Ringkasan : Ma’na Ibadah, Sifat-2 Ibadah dan Syarat-2 Ibadah


Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tujuan diciptakannya manusia, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Tujuan diutusnya para rasul adalah untuk menda’wahkan, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’,….”

Dua ayat di atas mengandung kata “IBADAH”,

Ibadah secara bahasa berasal dari kata:
الخضوع والانقياد والتذلل
ketundukan, kepatuhan dan kerendahan diri.
Dalam bahasa arab dikatakan:
بعير معبد
Bermakna onta yang telah dijadikan sebagai pelayan. Atau:
طريق معبد
Bermakna jalan yang direndahkan / diratakan agar mudah dilewati.
Secara syar’i bermakna:
غاية الحب مع غاية الذل
Yaitu puncak kecintaan yang disertai dengan puncak kerendahan diri.
Dan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال و الأعمال الباطنة والظاهرة
“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik yang batin maupun yang nampak.
Berdasarkan hal ini maka ma’na ibadah sangatlah luas dan tidaklah seperti diprasangka oleh sebagian orang. Mereka membatasi ibadah pada sujud, ruku’ dan shalat. Bisa jadi mereka beribadah kepada selain Allah dengan bentuk bentuk ibadah yang lain sedangkan mereka tidak menyadarinya, sehingga mereka jatuh pada kesyirikan yang mana Allah tidak mengampuni dosa orang yang mati diatasnya.
Allah Ta’ala berfirman:
إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang lebih ringan dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An Nisa:48).
Oleh karena itu, wajib bagi orang yang menghendaki keselamatan dari api neraka dan menghendaki agar dapat masuk surga untuk memahami ma’na ibadah dan bentuk bentuknya, agar ia dapat mempersembahkan semua bentuk bentuk ibadah tersebut hanya untuk Allah ta’ala. Karena hal tersebut adalah hak Allah subhanahu atas seluruh hamba, bila mereka telah menepatinya, maka hak atas Allah untuk memasukkan mereka ke surga, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Mu’adz bin Jabal rodiyallahu ‘anhu.
Ibadah dapat juga berarti tanassuk dan taalluh (segala bentuk taqorrub kepada Allah) seperti sujud, ruku dan sholat. Juga do’a termasuk ibadah. Istighosah (meminta pertolangan) pada hal hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah termasuk juga ibadah yang wajib untuk tidak dipersembahkan kepada selain Allah. Demikian juga halnya dengan isti’adzah (meminta perlindungan):
وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki laki dari jin, maka jin jin tersebut menambah bagi mereka dosa dan kehinaan” (surat Al Jin : 6)
Demikian juga menyembelih binatang, nadzar dan lain lain, itu semua termasuk dari bentuk bentuk ibadah yang wajib untuk tidak dipersembahkan kepada selain Allah. Allah yang maha suci berfirman:
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين
“Katakanlah : Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rob alam semesta, tiada sekutu baginya. Dengan hal inilah saya telah diperintahkan, dan saya adalah orang yang pertama yang menyerahkan diri” (Al An’am : 162, 163).
Allah ta’ala juga berfirman:
فصل لربك وانحر
“Maka dirikanlah sholat untuk Rabb mu dan berkorbanlah” (Al Kautsar : 2 )
Nahr (menyembelih dengan cara menahr/menikam)dan dzabh (menyembelih binatang dengan menggorok) adalah sama dengan sholat yang wajib hanya dipersembahkan kepada Allah. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang do’a: “Do’a adalah ibadah”.
Ibadah juga bermakna ketaatan dan ketundukan yang mutlak. Allah ta’ala berfirman:
ألم أعهد إليكم يا بني آدم ألا تعبدوا الشيطان إنه لكم عدو مبين
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai bani Adam supaya kalian tidak beribadah kepada setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian” (Yasin : 60).
