Apakah Setiap Orang yang Keluar dari Ketaatan Penguasa Disebut Khawarij?


image
PENGANTAR :
Cerita tentang At Thuyur (burung peliharaan Sultan)

Pernah suatu ketika Khalifah Al Manshur mengunjungi Sufyan Ats Tsauri. Lalu dia mengatakan kepadanya, “ Hai Sufyan, apa yang menjadi hajatmu?”

“Engkau dapat memberikannya padaku? Jawab Sufyan.

“Ya” Jawan Al Manshur.

Lalu Sufyan berkata,”Janganlah kau datang kepadaku sampai aku mengirim utusan kepadamu, dan janganlah mengirim seorang utusan padaku sampai aku sendiri yang minta.”

Maka Al Manshur berkata seraya membalikkan badan dan kembali pulang,” Semua burung dapat kami jinakkan dan saya tangkap kecuali Sufyan”.

Apakah Setiap Orang yang Keluar dari Ketaatan Penguasa Disebut Khawarij?

Khuruj atau keluar dari ketaatan terhadap penguasa Islam menjadi topik menarik dalam wacana Siyasah Syar’iyyah (Politik Islam). Ia merupakan bentuk protes dan perlawanan terhadap penguasa. Perwujudannya bisa beragam, mulai dari menolak baiat (janji setia) terhadap Imam, melepas baiat yang telah diikrarkan, hingga pemberontakan. Meski demikian para ulama lebih sering menyebut istilah Khuruj sebagai sebuah pemberontakan.[1]

Latar belakang dan motivasinya juga beragam, karenanya, Abdullah bin Umar Sulaiman Ad-Dumaiji termasuk yang tidak setuju menghukumi kelompok penentang (al-khaarijun) secara mutlak dengan hukum tertentu (khos), tanpa terlebih dahulu dilihat apa latar belakang dan motivasi sebuah pemberontakan dilakukan. Hingga menurutnya perlu dikembalikan pada lima dasar hukum dalam Islam, yakni haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib. [2]

Karenanya, untuk mencapai kesimpulan lima dasar hukum di atas diperlukan kajian secara teliti dan obyektif. Untuk itu diperlukan pendefinisian secara tepat tiga unsur utama, Al-Khaarijun (kelompok yang khuruj), Al Makhruj Alaih (Penguasa), dan Wasilatul Khuruj (sarana khuruj). Ketepatan mendefinisikan tiga unsur di atas tentu sangat urgen untuk beroleh sebuah konklusi hukum yang tepat pula.

Unsur penguasa misalnya, ia tidak akan lepas dari tiga kategori: Imam adil, Imam Ja’ir/zalim (maksiat) dan Imam Murtad (kufran bawwahan). Penegasan status kategori di atas menjadi penting karena akan memengaruhi status hukum Al-Khaarijun (kelompok penentang). Khuruj terhadap Imam Adil misalnya, tentu tidak bisa disamakan dengan Khuruj terhadap Imam Murtad (kufran bawwahan).

Kelompok penentang dan sikap terhadap mereka
Dua amal yang secara lahiriah tampak identik atau bahkan sama persis tidak menjamin kesamaan niat, motivasi, dasar pijakan dan juga muara akhir. Dalam konteks perlawanan terhadap penguasa misalnya, tidak bisa disamakan antara perlawanan Husein bin Ali terhadap Yazid dengan perlawanan Khawarij terhadap Ali bin Abi Thalib. Ulama mengklasifikasikan kelompok penentang penguasa Islam sekurang-kurangnya menjadi empat kategori, yakni Khawarij, Al Muharabun, Bughat dan Ahlul Adl.
Pertama, Khawarij. Sebagaimana diketahui, khawarij merupakan sekelompok orang yang melakukan pemberontakan terhadap Imam Adil Ali bin Abi Thalib. Pemberontakan dipicu oleh penolakan mereka terhadap Tahkim antara kubu Ali bin Abi Thalib dan kubu Mua’wiyah.

Mereka digambarkan sebagai kelompok yang bersahaja namun tidak berilmu. Akibatnya, mereka terlalu gegabah dalam menuduh selain kelompoknya sebagai kafir. Hal ini berangkat dari logika sederhana mereka bahwa orang muslim tidak mungkin maksiat. Barang siapa maksiat berarti bukan muslim. Konyolnya, maksiat itu sendiri diukur atas persepsi (ra’yu) mereka, hingga apa yang dilakukan oleh Ali bin Thalib dan sahabat lain dipandang sebagai maksiat karenanya telah keluar dari Islam. Berikutnya, kelompok ini berkembang menjadi kelompok ideologi yang memiliki prinsip-prinsip (mabadi’) Aqidah menyimpang. Yang paling menonjol adalah sikap pengkafiran terhadap pelaku maksiat dan pandangan wajib memberontak kepada Imam Ja’ir.

Terhadap kelompok semacam ini Rasulullah bersabda:

“Seorang di antara kamu akan menganggap remeh (amat sedikit) shalatnya ketika membandingkan dengan shalat mereka, akan menganggap remeh (amat sedikit) shaumnya ketika membandingkan dengan shaum mereka dan akan menganggap remeh bacaan Al-Qur’annya ketika membandingkan dengan bacaan Al-Qur’an mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tidak sampai melampaui tenggorokannya. Dan mereka melesat lepas dari Islam sebagaimana melesatnya batang anak panah dari busurnya. Di mana kamu jumpai mereka, maka bunuhlah mereka. Sesungguhnya pembunuhan terhadap mereka akan mendapat pahala di hari Kiamat bagi yang membunuhnya” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Para sahabat pun menyikapi secara tegas. Mereka turut memerangi bersama Ali bin Abi Thalib.

