KUPAS TUNTAS KESESATAN DAN KEBOHONGAN LDII


Awal mula Munculnya LDII

Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam yang telah dilarang oleh Jaksa Agung RI pada tahun 1971 melalui SK Jaksa Agung RI no.Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971, tentang keberadaan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis (Madigol) yang selaku pendiri LDII.
Kota atau daerah asal mula munculnya LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) adalah:
Desa Burengan Banjaran, di pusat kota Kediri, Jawa Timur
Desa Gadingmangu, Kecamatan.Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Desa Palem di pusat kota Kertosono, Kabupaten.Nganjuk, Jawa Timur.
Di daerah asalnya, LDII telah dilarang melalui SK Gubernur Jawa Timur tertanggal 24 Desember 1988, yang isinya melarang LEMKARI diseluruh Jawa Timur karena dengan nyata masih menyebarkan faham atau ajarannya.

TAHAPAN PERKEMBANGAN LDII

1.Sekitar tahun 1941-an sepulang Madigol dari mukimnya selama 10 tahun di Makkah, saat itulah masa awal dia menyampaikan ilmu hadits manqul nya, juga mengajarkan ilmu bela diri pencak silat kanuragan serta qiraat.
2.Masa pembangunan asrama pengajian Darul Hadits berikut pesantren-pesantrennya di Jombang.
3.Masa pendalaman manqul Qur’an Hadits, tentang konsep bai’at, Amir, Jama’ah, dan ta’at.Hal ini dijalani sampai tahun 1980, yaitu ketika ratusan jama’ah pengajian tersebut menangis meminta madigol mau di bai’at dan ditetapkan sebagai Imam.Mereka semua menyatakan sanggup taat dengan cara berjabat tangan dengan Madigol sambil mengucapkan syahadat, shalawat dan kata-kata sakti , misalnya “Sami’na Mastatho’na”.

TOKOH-TOKOH PENDUKUNG LDII

Tokoh-tokoh pendukung LDII yang ikut membesarkannya adalah:
Penguasanya atau Imamnya adalah Nurhasan Ubaidah bin Lubis Amir (Madigol).Setrelah wafat dia langsung diganti dengan anaknya yaitu Abul Dhohir bin Madigol.
Tokoh-tokoh kerajaan.
Wakil Amir Daerah.
Wakil Amir Desa.
Wakil Amir Kelompok.
Wakil Amir khusus dari oknum TNI dan POLRI, tim empat serangkai, para aghniya’ (orang-orang kaya), para pengurus LDII, tim Pramuka, dan CAI, dan para Mubaligh.

PENGGALANGAN DANA LDII

Penggalangan dana dari pengikut LDII sangat diutamakan dan dijadikan ukuran kesetiaan dan kesungguhan dari bai’at sumpahnya, yang terdiri dari:
1.Infak mutlak wajib sebesar 10% dari setiap pendapatan yang berupa apapun.
2.Infak pengajian Jum’atan, Ramadhan, Lailatul Qadhar, Hari Raya, dan lain-lain.
3.Infak shodaqoh pembelaan fii sabilillah.
4.Infak shodaqoh penyerahan bahan-bahan berupa makanan. Pakaian dan lain-lain kepada sang Amir.
5.Zakat, Hibah, Wakaf, dan pembagian warisan dari anggota jama’ahnya, dan lain sebagainya.

TEKNIK DAKWAH LDII

Dalam memburu, membujuk, menggaet, dan kemudian mendoktrin orang-orang yang menjadi targetnya, LDII menggunakan berbagai cara, diantaranya adalah:
1.Melaksanakan disiplin dan mobilitas yang tinggi pada gerakan-gerakan dakwahnya secara tetap dan baku.
2.Melalui pendekatan-pendekatan pribadi secara halus, luwes, dan telaten.
3.Dengan mengajak naik haji/umrah bergabung dengan rombongan KBIH milik jama’ahnya untuk dijebak ikut bai’at.
4.Melalui sarana pengajian, shalat Iedul fitri/Adha, I’tikaf ,
5. di acara kelompok cinta alam, kelompok sepak bola, di kampus-kampus, dan di sekolah-sekolah, dan lain sebagainya.
6. Sistem ala Yahudi, yaitu selalu merasa kelompok alirannya yang paling benar, selalu mengukur kebenaran dengan dirinya dan kelompoknya.
7. Dalam konsep kerja oprasionalnya, wajib selalu menang.
8. Sistem firasat buah pisang dan pohonnya.
9. Sistem poligami ala Manqul Amir (Wahyu).
10. Sistem Sakralisasi, mengkultus individu sang Amir.
11. Sistem pembentukan Muhajirin dan Anshor.
12. Sistem jama’ah ABRI (TNI/POLRI sekarang) untuk membentengi kelompok LDII.
13. Sistem perinatah Amir, wajib membela aliran kelompoknya.
14. Sistem fatwa Amir, bahwa alirannya adalah yang paling mutlak benar, dan selamat dari api Neraka dan masuk Surga.
15. Sistem peryataan taubat kepada Amir, yang sifat taubatnya ditentukan oleh Amir.