Ibadah kepada setan di sini bermakna ketaatan kepadanya. Demikian juga firman Allah ta’ala tentang Fir’aun dan para pembesar perbesarnya:
فقالوا أنؤمن لبشرين مثلنا و قومهما لنا عابدون
“Mereka berkata: “Apakah (patut)kami beriman kepada dua orang manusia (Nabi Musa dan Nabi Harun) yang seperti kami sedangkan kaum mereka berdua (Bani Israel) adalah orang orang yang beribadah (menghambakan diri) kepada kami ?” (Al Mu’minun : 47)
Yang dimaksud dengan ibadah disini adalah ketaatan dan ketundukan secara mutlak dalam segala hal, dan ini tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Bila dipersembahkan kepada selain Allah maka terdapat dua macam:
1. Ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah azza wa jalla (tanpa menghalalkan maksiat tersebut). Seperti bila syetan menghiasi dalam pandangannya perbuatan zina lalu kemudian ia mentaati syetan tersebut. Atau bila tuannya menyuruhnya untuk meminum khamar lalu ia mentaatinya, atau bila pimpinannya menyuruhnya mencukur jenggot kemudian ia mentaatinya dan ia tetap meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah haram, maka ketaatan seperti ini juga tercakup dalam makna kata ibadah dan pelakunya disebut sebagai orang yang beribadah kepada syetan (maksudnya adalah orang yang mengikuti ajakan syetan) akan tetapi tidak sampai kepada kekafiran kecuali bila ia menghalalkan maksiat tersebut. Perbuatan ini (ketaatan seperti ini) adalah haram dan Nabi telah memperingatkan agar tidak melaksanakannya dengan peringatan yang paling keras, Beliau bersabda:
لا طاعة لمخلوق في معصية الله إنما الطاعة في المعروف
“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan hanya dalam hal hal yang ma’ruf”. (Hadits riwayat Muslim).
2. Ketaatan dalam dalam masalah hukum dan tasyri’ (pembuatan undang undang). Maksudnya adalah ketaatan dalam masalah tahlil (penghalalan sesuatu) dan tahrim (pengharaman sesuatu). Ketaatan seperti ini tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, dan bila dipersembahkan kepada selain Allah maka merupakan perbuatan syirik akbar. Karena tidak ada yang berhak dalam masalah hukum dan tasyri’ (pembuatan undang undang) selain Allah yang maha Satu lagi maha Pemaksa. Allah azza wa jalla berfirman:
ولا يشرك في حكمه أحدا
“Dan Dia tidak mengambil sekutu seorangpun dalam menetapkan hukum”(Alkahfi : 26)
Allah ta’ala juga berfirman:
إن الحكم إلا لله
“Hukum hanyalah milik Allah” (Yusuf : 40)
Hukum dan pembuatan undang undang merupakan salah satu kekhususan uluhiyah (peribadatan) yang paling khusus. Oleh karena itu, salah satu makna dari kata Al Ilah adalah Ar Musyarri’ (pembuat hukum), dan termasuk dari asma’ Allah al husna adalah Al Hakam dan Al Hakiim (keduanya bermakna Penentu hukum).
Oleh karena itu, barang siapa yang membuat hukum atau mewajibkan undang undang dan hukum yang bukan hukum Allah azza wa jalla, maka dia telah menisbatkan pada dirinya salah satu dari sifat sifat uluhiyah, dan dengan hal ini ia telah menjadi seperti Fir’aun yang berkata:
ما علمت لكم من إله غيري
“Saya tidak mengetahui adanya ilah bagi kalian selain diriku” (Al Qoshosh : 38).
Adapun dalil dalil yang yang menegaskan bahwa hanya dengan ketaatan dan ittiba’ (ikut)  dalam masalah hukum dan undang undang yg menyelisihi al qur’an dan sunnah rasul (dalam penghalalan dan pengharaman sesuatu) adalah merupakan perbuatan syirik adalah banyak, diantaranya adalah firman Allah ta’ala:
وإن الشياطين ليوحون إلي أوليائهم ليجادلوكم وإن أطعتمواهم إنكم لمشركون
“Sesungguhnya setan setan itu membisikkan kepada wali wali mereka agar membantah kalian. Jika kalian mentaati mereka, maka sungguh kalian benar benar menjadi orang orang musyrikin.” (Al An’am : 121)
Ketaatan kepada wali wali syetan disini merupakan perbuatan syirik dan ibadah kepada selain Allah azza wa jalla, karena ketaatan tersebut adalah ketaatan dalam masalah hukum dan undang undang, maksudnya dalam masalah tahlil dan tahrim (penghalalan dan pengharaman sesuatu), yang mana ketaatan seperti ini tidak seyogyanya dipersembahkan kecuali kepada Allah azza wa jalla.
Hal itu seperti yang telah diriwayatkan oleh Al Hakim dan oleh selain beliau dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas rodiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Orang orang musyrikin mendebat orang orang muslim seputar masalah menyembelih binatang dan pengharaman bangkai, mereka (orang orang musyrik) berkata: “Kalian memakan apa apa yang kalian bunuh, dan kalian tidak memakan apa apa yang Allah bunuh?” Lalu Allah ta’ala berfirman:
وإن أطعتموهم إنكم لمشركون
“Jika kalian mentaati mereka, sungguh kalian benar benar menjadi orang orang musyrikin”.