Kedua, Al Muhaaribun. Sekelompok pembuat onar yang sering mengganggu stabilitas keamanan, meresahkan penduduk dengan melakukan aksi teror, perampokan pencurian dan sejenisnya. Kewajiban Imam adalah menegakkan hukum (hadd) seperti tertera dalam Al Maidah: 33:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”.

Untuk menjelaskan ayat di atas, Imam Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Jika mereka—al-muharibun—membunuh sekaligus merampas harta, maka hukuman mereka dibunuh dan disalib, jika mereka membunuh tanpa merampas harta maka hukumannya dibunuh tanpa disalib, jika mereka merampas harta tanpa membunuh maka dipotong tangan dan kaki mereka secara bertimbal balik, dan jika mereka menakut-nakuti di jalanan (teror) tanpa merampas harta maka hukumannya diusir dari negeri…”.[3]
Ketiga, Bughat. Sekelompok yang melawan Imam Adil. Motivasinya bisa karena menuntut hak, ambisi jabatan, ambisi dunia, kepentingan kelompok, kesalahpahaman atas sebuah persoalan, dan lain-lain.[4]
Kelompok semacam ini tidak boleh langsung diperangi, melainkan diperlukan pola pendekatan persuasif (islah) dengan mencoba melacak lebih jauh apa motivasi perlawanannya. Jika ada kesalahpahaman (syubhat) maka perlu diberi penjelasan, jika ada hak yang terampas maka perlu dikembalikan. Jika pola Islah tidak membuahkan hasil, baru dilakukan cara represif.[5] Seperti firman Allah dalam Al Hujurat: 5.

“Dan jika dua golongan orang beriman saling berperang, maka islahlah antara keduanya, Jika salah satu dari keduanya melampaui batas (bughot), maka perangilah kelompok yang melampaui batas sampai kembali kepada urusan Allah”
Keempat, Ahlul Haq (Pembela Kebenaran). Sekelompok penegak keadilan yang melawan Imam Ja’ir. Seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar: “Sekelompok yang khuruj terhadap penguasa dalam keadaan marah atas dasar dien, karena melihat penguasa yang ja’ir (zalim) dan meninggalkan sunnah (tuntunan) Nabi. Mereka adalah Ahlul Haq, termasuk di dalamnya, Husein bin Ali, Penduduk Madinah dalam perang Harrah, dan mereka yang melawan Hajjaj bin Yusuf”. [6]

Seperti disebut dalam sejarah, Husein bin Ali, Ibnu Zubair dan Penduduk Madinah, pernah menentang penguasa pada masanya.
Pertikaian itu terjadi, di samping karena prosedur pengangkatannya yang dipersoalkan, juga menyangkut kelayakan. [7]

Al Waqidi meriwayatkan dari jalan Adullah bin Hanzhalah Al-Ghasiil, “Demi Allah, kami tidak khuruj; terhadap Yazid kecuali karena kami takut dihujani batu dari langit. Karena sesungguhnya ia orang yang menggauli ummahatul aulad—budak-budak yang telah melahirkan dan tidak sah digauli, gadis-gadis, akhwat, suka meminum khamer, dan meninggalkan shalat. [8]

Ketidaklayakan itulah yang menjadikan Husein bin Ali Abdullah bin Zubair enggan berbaiat. Husein yang semula menolak ajakan khuruj penduduk Kufah pada masa Mu’awiyah, menjadi berpikir lain ketika Yazid tampil. Didukung penyataan tertulis penduduk Irak yang menyatakan akan mendukungnya, ia akhirnya pergi ke Kufah beserta kerabat dan beberapa pendukungnya dari Hijaz. Beberapa sahabat senior seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan yang lain berusaha mencegah kepergiannya karena khawatir mereka akan dibunuh. Para sahabat juga sangsi atas kesetiaan penduduk Irak. Namun, nasihat tersebut tidak dihiraukan, dan akhirnya apa yang dikhawatirkan menjadi kenyataan. Husein beserta keluarga dan pendukungnya dibantai di Karbala. [9]

Tahun 63 Hijriah, giliran penduduk Madinah melepaskan baiat terhadap Yazid, atau yang lebih dikenal dengan tragedi Harrah. Imam Suyuthi berkata, “Sebab penduduk Madinah melepaskan bai’ah adalah karena Yazid berlebih-lebihan dalam maksiat”. [10] Ibnu Katsir menjelaskan, tragedi Harrah bermula saat utusan penduduk Madinah menghadap Yazid bin Mu’awiyah di Damaskus di bawah pimpinan Abdullah bin Handhalah bin Abi Amir. Mereka disambut dengan baik.