Pengertian Fathonah, Bithonah, Budi Luhur.
Fathonah:
Yang dimaksud dengan Fathonah tersebut adalah untung menguntungkan, maksudnya dalam perjuangan harus diusahakan jama’ah tetap untung dan masyarakat tidak dirugikan.
Bithonah:
Sesuatu yang apabila dikeluarkan akan menimbulkan kerusakan.
Budi Luhur:
Budi pekerti yang baik, budi yang selalu menta’ati peraturan-peraturan, dan para Jama’ah harus menerapkan akhlakul karimah.

CARA PENYEBARAN AJARAN LDII
1.Dalam tahapan pertama, kepada calon pengikut (pemula) yang masih awam dalam pemahaman agama, mereka diberikan pelajaran Tauhid, Fiqih, akhlak, dan lain-lain yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Hadits, yang kemudian dihafalkan dan dihayati.
2.Pengikut-pengikut yang sudah paham dan sudah bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits serta terjemahannya, diharuskan menyampaikan ajarannya kepada teman-teman yang belum masuk dalam kelompok LDII.
3.Pada tahapan selanjutnya barulah mereka di bai’at kepada Amirul Mukminin mereka secara langsung atau melalui wakil-wakil Amir.Inilah awal diikatnya anggota baru dengan ikatan yang kuat yang tidak mudah lepasa kecuali dengan hidayah Allah SWT.

Setelah itu, kepada mereka (anggota kelompok baru yang telah di bai’at), sedikit-demi sedikit diajarkan hadits-hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an yang artinya dipahami dengan cara mereka sendiri untuk menguatkan kelompok LDII.Sampai tingkat ini anggota baru sudah terkait kepada:
Keharusan patuh dan taat kepada Imamnya beserta wakil-wakilnya.
Ketentuan tidak boleh menerima ilmu agama dari luar kelompok jama’ahnya.
Keyakinan bahwa mereka sudah terjamin masuk surga, dan bebas neraka maenurut imamnya.
Menurut penafsiran Madigol sebagai berikut:
1. Setiap muslim di dunia ini, tidak halal hidupnya , maka tidak halal pula minum, makan, dan bernafasnya.
2. Dan setiap muslim yang hidupnya masih haram karena belum bai’at, maka harta bendanya halal untuk dicuri, dan darahnya pun halal karena statusnya sama dengan orang kafir dan Islamnya tidak sah.
Penafsiran tersebut jelas menyimpang dari kebenaran dan menyesatkan pemahaman,
yang pertama, hadits ini tidak membicarakan pembai’atan, karena di dalam hadits tersebut tidak ada kata-kata bai’at.
Kedua, hadits ini adalah hadits yang shahih, atau dha’if karena di dalam sanadnya ada seseorang yang bernama Ibnu Luhai’ah yang dilemahkan hafalannya.

Penyimpangan Dalam Memahami Konsep Bai’at dalam Syari’at.