Jadi, hanya dengan ketaatan dalam masalah ini saja, dianggap sebagai perbuatan syirik. Ibnu katsir rohimahullah ta’ala berkata: “Maksudnya, penolakan kalian terhadap perintah dan syariat Allah bagi kalian, dan penerimaan kalian perkataan selain-Nya, sehingga kalian mengedepankan selain Allah atas Allah, maka hal ini merupakan perbuatan syirik.” (Ibnu Katsir).
Oleh karena itu, barang siapa yang taat kepada para ulama, atau para  pemimpin dalam masalah pengharaman apa apa yang telah dihalalkan oleh Allah atau penghalalan apa apa yang telah diharamkan oleh Allah yang terkandung dalam fatwa fatwa mereka atau undang undang mereka yang mereka gunakan untuk mengatur manusia, maka orang tersebut (orang yang mentaati tadi) telah menjadikan mereka (para ulama dan pemimpin tadi) sebagai rob rob selain Allah, sehingga akibatnya ia  bisa jatuh menjadi seorang musyrik.
Firman Allah yang menggambarkan keadaan ahli kitab juga menunjukkan hal tersebut:
اتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله
“Mereka menjadikan ulama ulama dan pendeta pendeta mereka sebagai rob rob selain Allah.” (At Taubah : 31). (Utk tafsir dan bagaimana ulama memahami At Taubah ayat 31, Al An’am ayat 121 dan hadits Ady Bin Hatim silahkan baca juga : https://forumstudysekteislam.wordpress.com/2013/06/13/sungguh-kami-tidaklah-menyembah-mereka/ di blog ini)
Menjadikan para ulama dan pendeta sebagai rob rob disini tidaklah dimaksudkan dengan perbuatan sujud dan ruku’ kepada mereka. Akan tetapi yang dimaksud oleh ayat ini adalah dengan perbuatan taat kepada mereka dalam masalah hukum, perundang undangan, tahlil (penghalalan sesuatu) dan tahrim (pengharaman sesuatu). Karena ketaatan dalam masalah ini adalah sebuah bentuk ibadah seperti halnya ruku’ dan sujud, yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada Allah. Oleh karena itu, Allah telah mengingkari perbuatan mereka ini di bagian akhir ayat, Dia berfirman:
وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali hanya untuk beribadah kepada Ilah yang Satu, tidak ada ilah selain Dia, Maha Suci Dia dari apa apa yang mereka persekutukan.” (Al Bayyinah ayat 5)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang orang orang yang semisal mereka yang taat dan mengikuti kepada selain syariat-Nya:
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يآذن به الله ولو لا كلمة الفصل لقضي بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم
“Apakah mereka memiliki sembahan sembahan yang mensyari’at-kan bagi mereka din yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih”. (Asy Syuuro : 21)
Sifat sifat ‘ibadah
Suatu ibadah, agar menjadi seperti yang dituntut oleh Allah kepada kita, seyogyanya disertai dengan 3 perkara, yaitu:
– Al Hubbu (rasa cinta),
– Al Khouf (rasa takut), dan
– Ar Roja (rasa berharap).
1. Kita beribadah kepada Allah karena rasa cinta kita kepada-Nya. Allah telah memuji hamba hamba-Nya dengan hal tersebut. Dia berfirman:
والذين آمنوا أشد حبا لله
“Dan orang orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah” (Al Baqoroh : 165)
2. Demikian juga kita beribadah kepada-Nya karena rasa takut kita dari adzab Allah yang maha Suci. Allah ta’ala berfirman:
فلا تخافوهم و خافون إن كنتم مؤمنين
“Maka janganlah kalian takut pada mereka, takutlah kepada-Ku jika seandainya kalian orang orang beriman.” (Ali ‘Imron : 175)
Dan Allah azza wa jalla juga berfirman:
يدعون ربهم خوفا وطمعا
“Mereka menyeru Rob mereka dengan perasan takut dan rasa tamak”
Maksudnya, dengan penuh rasa takut dari adzab-Nya dan rasa tamak terhadap ampunan-Nya, surga-Nya dan pahala-Nya.
3. Demikian juga rasa roja’ (rasa berharap). Allah ta’ala berfirman:
ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا
“Dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut dari adzab-Nya, sesungguhnya adzab Rob mu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (Al Isroo’ : 57).