Sepulang dari Damaskus, para utusan bercerita kepada penduduk Madinah perihal perilaku menyimpang Yazid, seperti meminum khamer yang berdampak munculkan kemungkaran-kemungkaran lain, termasuk kesalahan yang dinilai paling besar adalah meninggalkan shalat karena mabuk. Penduduk Madinah kemudian bersepakat melepaskan ketaatan. Hal ini mereka lakukan di mimbar Nabi. Mendengar hal ini, Yazid mengutus pasukan di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah—para Salaf memelesetkan menjadi Musrif (melampaui batas) bin Uqbah. Sesampainya di Madinah, mereka menghalalkan Madinah selama tiga hari. Ribuan penduduk dibunuh. Dari kalangan Ahli Qur’an saja, menurut Imam Malik, tidak kurang dari 700 orang. [11]

Pasukan mengarah ke Makkah untuk mengepung kelompok Ibnu Zubair yang tengah berlindung di Ka’bah. Di tengah perjalanan, komandan pasukan mati, kemudian digantikan oleh yang lain. Mereka mengepung dan memerangi kelompok Ibnu Zubair dengan menggunakan manjaniq—pelontar batu—hingga merusak Ka’bah. Ini terjadi bulan Shafar tahun 64 Hijriah. Pada tahun itu juga Yazid meninggal dunia, penduduk Syam mengangkat Mu’awiyah bin Yazid atas wasiat Amir sebelumnya, dan kepemimpinannya hanya berlangsung 20 hari—dalam riwayat lain 40 hari—karena keburu meninggal dunia. Sementara Abdullah bin Zubair menyeru penduduk untuk membaiat (mengangkat) dirinya menjadi imam. Ia resmi menjadi Amirul Mukminin dan diakui oleh penduduk Hijaz, Iraq dan Khurasan. Semenjak itu terjadi dualisme kepemimpinan.

Sepeninggal Mu’awiyah bin Yazid, penduduk Syam mengangkat Marwan bin Hakam. Dalam kasus ini Adz-Dzahabi menyatakan—dan pernyataan ini dibenarkan As-Suyuthi—bahwa Marwan bin Hakam tidak sah sebagai Amirul Mukminin karena menurut riwayat yang benar, tidak ada pengangkatan dirinya oleh Amir sebelumnya. Karenanya ia berstatus Bughat terhadap Amir yang sah, Ibnu Zubair.

Ibnu Zubair terus mengendalikan pemerintahannya dari Makkah hingga akhirnya ia berhasil digulingkan oleh Abdul Malik bin Marwan yang mengutus Hajjaj beserta pasukannya mengepung Makkah selama berbulan-bulan. Seperti pasukan sebelumnya, Hajjaj juga menggunakan pelontar batu hingga berhasil membunuh Ibnu Zubair beserta pendukungnya pada Jumadil Ula tahun 73 Hijriah. Sejak itu ahli sejarah semacam Suyuthi, baru menyatakan sah atas kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan. [12]

Meski singkat, penggalan sejarah di atas cukup memberikan gambaran tentang motivasi penentangan yang dilakukan Hussein bin Ali, Penduduk Madinah dan Ibnu Zubair terhadap penguasa masa itu. Tak lain, adalah semangat pembelaan terhadap dien. Karenanya, para Ulama memasukkan mereka pada kategori Ahlul Haq, bukan Khawarij, bukan bughat dan bukan yang lainnya.

Terhadap kelompok semacam ini Al Hafidz berpendapat, “Adapun barang siapa yang keluar dari ketaatan terhadap Imam Ja’ir untuk membela hak harta, jiwa dan keluarganya maka ia ma’dhur (mendapat udhur) dan tidak halal memeranginya, dan baginya hendaklah membela jiwa, harta dan keluarganya sesuai kemampuannya”.

Pendapat tersebut sesuai dengan perkataan Ali bin Thalib a yang diriwayatkan Thabari, “Jika mereka menyelisihi Imam Adil, maka perangilah mereka, namun jika mereka memerangi Imam Ja’ir, maka jangan perangi mereka karena bagi mereka maqal (tempat)”. [13]

Demikianlah, empat tipe kelompok penentang. Status masing-masing kelompok berikut cara menghadapinya berbeda-beda, tidak bisa dipukul rata, baik sebutan maupun cara menyikapi mereka. Karenanya Ibnu Taimiyyah mengkritik beberapa Fuqaha’ yang mencantumkan sikap Abu Bakar memerangi mumtani’uz zakat, sikap Ali memerangi Khawarij, dan sikap Ali memerangi pasukan Jamal ke dalam sebuah bab, “Memerangi Ahlul Baghyi”. Selanjutnya, Ibnu Taimiyyah mentarjih, “Adapun Jumhur ahlul ilmi maka mereka membedakan antara Kelompok Khawarij, Pasukan Jamal, dan Shiffin, dan selain Pasukan Jamal dan Siffin dari kelompok Bughat yang muta’awwil. Ini pendapat yang dikenal di kalangan sahabat, juga pendapat kebanyakan Ahlul Hadits, Fuqaha’ dan Ahli Kalam.” [14]

Penutup
Seluruh kaum muslimin, terutama para anggota gerakan Islam, harus mempelajari persoalan-persoalan hukum, menyebarkan keharusan mengingkari thaghut, wajibnya memberontak dan melengserkan pemerintahan murtad ketika memiliki kemampuan, serta wajibnya beri’dad ketika dalam keadaan lemah. Sebab, menyebarkan pemahaman di atas membuat musuh Allah marah, menyadarkan umat dari tidurnya, dan menjelaskan penyebab keterpurukan mereka selama ini.

Dengan membahas wajibnya memberontak, kami tak bermaksud menganjurkan pembaca melakukan perbuatan-perbuatan yang tak bertanggung jawab yang mengakibatkan timbulnya kerusakan yang lebih besar daripada maslahat yang diinginkan. Akan tetapi, maksud kami ialah menyadarkan umat akan pentingnya persiapan yang matang, planning yang bagus terhadap segala perencanaan, kesungguhan, keikhlasan, dan tidak bergantungnya hati pada faktor-faktor penyebab ini.

Kaum muslimin harus meyakini bahwa pertolongan hanyalah bersumber dari Allah semata. Allah berfirman, “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali-Imran: 126).