Bai’at adalah perjanjian untuk ta’at, di mana orang yang berbai’at kepada Imam atau Khalifahnya untuk mendengar dan ta’at kepadanya, baik dalam dalam hal menyenangkan maupun hal yang tidak disukai, dalam keadaan mudah maupun susah.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya:
“Maka apabila engkau melihat adanya Khalifah, menyatulah padanya, meskipun ia memukul punggungmu.Dan jika Khalifah tidak ada, maka menghindar.” (HR.Thabrani dari Khalid bin Sabi’).
Maksud hadits diatas adalah, apabila Khalifah atau keKhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai’at pun tidak ada juga.
Hadits inilah yang dijadikan oleh Madigol sebagai dasar menjadikan bai’at dari pengikutnya untuk dirinya.Padahal ini termasuk manipulasi pemahaman yang menyesatkan, dengan kata lain Madigol dan anaknya yang dijadikan penerusnya telah menempatkan dirinya sebagai Khalifah.
Disamping itu, pemahaman Madigol mengandung konsekuensi pengkafiran terhadap sebagian sahabat Nabi SAW yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah, seperti (Mua’wiyah bin Abi Sufyan) yang tidak mau berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib.Begitu pula Husein bin Ali yang tidak mau berbai’at kepada Yazid bin Mu’awiyah.
Sedangkan hukum mengkafirkan Sahabat itu adalah murtad, yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri .Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS.Al-Fath:10).

Penyimpangan Dalam Mengambil Hukum (Ijtihad).
Banyak sekali pemahaman Madigol yang menyimpang dari syari’at dan ditelan mentah-mentah oleh pengikutnya.Madigol menegaskan bahwa Imam dalam hal ini adalah dirinya, dan wajib berijtihad untuk kepentingan jama’ahnya.Dalil yang digunakan adalah hadits yang artinya:
“Siapa saja penguasa, yang menguasai suatu persoalan dari umatku, kemudian ia tidak memberi nasehat dan ijtihad bagi mereka sebagaimana ia menasehati dan bersusah payah untuk kepentingan dirinya, maka pasti Allah telungkupkan wajahnya di Neraka pada hari Kiamat.” (HR.Thabrani)
Hadits ini terdapat dalam kitab Kanzul Ummal, versi Islam Jama’ah/LDII dengan judul “Kitabul Imarah”, hal 21.Selanjutnya Madigol mengatakan bahwa berdasarkan hadits tersebut, Ia sebagai Imam harus memberi nasihat dan ijtihaad kepada jama’ah, karena kalau tidak Ia akan dimasukkan ke dalam Neraka.

Tentang Doktrin Ilmu Manqul.
Menurut Pengakuan Madigol ilmu itu tidak sah atau tidak bernilai sebagai ilmu agama, kecuali ilmu yang disahkan oleh Madigol sendiri, yang didapat secara Manqul (mengaji secara menukil), yang bersambung dari mulut ke mulut dari mulai Madigol sampai kepada Nabi Muhammad SAW lalu ke Malaikat Jibril yang langsung dari Allah SWT.Dan dia pun mengaku hanya dia yang mempunyai isnadyang sapai ke Nabi Muhammad SAW dan seterusnya.
Dari adanya pengakuan diatas yang diungkapkan oleh Madigol, bahwa agama itu sah jika sudah di-Manqul oleh Madigol, dan dia telah menafikan semua keilmuan Islam yang datang dari semua Ulama, Ustadz, kiyai, dan dari lembaga-lembaga keislaman yang ada di seluruh dunia.
Sehubungan dengan faham ilmu Manqul ini Madigol bersandar kepada pendapat seorang Tabi’ien yang bernama Abdullah bin Mubarak:
“Telah berkata Abdullah bin Mubarak : “Sandaran guru itu termasuk pada agama.Dan kalau tidak ada isnad, tentu orang akan mengatakan semau-maunya dalam agama ini.”
Maksud pendapat diatas adalah diperuntukkan bagi ahli-ahli hadits, yaitu pada zaman atau tahap-tahap penghimpunan hadits dari zaman sahabat, kemudian tabi’ien, kemudian tabiut-tabi’ien.

PENUTUP

Begitulah sekilas tentang sejarah singkat LDII dengan berbagai macam ajarannya yang sesat dan menyesatkan bagi umat manusia, yang sengaja berselubung di dalam berbagai macam nama agar paham terealisasikan dengan sempurna.
Semoga dengan adanya tulisan singkat ini, kita bisa memilih dan memilah mana ajaran yang baik dan mana yang buruk.
“Wallahu A’lamu Bish-Shawab”

PENGARANG : M.AMIN DJAMALUDDIN
OLEH : AHMAD ZAYYADI

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s