Makalah kajian Mesjid At Taqwa Pamulang


image

Berikut ini makalah kajian yg dikirimkan dari pengurus kajian ilmiah rutin tiap sabtu pagi di mesjid At Taqwa Pamulang, makalah ini insyaallaah akan dibahas dlm kajian sabtu besok ini tgl 25 Mei 2013 di at taqwa pamulang jam 09:30 tepat s/d dluhur (demikian informasi panitia kajian pd kami)

image

Ikhtilaf Boleh Iftiraq Jangan
Imtihan asy-Syafi’i

Nahdhatul Ulama (NU), sebuah organisasi massa terbesar di Indonesia menyatakan, kriteria Ahlussunnah wal Jamaah adalah dalam masalah fiqh mengikuti salah satu dari empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hambali. Meskipun pada kenyataannya, kebanyakan warga NU menganut madzhab Syafi’i. Hal ini dapat kita lihat dari kitab-kitab yang dikaji dan dipelajari oleh warga Nu di berbagai pesantren adalah kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i. Mulai dari Safinatun Najah, Matan Abu Syuja’, al-Muhadzdzab, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, sampai al-Umm dan al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab. Secara khiththah menerima selain madzhab Syafi’i, namun pada kenyataannya, seringkali warga NU bersikap nyinyir terhadap mereka yang bermadzhab lain. Apatah lagi kepada mereka yang menyatakan tak bermadzhab.
Berbeda halnya dengan Muhammadiyah dan Persis yang getol menyerukan tajdid dan ijtihad. Warga Muhammadiyah dan Persis tidak menerima mentah-mentah hasil ijtihad para fuqaha. Mereka bersikap kritis terhadap karya para pendahulu mereka. Meskipun, terkadang kebablasan. Yang tak mengerti metode baku dalam istimbath hukum pun menyatakan, jika ijtihad saya berbeda dengan ijtihad Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal, itu wajar. Sebab saya dan mereka hidup di zaman yang berbeda. Mereka makan kurma dan roti, sedangkan saya makan nasi dan singkong. Nahnu rijal wa hum rijal.
Sikap berlebihan yang dihadirkan oleh sebagian warga NU dan sebagian warga Muhammadiyah dan Persis bukanlah sikap yang benar. Perbedaan pendapat atau ikhtilaf dalam masalah fiqh sudah terjadi sejak zaman sahabat. Bahkan benihnya sudah ada sejak zaman Nabi. Ketika Nabi mengutus beberapa orang sahabat untuk menuju perkampungan Bani Quraizhah, beliau bersabda, “Jangan ada seorang pun di antara kalian yang mengerjakan shalat Ashar, kecuali di perkampungan Bani Quraizhah!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka yang hendak berangkat itu sama-sama mendengar sabda Nabi ini. Namun, sebagian memahaminya secara tekstual, bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh mengerjakan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sebagian yang lain memahami bahwa sabda Nabi ini merupakan instruksi untuk mempercepat perjalanan ke perkampungan Bani Quraizhah, sehingga mereka bisa sampai di sana pada waktu Ashar dan bisa mengerjakan shalat Ashar pada waktunya. Kenyataannya, waktu Ashar hampir habis, sementara mereka belum tiba di perkampungan Bani Quraizhah. Maka, sebagian sahabat segera melaksanakan shalat Ashar, karena mengikuti dalil-dalil yang mengharuskan pelaksanaan shalat pada waktunya; sementara yang lain menunda shalat hingga tiba di perkampungan Bani Quraizhah berdasarkan makna tekstual sabda Nabi.
Perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam berbagai perkara ijtihadi yang sebenarnya diakui dan dibolehkan dalam Islam, jika disikapi dengan keliru, berpotensi menjadi benih perpecahan (iftiraq) yang terlarang dan tercela.