Namun demikian, kaum muslimin juga tidak boleh tergesa-gesa. Perjuangan memerlukan persiapan yang panjang. Jika kaum muslimin telah berhasil mempersiapkan kekuatan hingga dianggap cukup oleh para pakar di bidangnya serta di atas kertas telah terbukti musuh bisa dikalahkan, saat itulah kaum muslimin boleh memberontak melawan pemerintahan kafir.

————————-

[1] Abdullah bin Umar Sulaiman Ad Dumaiji. Al Imamah Al Udzma ‘Inda Ahlis Sunnah wal-Jama’ah. Sebuah desertasi untuk memperoleh gelar Magister bidang Aqidah pada Fakultas Syari’ah wad Dirasat Islamiyah Universitas Ummul Quro Makkah. Desertasi ini mendapat predikat Mumtaz (cumlaude). Hal. 491
[2] ibid. 491
[3] Ibnu Taimiyyah. Siyasah Syar’iyyah. Bab Uqubatul Muharibin. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa ini merupakan pendapat mayoritas Ulama, ada juga yang berpendapat bahwa hukumannya ditentukan kebijakan penguasa.
[4] Baca juga At Tasyri’ Al Jina’i. Abdul Qadir Audah. II/673. Muassasah Risalah.
[1] Abdullah bin Umar Sulaiman Ad Dumaiji. Al Imamah Al Udzma ‘Inda Ahlis Sunnah wal-Jama’ah. Sebuah desertasi untuk memperoleh gelar Magister bidang Aqidah pada Fakultas Syari’ah wad Dirasat Islamiyah Universitas Ummul Quro Makkah. Desertasi ini mendapat predikat Mumtaz (cumlaude). Hal. 491
[2] ibid. 491
[3] Ibnu Taimiyyah. Siyasah Syar’iyyah. Bab Uqubatul Muharibin. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa ini merupakan pendapat mayoritas Ulama, ada juga yang berpendapat bahwa hukumannya ditentukan kebijakan penguasa.
[4] Baca juga At Tasyri’ Al Jina’i. Abdul Qadir Audah. II/673. Muassasah Risalah.
[5] Abdul Qadir berkata: Seluruh Mazhab bersepakat bahwa memerangi kelompok penentang tidak boleh dilakukan sebelum menanyakan sebab mereka melakukan pertentangan. Jika alasan mereka karena menuntut hak atau memprotes kezaliman sedangkan mereka berada dijalan yang benar, maka kewajiban penguasa mengembalikan hak dan menghapuskan kezaliman seperti yang mereka tuntut, kemudian mengajak kepada mereka untuk kembali taat, sebaliknya, pihak penentang juga harus siap taat…. Ibid. II/679.
[6] Fathul Baari: XII/286
[7] Adalah, merupakan syarat kriteria yang harus dimiliki pemimpin Islam, menyangkut sikap adil, amanah, akhlak dan kepribadian yang terpuji, Lihat, Al Imamah Al Udzma. 251.
[8] Imam Suyuthi. Tarikhul Khulafa’. 195. Namun, riwayat Al-Waqidi ini perlu diverifikasi ulang.
[9] Periksa Tarikhul Khulafa’. Imam Suyuthi. 191-195 Darul Fikr
[10] Ibid. 195
[11] Periksa, Al Bidayah Wan Nihayah. Ibnu Katsir VI/619. Darul Ma’rifah
[12] Lihat. Ibid. 200
[13] Lihat. Ibid. 200
[14] Lihat. Ibid. 200

3 thoughts on “Apakah Setiap Orang yang Keluar dari Ketaatan Penguasa Disebut Khawarij?

  1. Materi Iedul Fitri 1 Syawal 1434 H/Kamis, 08 Agustus 2013 M

    “ Hakikat Dan Makna Hari Raya Bagi Setiap Mukmin “

    Oleh: Al-Ustadz Anung Al Hamat, Lc, M.Pd, I *
    (Ketua MIUMI/Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, Wilayah Jakarta)
    Editor: Al-Ustadz Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd *
    (Aktivis Anti Pemurtadan)

    Assalaamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh,

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

    ‘Innalhamdalillaah, nahmaduhu wanasta’inuhu, wanastaghfiruh. Wana’udzubillaahiminsyururi anfusina waminsyay yiati a’malina, may yahdihillahu fala mudzillalah, wamay yut’lil fala hadziyalah. Asyhadu alailahaillallohu wah dahula syarikalah wa assyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluh.Shalallohu’alaihi wa ‘ala alihi wa sahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin illa yaumiddiin’.

    Fainna ashdaqal hadits kitabaLLAH wa khairal hadyi hadyu Muhammad Shalallohu’alaihiwassalam, wa syarral ‘umuri muhdatsatuha, Wa kullu muhdatsatin bid’ah wa kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fin nar… Ammaba’du

