan bumi dan gunung? Mereka menjawab ‘Allah’ sedang mereka tetap menyekutukanNya.
dan demikian pula pendapat Mujahid, Atha’, Ikrimah, Asy Sya’bi, Qotadah, adh Dhohhak, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Dan dlm ash shahihain ada hdits: ” bahwa kaum musyrikin (makkah) mereka mengatakan dlm talbiyah merka (saat thawaf) ” labbaika laa syariika laka, illa syariika huwa laka tamlikuhu wa maa malak”…dan dalam shahih muslim disebutkan bhwa jika mereka mngucapkan “labbaika laa syariika laka” mk rosulullah berkata “tidak..tidak…mereka tidak bermaksud sprti apa yg mereka ucapkn” Dan Allah berfrman ” sesungguhnya Syririk itu kedzoliman yg besar”, dan ini adalah syirik yg besar dimana mrk beribadah kepd Allah ttpi jg kpda yg lainnya. Sbgmana dlm shahihain dr ibnu mas’ud, dia brkata: wahai rasulullah, dosa apa yg paling besar? Rosul mnjwab: ” engkau menjadikan tandingan bgi ALLAH padahal Allah yg mnciptakanmu.

Dari penafsiran ibnu katsir (juga ibnu jarir at thabari dan as sa’di) tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Yang dimaksud ke-iman-an dalam QS Yusuf ayat 106 ini (yaitu keimanan yang bercampur dengan ke-syirikan) adalah ber-iman dalam Rububiyah Allah Ta’ala (tetapi hakikatnya berbuat syirik dalam Uluhiyah-Nya)
2.Yang dimaksud kesyirikan yg dilakukan oleh mereka (“hum”) dalam ayat ini adalah kesyirikannya orang quraisy yaitu kesyirikan akbar

Ada ulama tabi’in yg membawa arti syirik dlm ayat 106 surat yusuf kpd syirik kecil, yaitu al hasan al bashry rahimahullah

وقال الحسن البصري في قوله ” وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون ” قال ذلك المنافق يعمل إذا عمل رياء الناس وهو مشرك بعمله ذلك يعني قوله تعالى ” إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى يراءون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا

Berkata al hasan al bashri ttg frman Allah ta’ala surat yusuf:106 ; itulah orang munafik dlm beramal mereka riya kpd manusia, maka itu adl syirik dlm amalnya trsbt. Yaitu pd firman Allah ta’ala : “sesungguhnya org munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah mbalas tipuan mereka, dannjika mrk berdiri utk shalat mk mrka brdiri dg malas, krn riya pd manusia dan tidk mngingat Allah kecuali sdikit
Menurut beliau ( Al Hasan Al Bashri) Iman dgn syrik besar tidak mungkin ada dlm 1 hati, klo dia musyrik berarti tdk beriman.

Akan tetapi pendapat beliau ini tidak bersesuaian dengan ulama yg lainnya yg memaksudkan kata briman dlm ayat 106 ini adalah beriman kpd rububiyahNya (tapi syirik dalam uluhiyahnya) sebagaimna penjelasan ibnu abbas, mujahid, ikrimah, dll tdi

Disamping ketidaksesuaian dengan pendapat ulama lain, pendapat al hasan al bashri yang menyatakan bahwa syirik dalam ayat 106 ini adalah riya’ (syirik kecil) akan menyebabkan “tidak ada manusia yang selamat” dengan syirik ini (padahal redaksi ayat adl “sebagian besar dri mereka”), karena tidak ada manusia yang selamat dari riya’ walaupun para sahabat(kecuali yg di ridloi Allaah),
Sedang riya’, jika dmsukkan dlm ayat tdi, mk tdk ada yg selamat kec yg dirahmati Allah, trmsuk shahabat. Krn rosul pernah bersabda” yg paling aku takutkan kpd kalian adl riya’….apalgi manusia dibawah mereka(para sahabat)..lalu apakah pantas shahabt dimasukkan dlm ayat ” wa hum musyrikuun”…tentu tdk pas, krn mereka (para sahabat) adl rodhiyallahu anhum…
Jadi kalau diartikan sebagai riya’ (atau syirik kecil) maka bukan “sebagian besar manusia” tapi “semua manusia” tidak beriman kepada Allaah melainkan dalam keadaan mempersekutukannya, waallahua’lam.

Keadaan manusia hari ini yg mengaku islam, bahkan sholat, sedang mereka melakukan kesyirikan besar seperti meyakini dukun/sihir, ber-ibadah pada selain Allah Swt ( lihat arti “ibadah” menurut ulama salaf), meyakini kebenaran/boleh-nya dan bahkan men-taati makhluk/anasir yang terang-terangan mengganti perintah dan larangan Allaah, benar-benar menggambarkan beberapa kesyirikan di zaman modern seperti yang dijelaskan dalam firman Allah tdi dlm surat yusuf:106 . Study lebih jauh mengenai tema sekitar ini dengan merujuk kitab tafsir lain, hadits-hadits yang shahih (misalnya tentang fitnah akhir zaman yg seperti penggalan-penggalan malam yang menjadikan seseorang paginya ber-iman tapi malamnya kafir dll) dan kitab para ulama ahlussunnah wal jamaah bisa dilakukan untuk merunut lebih dalam lagi hal ini sehingga dapat menjaga aqidah ummat dan memperingatkan ummat mengenai apa sebenarnya bentuk ke-syirikan yang sebagian besar dilakukan orang dimasa modern/akhir ini..yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Sebagai penutup mari kita renungkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhri dan juga Imam Muslim berikut ini :
Ibnu Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah Apakah dosa yang terbesar? Jawab Rasulullah :
” Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia (Allah) telah menciptakan engkau “ (HR Bukhari dan Muslim).

Waallaahua’lam,

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s