Ikhtilaf Pada Mulanya
Allah swt. berkehendak menjadikan sebagian ayat-ayat al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi multitafsir. Allah juga berkehendak menjadikan derajat kesahihan sebagian hadits diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menyatakan shahih, dan sebagian yang lain menyatakan dha’if. Kedua realita ini merupakan suatu aksioma, tak terbantahkan, dan ia merupakan bagian dari Islam. Islam yang dikehendaki oleh Allah. Tentu saja ada banyak hikmah di balik semua ini. Dan bermula dari sinilah ikhtilaf terjadi.
Ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits yang multitafsir ini disebut oleh para ulama dengan dalil yang zhanniyud dalalah. Sedangkan hadits-hadits yang mereka perselisihkan kesahihannya mereka sebut dengan dalil yang zhanniyuts tsubut.
Selanjutnya, saat menyusun metode istimbath ahkam hal mana para ulama merujuk kepada al-Qur`an dan as-Sunnah—yang sebagiannya qath’i dan sebagian yang lain zhanni—mereka berbeda pendapat dalam menentukan apa saja dalil naqli dan ‘aqli yang dapat dijadikan hujjah.
Menurut para ulama madzhab Hanafi, dalil-dalil itu adalah: al-Qur`an, as-Sunnah—mereka berhati-hati dalam menjadikan hadits aahaad sebagai dalil, ijmak, qiyas, istihsan, dan hilah yang sesuai syara’. Menurut para ulama madzhab Malik, dalil-dalil itu adalah: al-Qur`an, as-Sunnah, parktik amal penduduk Madinah, fatwa sahabat, mashlahah mursalah, qiyas, dan saddudz dzari’ah. Menurut para ulama madzhab Syafi’i, dalil-dalil itu adalah: al-Qur`an, as-Sunnah, ijmak, dan qiyas. Sedangkan menurut para ulama madzhab Hambali, dalil-dalil itu adalah: al-Qur`an, as-Sunnah, ijmak, fatwa sahabat, hadits mursal, dan qiyas.

Haruskah bermadzhab?
Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, seseorang tidak diharuskan bermadzhab. Ini adalah pendapat yang benar dan tegas karena tidak ada kewajiban kecuali terhadap apa-apa yang telah diwajibkan Allah dan Rasul-Nya kepadanya. Allah dan Rasulnya tidaklah mewajibkan seorang pun untuk bermadzhab dengan madzhab seseorang dari umat ini kemudian dia bertaqlid dengannya dalam urusan agama dan yang lainnya. Bahkan tidak sepatutnya seorang awam bermadzhab dan seandainya dia bermadzhab maka sesungguhnya seorang awam tidaklah memiliki madzhab karena bermadzhab adalah bagi orang yang telah memiliki kemampuan teori dan pengambilan dalil sehingga dia menjadi orang yang cerdas terhadap berbagai madzhab menurut pandangannya atau bagi orang yang telah membaca sebuah buku di dalam cabang-cabang madzhab itu lalu mengetahui berbagai fatwa dan pendapat-pendapat imamnya.
Orang yang tidak memiliki keahlian sama sekali dalam hal tersebut, bahkan terhadap orang yang mengatakan saya bermadzhab Syafi’i atau Hambali atau madzhab lainnya, maka tidak otomatis menjadikannya demikian. Sebagaimana seandainya seseorang mengatakan saya seorang yang faqih atau ahli nahwu atau penulis tidak menjadikannya otomatis demikian.
Kedua, pendapat yang mengharuskan seseorang untuk bermadzhab dengan madzhab seorang alim dari para ulama. Ini pendapat yang jauh dari kebenaran. Terlebih lagi, pendapat yang mengharuskan seseorang bermadzhab dengan madzhab yang empat.
Seorang penuntut ilmu dibolehkan mendalami salah satu madzhab dari madzhab-madzhab yang diikutinya lalu mengamalkan apa-apa yang telah terang baginya yang lebih dekat kepada kebenaran dikarenakan keberadaan dalil dan kekuatannya serta tidak ada yang bertentangan dengannya dan tidak diperbolehkan baginya bersikap ta’ashub (fanatik) kepada madzhab yang dipegangnya dan beramal dengannya ketika tampak kelemahan dalil dan tempat bersandarnya. Madzhab-madzhab itu hanyalah sebuah jalan dan sarana untuk memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Kita diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti keduanya serta mengamalkan kandungannya.