    – Mukadimah
    Hadirin jama’ah shalat idul fitri yang berbahagia.
    Hari ini jutaan kaum muslimin berkumpul dan bersatu padu. Mereka mengagungkan Alloh, mengesakan Alloh, memuji dan mensucikan Alloh swt.
    Mulai hari ini, bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan berbagai keutamaan dan keistimewaan; penuh dengan berkah, rahmat dan ampunan Alloh, bulan dilipat gandakannya amal kebaikan, bulan dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.. Kini telah berlalu meninggalkan kita.
    الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
    Kaum muslimin jama’ah shalat ied yang berbahagia
    Setelah satu bulan sebelumnya kita berpuasa; menahan lapar, dahaga dan syahwat kini kembali kita dipertemukan dengan iedul fitri. Pada hari ini setiap muslim pada umumnya merasa bahagia dan gembira karena mereka telah selesai melaksanakan ketaatan kepada Alloh. Dan Dengan selesainya melaksanakan ketaatan tersebut mudah-mudahan termasuk ke dalam kalangan yang diampuni dosanya yang telah lalu oleh Alloh swt,
    من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
    ”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan keikhlasan (berharap mendapat pahala) maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari)
    قل بفضل الله ورحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون
    Katakanlah: “Dengan kurnia Alloh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Alloh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Ali Imran: 58)
    لمغفرة من الله ورحمة خير مما يجمعون
    “Sungguh ampunan Alloh dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan”. (Ali Imran; 157).
    Kalau saja kemarin kita telah melaksanakan perintah Alloh; puasa di siang hari, shalat di malam hari, mengeluarkan zakat dan melaksanakan ketaatan kepada Alloh maka Insya Alloh kita berhak mendapat hadiah dan bonus dari Alloh, yaitu ketika di akhirat kita di panggil dengan seruan “Wahai orang yang berpuasa masuklah ke dalam surga melalui pintu Rayyan”.
    Bahkan Rasulullah saw memasukannya kedalam kelompok siddiqin dan syuhada sebagaimana dalam hadits yang shahih ketika ditanya oleh seorang arab badwi; “kamu termasuk siddiqin dan syuhada”, dalam riwayat Ibn Khuzaimah: ’Jika dia mati, maka termasuk kedalam kelompok Shiddiqin dan syuhada”.
    الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد.
    Ma’asyiral muslimin yang berbahagia
    Maka dalam kesempatan khutbah ini, perlu kiranya kita kembali memahami makna dan hakikat yang terkandung dalam iedul fitri.
    Pertama: Iedul Fitri dan korelasinya dengan ungkapan kebahagiaan
    Hari ini kaum muslimin di seantero dunia menampakan dzikir, pujian dan pengagungan kepada Alloh
    وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
    “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185).
    Hari ini merupakan hari raya, hari untuk meluapkan kegembiraan. Namun bukan berarti hari ini merupakan titik awal kita melepaskan diri dari ikatan-ikatan syari’at, dari ikatan aturan-aturan Alloh, bukan berarti kendor dalam beribadah dan beramal, karena hal itu justru akan menjadi bumerang bagi amal shaleh yang telah kita lakukan selama di bulan Ramadhan..
    Hari ini bukan berarti hari terbebasnya pandangan kita dari hal-hal yang dilarang, terbebasnya pendengaran kita, perkataan kita, makanan dan pakaian kita dari hal-hal yang diharamkan Alloh. Bahkan para ulama shaleh terdahulu mengawali iedul fitri dengan menundukan pandangan mereka dari yang diharamkan Alloh swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bersedih ketika di hari raya. Dikarenakan kekhawatiran mereka kalau-kalau amalannya selama di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Alloh swt. Karena Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27)
    الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
    kedua: Iedul fitri dan kaitannya dengan takbir yang dikumandangkan kaum muslimin di seantero dunia merupakan syi’ar yang besar di antara syi’ar Islam yang ada.. Allohu Akbar, Allohu Akbar, laa ilaaha illAllohu Alloh Akbar, Allohu Akbar walillahil hamd (Alloh maha besar, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan segala puji bagi Alloh)…
    Kalau kita perhatikan kalimat tersebut, maka ini merupakan pengakuan yang tulus bahwa Alloh maha besar di atas segala sesuatu yang menyelisihi syariat-Nya. Alloh maha besar dibandingkan dengan seluruh makhluq-Nya yang sombong, congkak, tidak mau ta’at dan tidak mau menyembah-Nya.
    Kalimat itu, kalimat tauhid (Laa Ilaaha IllAlloh), harus tertanam dalam hati sanubari kita..Tidak ada artinya keislaman kita tanpa akidah yang benar, tidak ada artinya ibadah kita tanpa diiringi tauhid. Tidak mungkin syirik dan tauhid bersatu, selamanya ia akan berpisah. Kalau pun bersatu maka keduanya akan bersatu sebagaimana bersatunya api dengan air.