Kita beribadah kepada Allah atas dasar rasa cinta kepada-Nya, rasa takut dari dari adzab-Nya, dan rasa berharap kepada ampunan dan pahala-Nya dalam satu waktu. Beginilah keadaan dan ciri orang orang sholeh dan beginilah sifat yang benar yang diinginkan oleh Allah dari hamba hamba-Nya, oleh karena itu sebagian para salaf berkata:
من عبد الله بالحب وحده فهو زنديق ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ أما صاحب السنة فيجمع بين ذلك كله
“Barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa cinta saja, maka dia adalah seorang zindiq.[*].Dan barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan rasa takut saja, maka dia adalah seorang haruriy.[**] Dan barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan rasa roja’ (berharap) saja, maka dia adalah seorang murjiah.[***] Adapun ahlus sunnah, maka dia mengumpulkan semua perasaan tersebut.
[*]Sebagaimana sebagian orang orang sufi mengaku ngaku bahwa mereka adalah orang orang yang dicintai oleh Allah. Mereka beribadah kepada-Nya hanya atas dasar cinta kepada-Nya saja dan bukan atas dasar takut dari hukuman-Nya serta bukan pula atas dasar rasa roja’ dan berharap kepada ampunan dan pahala’Nya. Hal ini adalah salah satu sebab terbesar dari kesesatan dan penyimpangan mereka. Karena mereka menyelisihi perintah Allah azza wa jalla, dimana Dia telah memerintah kita untuk beribadah kepada-Nya dengan rasa takut dan rasa berharap secara bersamaan. Dia berfirman:
ادعوه خوفا و طمعا
“Dan berdo’alah kalian kepada-Nya dengan rasa takut dan rasa tamak”(Al A’roof : 56).
Mereka yang sesat ini tidaklah lebih paham dan lebih berilmu dari para Nabi dan hamba hamba Allah yang sholih yang telah disifati oleh Allah bahwa mereka menyeru Rob mereka dengan rasa takut dan rasa tamak, dan Dia memuji mereka atas hal tersebut.
[**]Haruriyyah adalah orang orang khowarij, dinisbatkan kepada haruro’ yaitu nama suatu negeri tempat dimana mereka mulai nampak.
[**] Al Murji’ah yaitu mereka yang mengesampingkan amalan dari iman. Maksudnya, mereka mengakhirkan dan menyepelekan amalan serta tidak menjadikannya sebagai syarat atau rukun dari iman. Sebagaimana banyak orang orang sekarang mengatakan ketika mereka diajak untuk sholat atau amalan amalan wajib yang lain : “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, tanpa memenuhi sesuatupun dari ajakan tersebut.
Syarat syarat ‘ibadah
Adapun syarat diterimanya suatu ibadah adalah:
– Al Iman (keimanan),
– Al Ikhlas (ikhlas), dan
– Al Ittiba’ (mengikut petunjuk Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam).
Ibadahnya seseorang tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhinya syarat syarat tersebut semuanya.
Ibadah tanpa iman adalah tertolak. Dalil Al Qur’an mengenai hal ini banyak diantaranya ;
1.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukimin, maka mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dizhalimi sedikitpun” (QS. An-Nisa [4]: 124).
 2. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukmin, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl [16]: 97)
3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا
“Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia itu mukmin, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zhalim terhadapnya dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya”. (QS. Thaha [20]: 112)
4. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan sedang dia itu mukmin, maka usahanya tidak akan diingkari (sia-sia) dan sungguh Kami akan mencatat untuknya” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 94)
5. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang dia itu mukmin, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS. Al Isra [17]: 19)
Iman telah dijadikan sebagai ikatan (atau batasan) terhadap hal tersebut.
Demikian juga ikhlas, tanpanya suatu amalan tidak akan terkabulkan.
Allah berfirman:
وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali hanya untuk beribadah kepada Ilah yang Satu, tidak ada ilah selain Dia, Maha Suci Dia dari apa apa yang mereka persekutukan.” (Al Bayyinah ayat 5)
Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsiy:
أنا أغني الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
“Saya adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang beramal suatu amalan, dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalam amalan tersebut, maka Aku meninggalkannya beserta sekutunya tersebut.”
Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apa apa yang dikerjakan secara ikilas untuk-Nya.
Demikian juga dengan ittiba’, Allah tidak menerima suatu amalan kecuali yang sesuai dengan apa apa yang telah disyari’atkan oleh-Nya, maksudnya kecuali amalan yang showaab (yang benar). Banyak sekali dalil tentang ittiba’ ini
Waallahuaam

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s