TERKENAL DI LANGIT TAPI TIDAK DIKENAL DI BUMI


TERKENAL DI LANGIT TAPI TIDAK DIKENAL DI BUMI
(Sekilas tentang Thabi’in Uwais Qarni)

Mengikuti jejak salafus shaalih bukanlah hanya pada masalah-masalah yang dhahiriyah yaitu hal-2 yang mudah terlihat oleh mata manusia (cara berpakaian, cara makan dll) tapi juga masalah-masalah ruhiyyah yaitu yang tidak mudah terlihat mata manusia (istiqomah, tawakal dll). Para ulama pendahulu kita sangat memperhatikan masalah-2 itu dan bahkan mereka berusaha menyembunyikan amalan-2 mereka dari mata manusia. Cuplikan kisah dari thabi’in uwais al qarni dibawah ini semoga bisa menuntun kita belajar untuk membiasakan diri “tidak terkenal” di mata manusia dengan amal shaalih kita, dan juga membiasakan diri untuk tidak menjadikan “keterkenalan” sebagai satu-satunya tolok ukur kita dalam memahami kebenaran.

”Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit namun kalian tidak dikenal para penghuni bumi.” [Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Ibrahim bin Isa, Shifatush-Shafwah, 1/415]

Imam al Hasan al Bashri berkata, “Adakalanya seseorang sudah hafal Al Quran, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang-orang tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya…” [Al Akhfiya’ al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa’id Bahakam].

Al Fudhoil Bin ‘Iyyadh berkata,:
“Semoga Allah merahmati seseorang yang tidak ingin dirinya tenar.” [Ta’thirul Anfas, 280]

TAHUKAH KITA SIAPA DAN BGMN SIFAT TABI’IN TERBAIK ITU?

Beliau Uwais Al Qarni, memiliki nama kuniyah Abu ‘Amr, nama beliau Uwais bin ‘Amir bin Juz’in bin Malik Al Qarni Al Muradi Al Yamani. Beliau termasuk tabi’in senior, wali yang shalih, hidup pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi beliau masuk Islam, namun belum pernah berjumpa dengan Nabi. Beliau terhalangi dari melakukan perjalanan ke Madinah, karena baktinya kepada ibu beliau (Hilyatul ‘Auliya 2/87), sehingga beliau tidak dikategorikan sebagai shahabat (karena tidak bertemu dengan Nabi), namun tabi’in. Beliau lahir dan besar di Yaman. Adz Dzahabi berkata mengenai beliau, “Seorang teladan yang zuhud, penghulu para tabi’in di zamannya, termasuk diantara wali-wali Allah yang shalih lagi bertaqwa, dan hamba-hambanya yang ikhlas” (Siyar A’lam An Nubala’ 4/19)

Dlm sebuah hadits yg panjang(dri Abu Hurairah) rasulullah berkata pd Umar dan Ali :”Wahai ‘Umar! Wahai ‘Ali, apabila kalian berdua telah berjumpa dengannya maka mohonlah kalian berdua kepadanya supaya dia memohon istighfaar (kepada Allaah swt) untuk kalian berdua, nescaya Allah akan mengampun kalian berdua (menerusi istighfarnya itu). “…siapa org yg rasulullah menyuruh mencari ini?

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[1] dari Umar bin Al-Khotthob ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ ((Sebaik-baik tabi’in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan ia memiliki seorang ibu… dst)). Berkata An-Nawawi, “Ini jelas menunjukan bahwa Uwais adalah tabi’in terbaik, mungkin saja dikatakan “Imam Ahmad dan para imam yang lainnya mengatakan bahwa Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik”, maka jawabannya, maksud mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik dalam sisi ilmu syari’at seperti tafsir , hadits, fiqih, dan yang semisalnya dan bukan pada keafdlolan di sisi Allah”[Al-Minhaj (XVI/95)2]
Uwais Al Qarni tidak dikategorikan sebagai sahabat, malah beliau tidak pernah pun berjumpa dengan Rasulullah SAW walaupun beliau hidup di zaman Rasulullah. Tapi beliau telah di iktiraf oleh Rasulullah SAW sendiri sebagai penghuni langit. Pada masa hayatnya tidak seorang pun yang mempedulikan dan menghraukan nya, malah ada yang menganggap nya tidak siuman, berpakaian buruk dan tidak terurus. malah kehadiran nya tidak pernah dirasakan, ada macam tak ada.