    Kalimat itu mengajarkan kita untuk beribadah hanya kepada Alloh dan melepaskan diri kita dari segala bentuk sesembahan selain Alloh swt, tidak beribadah kecuali dengan yang telah disyariatkan Alloh dan tidak boleh beribadah sebagaimana ibadahnya kalangan yang menyimpang dari jalan Alloh.
    Ramadhan dan hari raya ini, mari kita jadikan sebagai moment untuk membersihkan jiwa dan hati kita dari noda-noda syirik. Sehingga amal yang telah kita lakukan tidak akan sia-sia. Karena kita khawatir sebagaimana yang disinyalir oleh Alloh dalam firman-Nya:
    وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباءً منثوراً
    “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqan: 23)
    Bahkan kepada Nabi saw pun Alloh berfirman:
    ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين
    “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Az Zumar: 65).
    Rasulullah saw bersabda:
    من مات يدعو من دون الله نداً دخل النار
    “Barang siapa yang menyeru (meminta) kepada tandingan selain Alah maka dia akan masuk neraka” (HR. Bukhari). Oleh sebab itu, kemusyrikan dengan segala bentuknya jelas menyelisihi kalimat yang kita kumandangkan:
    الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر الله أكبر ، ولله الحمد .
    Ketiga: Hari raya dan kaitannya dengan identitas selaku muslim.
    Hari raya iedul fitri dan bahkan iedul adha sangat erat kaitannya dengan identitas agama kita. Bahkan ketika Rasulullah saw di Madinah menyaksikan ada sebagian sahabat yang merayakan hari raya jahiliyah maka Rasulullah saw melarang dan menyatakan:
    فقد أبدلكم الله خير منهما يوم الفطر ويوم النحر
    “Sungguh Alloh telah menggantinya untuk kalian dengan yang lebih baik yaitu iedul fitri dan idul adha”.
    يا أبا بكر إن لكل قوم عيداً وهذا عيدنا أهل الإسلام
    “Ya Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan inilah hari raya kita Umat Islam”.
    Begitu juga sabda beliau kepada seorang sahabat yang bernadzar untuk menyembelih kurban di daerah Buwanah. Nadzar boleh dilaksanakan asal di tempat itu tidak ada hari raya agama lain dan tidak ada berhala.
    Dengan demikian, hadits-hadits itu menunjukan bahwa dalam Islam, tidak ada hari raya, hari yang harus diperingati kecuali hari raya iedul fitri dan iedul adha.
    Keempat: Iedul fitri dan kaitannya dengan Islam dan persaudaraan sesama muslim
    Ucapan taqabbalAllohu minna wa minkum, kullu sanah wa antum bikhair, minal aidin wal faizin dll. Merupakan ungkapan tulus yang diliputi rasa cinta, bahagia dan penuh persaudaraan. Maka idealnya, setelah iedul fitri ini tidak ada lagi di antara kita yang menyimpan rasa dendam, bermuram durja dan berpaling muka dari saudaranya sesama muslim. Rasulullah saw bersabda:
    لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث
    “Tidak seharusnya seorang muslim berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari”(HR. Bukhari dan Muslim).
    الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر الله أكبر ، ولله الحمد .
    Kaum muslimin yang berbahagia
    Kelima: Iedul fitri dan kaitannya dengan eksistensi Al Haq
    Sesungguhnya nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam. Islam merupakan agama yang sempurna. Orang-orang shaleh terdahulu telah menjadikannya sebagai pedoman dalam segenap kehidupan mereka. Agama inilah yang telah menghantarkan mereka kedalam zaman keemasan, agama inilah yang telah merealisasikan ketentraman, kesejahteraan, kemajuan dan kemakmuran sebagaimana yang telah ditorehkan oleh tinta sejarah. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebaikan umat ini akan bisa terealisir jika mengikuti jejak umat sebelumnya yang baik.
    Musuh Islam yang telah lalu pada hakekatnya adalah sama dengan musuh Islam pada hari ini meskipun cassing berbeda. Alloh mengingatkan kita:
    وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء
    “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir” (An Nisa: 89)
    وَلاَ يَزَالُونَ يُقَـاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ
    “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al Baqarah:127)
    Mereka adalah kaum yang tidak rela kita Umat Islam berada dalam syari’at, ajaran yang lurus dan mulia. Yang mereka kehendaki adalah agar kita terhina dan menjadi pengekor mereka. Segenap upaya dan usaha, baik melalui perkataan, pernyataan, berita media, maupun sikap dan perbuatan mereka, kesemuanya itu dilakukan dalam rangka melemahkan kaum muslimin.
    إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُواْ لَكُمْ أَعْدَاء وَيَبْسُطُواْ إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوء
    Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kamu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu. Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (Al Mumtahanah: 2)
    Mereka senantiasa memerangi agama ini, memerangi nilai-nilai dan ajaran syariat ini. Dengan dalih pemberantasan kaum ekstrimis atau dengan dalih hak asasi manusia. Demi Alloh mereka berdusta. Semuanya itu mereka lakukan dengan niatan yang buruk dan keji terhadap Islam dan umatnya.
    Benar, kita tidak ragu, Islam jelas berlepas diri dari segala bentuk penyimpangan, sikap berlebih-lebihan dalam beragama, kezaliman dan kesewenang-wenangan. Islam merupakan agama pertengahan baik dalam masalah konsep, akidah, ibadah, dan muamalah:
    وَكَذالِكَ جَعَلْنَـاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا [البقرة:143].
    “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat pertengahan” (Al Baqarah: 143). Rasulullah saw bersabda:
    إياكم والغلو في الدين فإنما هلك من كان قبلكم بالغلو في الدين
    “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam beragama. Sesungguhnya orang-orang terdahulu binasa dikarenakan sikap mereka yang berlebih-lebihan” (HR. Ahmad, Nasai, Ibn Majah dll).
    Dan perlu dicatat juga, dengan dalih meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama bukan berarti kita meninggalkan dan meremehkan aturan-aturan Alloh. Karena segala sesuatu yang sesuai dengan sunnah Rasul saw bukan berarti radikal atau ekstrim. Karena Alloh berfirman:
    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ
    “Apa yang dibawa Rasul maka ambillah…”(Al Hasyr: 7).
    الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر الله أكبر ، ولله الحمد .
    Ma’asyiral muslimin,
    Kalau kita perhatikan, kenapa umat islam masih eksis di muka bumi ini? Rahasianya tidak lain dan tidak bukan adalah karena masih eksisnya agama ini. Berapa banyak yang memerangi ajaran Alloh dan Rasul-Nya namun akhirnya mereka binasa dan hancur. Firaun, Namrud, Abrahah, Abu Jahal, Hulagu, Jengis Khan dan para tokoh kekufuran dan kesesatan lainnya tidak akan jauh berbeda akibatnya dengan mereka. Ini sudah merupakan sunnatullah yang akan terus berlanjut hingga akhir nanti.
    Kalangan yang memerangi Islam, mereka bukanlah yang pertama kali memerangi Islam. Jauh sebelum itu, Islam dan umatnya telah banyak diperangi. Namun apa hasilnya? Islam tetap tegar, eksis dan berjaya. Sementara mereka hancur dan binasa. Bahkan geliat Islam sudah mulai dirasakan di Amerika dan Eropa.
    Majalah Time memberitakan: “Islam akan kembali bangkit. Kali ini Islam tidak bangkit dari Timur, ia akan bangkit dari Barat”.
    Koran The Sunday: “Penduduk dunia mulai membaca, meneliti dan mempelajari Islam. Mereka menyimpulkan bahwa Islam adalah agama satu-satunya yang bisa diikuti dan mampu memberikan solusi”.
    Setelah kejadian 11 sept, beberapa tahun yang lalu, banyak kalangan yang memprediksi bahwa dalam setahun orang yang masuk Islam berjumlah 25.000 orang. Dan dalam seharinya jumlah orang yang masuk Islam empat kali lipat dibandingkan sebelum kasus itu terjadi.
    Belum lagi banyaknya gereja-gereja dan mall-mal yang berubah fungsi menjadi masjid atau Islamic Center. Sebagai contoh, jumlah masjid di Amerika hampir mendekati angka 2000.
    Ma’asyiral muslimin
    Demikianlah beberapa catatan berkaitan dengan hari raya iedul fitri dan beberapa makna yang terkandung di dalamnya. Semoga bulan Ramadhan yang telah berlalu merupakan titik awal untuk memperbaiki ibadah, amal, aktifitas dan prilaku kita.
    Bulan Ramadhan, sebagaimana diungkapkan oleh sebagian kalangan dengan ‘maidatu rahman’, hidangan yang disuguhkan Alloh untuk orang yang beriman. Maka tidak ada yang akan bisa merasakannya melainkan mereka yang hatinya bersih dan sehat. Sama halnya dengan seorang yang sakit yang menghadiri pesta mewah, dihidangkannya beragam makanan dan minuman maka ia tidak akan merasakan lezatnya hidangan itu, kenapa? Dikarenakan dia sedang sakit, begitu pula dengan hidangan Alloh di bulan Ramadhan.
    Bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita merupakan bulan pendidikan. Mengajarkan kepada kita sikap sabar, dermawan, kejujuran dan berbagai sifat lainnya. Semoga semuanya itu akan terus bisa kita pertahankan di bulan-bulan lainnya. Karena Rabb yang ada di bulan Ramadhan adalah sama dengan Rabb yang ada di bulan-bulan lainnya. Jangan sampai kita termasuk ke dalam kalangan yang disebut Fudhail bin Iyadh: “Seburuk-buruk kaum adalah yang hanya mengenal Alloh di bulan Ramadhan”.
    Ma’asyiral muslimin

