MURJI’AH GAYA BARU


Sungguh jika kita saksikan hari ini, berbagai bantahan terhadap khowarij kontemporer dan tehadap orang-orang yang berlebihan dalam pengkafiran sangat banyak. Sehingga di toko-toko buku penuh sesak dengan buku-buku dan karya ilmiah dalam masalah tersebut. Dan kebanyakan kajian tentang persoalan tersebut sangat kuat menekankan penolakannya sehingga cenderung mengabaikan aspek obyektifitasnya. Sementara itu, jarang sekali kita menemukan orang yang menulis tentang fenomena irja’ secara detail dengan penulisan yang baik, terutama sikap irja’ kontemporer dan para penganutnya, serta memberikan peringatan terhadap syubhat mereka sebagaimana peringatan terhadap syubhat khawarij.
Dan kita memohon kepada Allah Ta’ala agar kiranya, dengan tulisan kecil ini, Ia berkenan membuka telinga yang tuli, mata yang buta dan hati yang tertutup. Dan insya’Allah kita akan membahas lebih detail syubhat-syubhat mereka pada edisi-edisi mendatang.

Murji’ah dahulu
Murji’ah pada masa dahulu dengan masa hari ini sungguh sangat berbeda. Kekeliruan Murji’ah pertama, terutama Murji’ah Fuqaha adalah dalam masalah nama, dan mereka tidak membangun di atasnya sikap tafrith dalam amalan, bahkan penyelisihan mereka terhadap Ahlus Sunnah adalah dalam perihal istilah-istilah dan nama-nama, yaitu definisi saja, serta tidak berbeda dalam Aslul imaan [pokok-pokok keimanan] dan tidak dibangun atasnya dengan meninggalkan rukun-rukun (Islam) atau amalan, atau dukungan untuk kaum murtaddin dan kuffar, dan mereka tidak membolehkan dengan paham Irjanya memberikan perwalian kepada orang-orang kafir dan menolong mereka…!!!

Sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam (Kitabul Iman hal 339) : “Oleh sebab itu masuk dalam Irja Fuqaha sejumlah orang yang mereka itu di kalangan para imam ahli ilmu dan dien, oleh sebab itu tidak ada seorang salaf pun mengkafirkan seorang dari Murji’ah Fuqaha, bahkan mereka menjadikan hal ini bagian dari bid’ah ucapan dan perbuatan bukan bagian dari bid’ah keyakinan, karena banyak dari perselisihan itu bersifat lafazh, akan tetapi lafazh yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah-lah yang benar, tidak seorang pun punya hak berkata dengan perkataan yang menyelisihi perkataan Allah dan Rasul-Nya, terutama sesungguhnya hal itu telah menjadi pintu masuk pada bid’ah ahli kalam dari kalangan Ahli Irja dan yang lainnya serta (jalan) pada munculnya kebejatan, sehingga kesalahan yang sedikit dalam lafazh itu telah menjadi sebab bagi kesalahan yang besar dalam keyakinan dan amalan. Oleh sebab itu sangat dahsyat ucapan (ulama) tentang mencela Irja, sampai Ibrahim An Nakh’iy berkata: “Sungguh fitnah mereka ~yaitu Murji’ah~ lebih ditakutkan terhadap umat ini daripada fitnah Azariqah”142

Dan orang yang mengamati pada keadaan-keadaan Murji’ah terdahulu, dia akan yakin dari kebenaran ucapan Syaikhul Islam ini, karena (‘aqidah) mereka memisahkan amal dari iman hanyalah dalam definisi saja.
Di mana orang yang menelusuri biografi-biografi mereka akan kaget saat ia melihat bahwa di antara para pembesar tokoh Murji’ah dan para du’atnya itu ada orang yang masyhur dengan ibadah, zuhud dan amal, bahkan pengingkaran yang munkar serta yang lainnya.

Inilah dia Muhammad Ibnu Karram As Sijistaniy yang mana Murji’ah Karramiyyah disandarkan kepadanya dan ia yang mengatakan iman itu adalah ucapan tanpa amalan. Ahli sejarah mensifatinya dengan ucapan mereka: Abu Abdillah Al ‘Abid137

Ini Salim Ibnu Salim Abu Babr Al Bakhiy, Ibnu Katsir berkata tentangnya: “Ia adalah penyeru kepada paham Irja… akan tetapi ia itu adalah tokoh dalam amar ma’ruf nahi munkar, ia adalah ahli ibadah lagi zuhud, pernah selama 40 tahun tidak pernah memakai hamparan, dan ia shaum hari-harinya kecuali 2 hari raya138. Ia datang ke Baghdad terus ia mengingkari Ar Rasyid dan ia mengecamnya, sehingga ia ditahan dan dibelenggu dengan 12 belenggu, kemudian Abu Mu’awiyyah terus memberinya syafa’at sampai akhirnya mereka menjadikannya pada 4 belenggu…”139