Menyikapi Ikhtilaf
Meyakini ketidakwajiban bermadzhab bukan berarti kita boleh mencela para fuqaha dan menyejajarkan diri kita dengan mereka begitu saja. Kecuali jika kita sudah mencapai kredibilitas dan kapabilitas mereka. Ada beberapa hal yang dinasihatkan oleh para ulama agar menjadi bekal kita dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam perkara ijtihadi. Di antaranya:
1. Membekali diri dan mendasari sikap sebaik-baiknya dengan ilmu, iman, amal dan akhlaq secara proporsional. Karena tanpa memadukan itu semua, akan sangat sulit sekali bagi seseorang untuk bisa menyikapi setiap masalah dengan benar, tepat dan proporsional, apalagi jika itu masalah ikhtilaf atau ijtihadiyah.
2. Memahami ikhtilaf dengan benar, mengakui dan menerimanya sebagai bagian dari rahmat Allah bagi ummat. Dan ini adalah salah satu bagian dari ittiba’ussalaf (mengikuti ulama salaf), karena memang begitulah sikap mereka, yang kemudian diikuti dan dilanjutkan oleh para ulama Ahlussunnah wal-Jama’ah sepanjang sejarah.
3. Memadukan dalam mewarisi ikhtilaf para ulama terdahulu dengan sekaligus mewarisi etika dan sikap mereka dalam berikhtilaf. Sehingga dengan begitu kita bisa memiliki sikap yang tawazun (proporsional). Sementara selama ini sikap kebanyakan kaum muslimin dalam masalah-masalah khilafiyah, seringkali lebih dominan timpangnya. Karena biasanya mereka hanya mewarisi materi-materi khilafiyah para imam terdahulu, dan tidak sekaligus mewarisi cara, adab dan etika mereka dalam berikhtilaf, serta dalam menyikapi para mukhalif (kelompok lain yang berbeda madzhab atau pendapat).
4. Mengikuti pendapat ulama dengan mengetahui dalilnya, atau memilih pendapat yang rajih (kuat) setelah mengkaji dan membandingkan berdasarkan metodologi ilmiah yang diakui. Tentu saja ini bagi yang mampu, baik dari kalangan para ulama maupun thalabatul ‘ilmi (para penuntut ilmu). Sedangkan untuk kaum muslimin kebanyakan yang awam, maka batas kemampuan mereka hanyalah bertaqlid (mengikuti tanpa tahu dalil) saja pada para imam terpercaya atau ulama yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya. Yang penting dalam ber-taqlid pada siapa saja yang dipilih, mereka melakukannya dengan tulus dan ikhlas, serta tidak berdasarkan hawa nafsu.
5. Untuk praktek pribadi, dan dalam masalah-masalah yang bisa bersifat personal individual, maka masing-masing berhak untuk mengikuti dan memgamalkan pendapat atau madzhab yang rajih menurut pilihannya. Meskipun dalam beberapa hal dan kondisi sangat afdhal pula jika ia memilih sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath) dalam rangka menghindari ikhtilaf.
6. Sementara itu terhadap orang lain atau dalam hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan umum, sangat diutamakan setiap kita memilih sikap tausi’ah dan tasamuh (melonggarkan dan bertoleransi, termasuk sampai pada tahap kesiapan untuk mengikuti dan melaksanakan pendapat atau madzhab lain yang marjuh (yang lemah) sekalipun menurut kita.
7. Menghindari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau tatharruf (ekstrem), misalnya dengan memiliki sikap menang-menangan dalam masalah-masalah furu’ khilafiyah ijtihadiyah. Karena itu adalah sikap yang tidak logis, tidak islami, tidak syar’i dan tentu sekaligus tidak salafi (tidak sesuai dengan manhaj dan sikap para ulama salaf)!
8. Tidak menerapkan prinsip atau kaidah wala’ dan bara’ dalam bersikap terhadap fenomena ikhtilaf dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah. Karena bab wala’ dan bara’ bukanlah di sini tempatnya, melainkan di dalam masalah-masalah aqidah, tauhid dan keimanan, atau dalam masalah-masalah ushul (prinsip) pada umumnya.
9. Menjaga agar ikhtilaf (perbedaan) dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah tetap berada di wilayah wacana pemikiran dan wawasan keilmuan, dan tidak masuk ke wilayah hati, sehingga berubah menjadi ikhtilafut—tafarruq (perselisihan perpecahan), yang akan merusak ukhuwah dan melemahkan tsiqqoh (rasa kepercayaan) di antara sesama kaum mukminin.

Iftiraq yang terlarang
Setiap tafarruq (perpecahan) merupakan ikhtilaf (perbedaan), namun tidak setiap ikhtilaf (perbedaan) merupakan tafarruq (perpecahan). Namun setiap ikhtilaf bisa dan berpotensi untuk berubah menjadi tafarruq atau iftiraq antara lain karena:
1. Faktor pengaruh hawa nafsu, yang memunculkan misalnya ta’ashub (fanatisme) yang tercela, sikap kultus individu atau tokoh, sikap mutlak-mutlakan atau menang-menangan dalam berbeda pendapat, dan semacamnya. Dan faktor pelibatan hawa nafsu inilah secara umum yang mengubah perbedaan wacana dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah yang ditolerir menjadi perselisihan hati yang tercela.
2. Salah persepsi (salah mempersepsikan masalah, misalnya salah mempersepsikan masalah furu’ sebagai masalah ushul). Dan ini biasanya terjadi pada sebagian kalangan ummat Islam yang tidak mengakui dan tidak memiliki fiqhul ikhtilaf. Yang mereka miliki hanyalah fiqhut tafarruq wal iftiraq (fiqih perpecahan), dimana bagi mereka setiap perbedaan dan perselisihan merupakan bentuk perpecahan yang tidak mereka tolerir, dan karenanya senantiasa disikapi dengan sikap wala’ dan bara’.
3. Tidak menjaga moralitas, akhlaq, adab dan etika dalam berbeda pendapat dan dalam menyikapi para pemilik atau pengikut madzhab dan pendapat lain.
Wallahu a’lam.

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s