    Marilah kita tutup khutbah ini dengan menundukan hati kita untuk berdo’a:
    اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات
    اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين ودمر أعداءك وأعداء الدين
    اللهم انصر دينك وكتابك وسنة نبيك وعبادك المؤمنين
    اللهم آمنا في أوطاننا، اللهم انصر المسلمين، الذين يجاهدون في سبيلك
    اللهم سدد رميهم، واجمع كلمتهم وانصرهم على عدوك وعدوهم.
    اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه
    ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين.
    ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
    سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    “ Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astaqfiruka wa’atubu ilaik”
    Artinya: “ Maha Suci Engkau ya Alloh, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu “. (HR. Tirmidzi, dengan Sanad Shahih)

    Disampaikan pada Khutbah Iedul Fitri 1 Syawal 1434 H diLapangan Rw. 15 Perumahan Bekasi Permai, Bekasi Jaya-Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat (Samping Masjid Al-Falah, Perumahan Bekasi Permai), Pukul. 06. 30 Wib

    *Profil singkat Penulis: Al-Ustadz Anung Al-Hamat. Lc, M.Pd.I Hafidzhahulloh

    Anung Al-Hamat, lahir di Majalengka Jawa Barat, 13 Agustus 1977. Pada bulan September 1997 melancong ke Mesir dengan Kuliah di Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar Cairo-Mesir dan lulus pada bulan Mei 2001.
    Selain mengikuti kuliah formal juga aktif menghadiri beberapa kajian para masyayikh (TALAQI) -minimalnya menghadiri khutbah jum’at dan kajian ba’da jum’at- seperti:
    1. Syaikh Abu Ishaaq al Huwainii Hafidzhahulloh
    2. Syaikh Muhammad Hassan Hafidzhahulloh
    3. Syaikh Hasan Abu Asybaal Hafidzhahulloh
    4. Syaikh Sayyid Husain al ‘Affaani Hafidzhahulloh (selama empat tahun I’tikaf di masjid Tauhid Ramses Cairo, beliau menjadi pembimbingnya)
    5. Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshuud Afifi Hafidzhahulloh
    6. Syaikh Shalaah as Shaawi Hafidzhahulloh (dengan beliau pernah beberapa kali berdialog langsung dan pernah penulis berdua dengan beliau dalam satu mobil)
    7. Syaikh Muhammad Syafwat Nuruddin (Ketua Jama’ah Anshar as Sunnah al Muhammadiyah dan penulis pernah bertatap muka langsung dengan beliau) -rahimahulloh-
    8. Syaikh Shafwat Syawaadifi (Wakil Ketua Jama’ah Anshar as Sunnah al Muhammadiyah, Mesir) rahimahulloh-
    9. Syaikh ‘Ali Ahmad as Saaluus Hafidzhahulloh (Ekonom Islam dan Pakar Syi’ah, Penulis pernah bertatap muka langsung dengan beliau dan dialog berakhir dengan pemberian kitab beliau ‘Ma’a as Syi’ah al Itsna ‘Asyariyah).
    10. Beberapa kali menghadiri Kajian Syaikh Usamah al Qushi dalam kajian Kitab Durus Fil Manhaj (Mensyarah kitab Al Hukmu Bighairi Maa Anzalallaah wa Ushuul at Takfiir Karya Khalid al ‘Ambari dan sempat penulis terpengaruh oleh beberapa pemikirannya) hanya saja tidak bertahan lama karena banyak mentahdzir/vonis para ulama termasuk yang ditahdzir adalah Syaikh Abu Ishaaq al Huwaini dan Syaikh Hasan Abu Asybaal (Keduanya murid Syaikh Al-Albani/Muhammad Nashiruddin Al-Albani) dan lain-lain.
    Gelar M.Pd.I nya diraih dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor-Jawa Barat Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam. Adapun aktivitas mengajarnya; mengajar di Kampus yang ada di Jajaran UNMA (Universitas Majalengka) Januari 2002-2004, mengajar bahasa Arab di STAIN Cirebon (thn 2003-2004), mengajar di Azhari Islamic School Menteng (Mei 2004-Juli 2005), Wakil Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam Pondok Gede Bekasi Juli 2005-hingga pensiun (Oktober 2012), STID Mochamad Natsir DDII/Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (2007-2011) dan beberapa kampus lain. Diamanahkan menjadi Ketua MIUMI/Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, Wilayah Jakarta, Penulis Buku-Buku Islam diantaranya: “ Mewaspadai Penyimpangan Neo Murjiah “, Terbitan: FS3I/Forum Studi Sekte-Sekte Islam Jakarta, “ Sekelumit Penyimpangan Syi’ah “,Terbitan: FS3I/Forum Studi Sekte-Sekte Islam Jakarta.
    Sekarang ia sedang meneruskan kuliah Program S3 (Doctor) Jurusan Pendidikan Islam di Kampus Universitas Ibnu Khaldun Bogor-Jawa Barat.

    Profil Singkat Editor: Al-Ustadz Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd
    1. Nama Lengkap : Muhammad Faisal Anjar Basunondo
    2. Nama Panggilan : Kang Faisal atau Mas Faisal
    3. e-mail : faisalm.mpdmuhammad@ymail.com/akang_faisal@ymail.com

    RIWAYAT PENDIDIKAN
    1. SDN Bekasi Timur 02 – Bekasi, Jawa Barat
    2. MTS Muhammadiyah 02 – Bekasi, Jawa Barat
    3. MAN 1 – Bekasi, Jawa Barat
    4. S1 FKIP/Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan Prodi/Program Studi PLS/Pendidikan Luar Sekolah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten
    5. S2 Pasca Sarjana, Konsentrasi Manajemen Pendidikan – Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (IMNI), Jakarta

    PENGALAMAN ORGANISASI
    1. Ketua Bidang Pendidikan OSIS MAN 1 Bekasi
    2. Ketua MPK/Majelis Permusyaratan Kelas OSIS MAN 01 Bekasi
    3. Ketua Bidang Pendidikan Himpunan Mahasiswa Jurusan PRODI Pendidikan Luar Sekolah UNTIRTA Serang-Banten
    4. Ketua Bidang Dakwah dan Pendidikan LDK Baabussalam UNTIRTA Serang-Banten
    5. Ketua MPM/ Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UNTIRTA Serang-Banten
    6. Ketua RIMAF/Remaja Islam Masjid Al-Falah Perum. Bekasi Permai
    7. Ketua Sekbid Remaja dan Pemuda Masjid Al-Falah Perum. Bekasi Permai
    7. Pembina GPAPB/Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi
    8. Ketua Bidang Pemuda dan Remaja DPP Jum’iyyah An-Najat Al-Islamiyyah Jakarta
    9. Anggota Bidang Remaja Front Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB)
    10. Kordinator Bidang Dakwah dan Pendidikan DPD Jum’iyyah An-Najat Al-Islamiyyah Bekasi
    11. Penasihat HIMPAUDI/Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini, Cilegon-Banten, dll

    PENGALAMAN KERJA
    1. Guru Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Kota Bekasi
    2. Bagian Penerimaan Siswa Bimbel SSC PM Rawamangun-Jakarta Timur
    3. Kontributor Situs Mahasiswa Islam http://www.shoutussalam.com
    4. Kontributor Situs Berita Islam http://www.voa-islam.com
    5. Kontributor Situs Dakwah Islam http://www.nahimunkar.com
    6. Tim Redaksi Bulletin Jum’at Lentera Dakwah Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kota Bekasi
    7. Asisten Dosen Mata Kuliah Psisokologi Sosial/Patologi Sosial UNTIRTA, Banten
    8. Kontributor Majalah Islam Gerimis, Bogor
    9. Tim Pengelola Yayasan Islam Baitul Maqdis, Ciracas-Jakarta Timur
    10. Kontributor Khusus Tabloid Islam Syi’ar Islam, Islamic Centre Bekasi
    11. Host/Pembawa Acara di WesalTv Indonesia (www.wesalindo.tv/id), Jakarta, dll

    Acara ini didukung Oleh: Wesal Tv Indonesia, Jakarta/www.wesalindo.id, Radio Dakta 107 FM Bekasi/www.dakta.com, Bimbel SSC X-Team Bekasi/www.sscx-team.blogspot.com

    Silahkan Share/Sebarkan keMuslim dan Muslimah lainnya, Syukron, Barakallohu’ Fiikum.

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s