Murji’ah Hari ini
Murji’ah hari ini telah jauh berbeda dibandingkan murji’ah fuqoha pada masa dahulu. Jika murji’ah pada masa dahulu berbeda dengan ahlussunnah dalam masalah istilah saja, sedangkan dalam amalan tunduk terhadap dalil al qur’an dan sunnah, dan melarang untuk memberikan perwalian pada orang-orang murtad dan kafir serta menolong mereka dengan memberikan fatwa-fatwa yang mendukung perbuatan mereka; maka murji’ah hari ini telah menutup-nutupi kekafiran para thaghut dan menganggap enteng kekafiran dan kemusyrikan mereka serta menyetarakan pembuatan hukum dan kekafiran yang nyata yang mereka lakukan dengan kezhaliman para khalifah di zaman-zaman penaklukan, supaya setelah itu mereka menjadikannya kufrun duna kufrin. Bersamaan dengan itu mereka menabuh genderang perang terhadap para muwahhidin dari kalangan mujahidin dan menuduhnya dengan cap-cap yang paling busuk, yaitu Khawarij dan Takfiriyyin, bukan karena alasan apa-apa, kecuali karena mereka mengkafirkan para thaghut itu dan karena mereka mengajak untuk bara’ah (berlepas diri) dari mereka, menjauhi mereka dan menentangnya.

Oleh sebab itu semuanya kita bedakan orang-orang Murji’ah akhir-akhir ini dari Murji’ah terdahulu dan kita memberi batasan sifat mereka dengan nama (Murji-atul ‘Ashri/Neo Murji’ah) sebagai ciri khusus bagi mereka, agar kita tidak menzhalimi Murji’ah terdahulu dengan menisbatkan orang-orang itu kepada mereka, atau karena khawatir kita membuat image penyamaan orang itu dengan mereka.

Al-Imam Ibrahim An-Nakha’i rahimahullahu mengatakan: “Sungguh, fitnah Murji`ah ini lebih aku khawatirkan terhadap umat daripada fitnah Azariqah (Khawarij).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, 3/1061). Ucapan ini tentu bukan asal-asalan, tetapi merupakan ucapan yang benar. Sikap ghuluw (ekstrem) dan penyimpangan yang terjadi pada kaum khawarij dilatarbelakangi oleh sikap marah mereka saat larangan-larangan Allah Ta’ala dilanggar, sebagaimana pengakuan mereka. Adapun murjiah, mahdzab mereka telah membuka pintu bagi terjadinya pelanggaran terhadap batasan-batasan syara’, ketidaktaatan terhadap ketentuan-ketentuan Islam, serta membuka pintu kemurtadan dalam rangka mempermudah orang orang kafir dan melebarkan jalan bagi kaum zindiq.

Beberapa pemikirannya
Murji’ah kontemporer melihat bahwa tidak ada kekafiran, kecuali kekafiran hati, juhud (ingkar) atau Istihlal (penghalalan). Jika terpenuhi syarat-syarat itu, menurut mereka, barulah tindakan itu menyebabkan kekafiran. Ketentuan yang sama berlaku untuk masalah penghinaan terhadap Allah Ta’ala, sujud kepada berhala, atau tasyri’ [membuat hukum atau perundang-undangan] di samping syari’at Allah Ta’ala atau memperolok-olok agama Allah Ta’ala. Semua tindakan itu bukanlah kekafiran dengan sendirinya, namun ia adalah tanda yang menunjukan bahwa pelakunya meyakini kekafiran. Jadi kekafiran itu adalah keyakinan, pengingkaran atau istihlal (penghalalan).

Dengan pandangan itu mereka telah membuka pintu keburukan lebar-lebar nya. Pintu keburukan itu akan dimasuki oleh kaum atheis, zindiq dan orang-orang yang suka mencela agama Allah tanpa merasa bersalah. Kaum murjiah kontemporer tersebut tunduk ke hadapan para thoghut dan membela mereka dengan suybhat-syubhat yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak para thogut, bahkan mereka belum pernah mendengar syubhat seperti itu. Para thaghut itu tidak akan mendapatkan tentara yang tulus membela mereka dan mejadi benteng kebatilan mereka seperti kaum murjiah kontemporer itu. Oleh sebab itu, sebagian salaf berkata tentang irja’ “Murji’ah itu adalah dien yang menyenangkan para raja”.

Sebagai penutup tulisan kecil ini, Alangkah indahnya jika kita merenungkan apa yang diutarakan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 10/276 dari Ibnu ‘Asakir dari jalan An Nadlr Ibnu Syumail:
Ia berkata: “Saya masuk kepada Al Ma’mun…
Maka ia berkata: “Apa kabar wahai Nadlr?”
Maka saya berkata: “Baik-baik wahai Amirul Mu’minin”.
Ia berkata: “Apa itu Irja?”
Maka saya berkata: “(Ia) dien yang selaras dengan (keinginan) para raja, mereka mendapatkan dengannya bagian dari dunia mereka, dan mereka mengurangi dengannya dari dien mereka?”
Ia berkata: “Engkau benar”.
Semoga kita dan ummat islam dilindungi Allah Ta’ala dari berbagai pemikiran ini, dan meng istiqomahkan kita dan para pejuang islam dalam menempuh jalan yang benar ini hingga akhir hayat. Amiin. [Amru]

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s