BAGAIMANA KEADAAN UWAIS AL QARNI DIMATA KAUMNYA?

Pada tahun depannya datang seseorang dari pemuka mereka[pemuka kabilah arab] dan ia bertemu dengan Umar, lalu Umar bertanya kepadanya tentang kabar Uwais, orang itu berkata, “Aku meninggalkannya dalam keadaan miskin dan sedikit harta” ((Dalam riwayat Ibnul Mubarok[Musnad Ibnul Mubarok (I/19)] : orang itu berkata “Ia adalah orang yang jadi bahan ejekan di kalangan kami, ia dipanggil Uwais”)).

Keadaan beliau yang menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. An-Nawawi berkata, “Hal ini (yaitu keadaan Uwais yang menjadi bahan olokan kaumnya) menunjukan bahwasanya beliau menyembunyikan ibadahnya (hubungan antara ia dan Robnya), dan ia sama sekali tidak menampakkannya walau sedikitpun. Ini merupakan jalan orang-orang yang mengenal Robb mereka dan para wali Allah[Al-Minhaj XVI/94]

Tatkala Umar berkata kepadanya, “Maukah aku tuliskan sesuatu kepada pegawaiku di Kufah untuk kepentinganmu?”, makapun ia berkata, “Aku berada diantara orang-orang yang lemah lebih aku sukai”.

APA PESAN THABI’IN TERBAIK INI TENTANG AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR?

Dan telah dinukil dari penghulu para ahli ibadah setelah shahabat (Uwais Al Qarni) bahwa beliau berkata: (“Sesungguhnya al amru bil ma’ruf dan an nahyu ‘anil munkar, keduanya tidak meninggalkan bagi orang mu’min seorang temanpun, kita memerintahkan mereka dengan al ma’ruf, maka mereka malah mencerca kehormatan kita, dan mereka mendapatkan atas itu kawan-kawan pendukung dari orang-orang fasiq, sampai -demi Allah- mereka itu telah menuduh saya dengan tuduhan-tuduhan besar, dan demi Allah saya tidak meninggalkan untuk berdiri di tengah mereka dengan haqnya”). Al I’tisham1/31-33 secara ikhtishar.

BAGAIMANA MENINGGALNYA UWAIS AL QARNI?

Masa pemerintahan Umar terkenal dengan pembukaan wilayah-wilayah Islam. Peperangan paling sengit adalah peperangan kaum muslimin di Azerbaijan. Wilayah ini berhasil di taklukan, sehingga berkibarlah panji-panji Islam. Berikut ini adalaj Abdullah bin Salamah, seorang pahlawan perang di Azerbaijan, tentang Uwais al-Qarni:

“Kami berperang di Azerbaijan pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Dalam pasukan kami terdapat Uwais al-Qarni. Ketika kami pulang dari peperangan, kami melihat sakit menjangkitinya. Kami membawanya dan merawatnya semampu kami. Namun ia tidak tertolong hingga meninggal dunia. Lalu kami berhenti. Tiba-tiba sudah ada kuburan yang tergali. Ada air yang tertampung, juga kain kafan dan wewangian. Kami memandikannya dan mengkafaninya. Lalu kami menshalati dan menguburkannya.

Salah seorang dari kami berkata, “Seandainya kita kembali untuk mengetahui letak kuburannya.”Lalu kami kembali ke tempat yang dimaksud. Ternyata kami tidak menemukan kuburan dan juga bekas jejaknya.

Semoga Allah merahmati tokoh zuhud ini. Ia telah menghindarkan diri dari dunia.

Sumber:
HR. Muslim dalam shahihnya kitab Fadhail ash-Shahabah No.2542 dan Imam Ahmad dalam al-Musnad,I/38
Siyar A’lam an-Nubala:Imam Adz-Dzahabi, IV/19,22-23,30
Hilyah al-Auliyah’ wa Thabaqath al-ashfiya’:Abu Nu’aim,II/83-85,87
Ath-Thabaqat:Inu Sa’ad,VI/60
101 Kisah Tabi’in

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s