UJIAN, PENYARINGAN SERTA KEMENANGAN ADALAH SUNNATULLAH DALAM PERJUANGAN


UJIAN, PENYARINGAN SERTA KEMENANGAN ADALAH SUNNATULLAH DALAM PERJUANGAN

Perjuangan tidak mungkin tanpa ujian. Bahkan tidak mungkin kemenangan dicapai oleh setiap mukmin kecuali ia telah lalui masa-masa yang berat. Para nabi-nabi pendahulu kita telah merasakan ujian-ujian berat tersebut. Sehingga Allah berikan kemenangan pada mereka dengan tersebarnya islam di seluruh penjuru dunia.
Diantara ujian yang Allah berikan kepada para penegak kebenaran adalah dengan adanya orang-orang kafir yang tidak senang islam tegak. Bahkan mereka berusaha mengahalangi para penegak kebenaran ini dengan siksaan dan pembunuhan. Allah Ta’ala berfriman :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاء نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?. [ QS. Al Ankabut : 10 ].

Syaikh Muhammad Amin As Sinqidhi rahimahullah berkata ketika menafsiri ayat ini : Yaitu bahwa ada sebagian manusia yang mengatakan : kami telah beriman dengan lesannya, jika mereka diuji Allah yaitu dengan disiksa oleh orang-orang kafir menjadikan ujian tersebut berpalingnya ia dari diin menuju kemurtadan. Dan kita berlindung pada Allah dari hal tersebut. Sedangkan makna fitnah manusia adalah siksaan yang dideritanya dari orang-orang kafir. Dan siksaan orang kafir terhadap orang-orang yang beriman adalah bentuk ujian yang itu adalah fitnah. [ Adwa’ul bayan : 6/462 ].

Allah Ta’ala berkehendak untuk membersihkan shof kaum muslimin dari orang-orang munafiq. Sehingga tersisalah inti dari ummat ini yang siap mengemban amanah berat yang tidak sanggup mengusungnya kecuali orang-orang pilihan. Ummat pilihan inilah yang nantinya Allah persiapkan menjadi penerus para nabi hingga mendapatkan kemenangan sebagaimana pendahulu mereka mendapat kemenangan.

Syaikh Muhammad Qutub memberikan sebuah permisalan yang sangat indah : Apakah engkau tidak melihat bagaimana seorang komandan menyiapkan tentaranya agar mendapat kemenangan dalam sebuah peperangan yang dasyat ?. apakah karena cintanya komandan tersebut terhadap tentaranya akan meringankan latihan dan meremehkannya ?. Atau karena sayangnya komandan tersebut terhadap tentaranya ia perberat latihan sesuai dengan medan pertempuran yang akan dihadapi tetntaranya ?.

Orang mukmin adalah kelompoknya Allah dan tentara-Nya – dan Allah adalah pemberi misal yang paling baik – dan peperangan yang Allah telah persiapkan untuk mereka adalah peperangan yang besar. Yaitu peperangan antara yang haq dengan yang batil. Yang Allah Ta’ala akan menolong kebenaran lewat tangan-tangan tentara-Nya sebatas yang dikehendaki Allah Ta’ala. [ haula tafsirul al Islami lit tarikh : 111 ].

Adanya ujian pasti ada penyaringan
Seorang mukmin ketika mendapat ujian akan menjadi lebih kuat. Ia akan matang sebagaimana matangnya makanan setelah dimasak. Sedangkan orang munafiq tidak akan kuat dalam mengahadapi ujian ini. Maka akan terlihat bagaimana komitment dia, dan akan terlihat auratnya serta akan berbalik kebelakang meninggalkan perjuangan ini.

Demikianlah Allah Ta’ala menjadikan ujian ini sebagai penyaringan dan sebagai sarana mengungkap hakekat keimanan diantara shof-shof kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman :

مَّا كَانَ اللّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىَ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). [ Ali Imran : 179 ].

وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati. [ Ali Imran : 154 ].

Setelah penyaringan datang kemenangan
Allah akan memberikan kemenangan kepada orang-rang yang beriman setelah tembok-tembok keimanan mereka kokoh. Ketika mereka telah bersih dari orang-orang munafik. Ketika mereka telah lulus menghadapi ujian-ujian yang berat. Ketika mereka telah yaqin bahwa pertolongan Allah telah dekat. Semuanya itu tentunya setelah mereka mengambil berbagai sebab-sebab kemenangan yang diperintahkan islam berupa sabar, taqwa dan I’dad.

Para ahlul ‘ilmi telah memahami hakekat ini. Sehingga ketika imam as Syafi’I rahimahullah ditanya : Manakah yang lebih afdhol seseorang diberi kemenangan atau diuji ?. Beliau menjawab : Tidaklah seseorang diberi kemenangan kecuali setelah diuji. [ Ibnul Qoyyim, Al Fawa’id : 227 ].
Maka sesungguhnya tidak ada kemenangan tanpa adanya penyaringan. Dan tidak ada penyaringan tanpa adanya berbagai ujian-ujian berat. Setiap seseorang lulus pada satu tahapan, ia akan mengahadapi tahapan berikutnya hingga Allah Ta’ala berikan kemenangan.

Jika kita mendapatkan orang-orang kafir hari ini jaya di muka bumi, kuat dari segi perpolitikan, ketentaraan serta mendapatkan berbagai perbendaharaan bumi. Ketahuilah bahwa itu adalah istidhroj dari Allah. Mereka sedang dibombong Allah Ta’ala. Dan diantara sunnah Allah terhadap orang-orang kafir, jika mereka mendapat berbagai kejayaan dan kenikmatan di dunia itu hanyalah istidroj dari Allah Ta’ala.

وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, Kemudian Aku azab mereka, dan Hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). [ Al Haj 48 ].
Kami berpesan pula bagi para ihwah, janganlah tertipu dengan kenikmatan yang sedang kita jalani. Tertipu dengan aktifitas pekerjaan rutin yang kita lakukan. Ingatlah bahwa kenikmatan dan kemapanan itu kadangkala melupakan seseorang dari perjuangan. Demikianlah Allah Ta’ala mengingatkan dalam Al qur’an :

أَفَرَأَيْتَ إِن مَّتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ {205} ثُمَّ جَاءهُم مَّا كَانُوا يُوعَدُونَ {206}‏ مَا أَغْنَى عَنْهُم مَّا كَانُوا يُمَتَّعُونَ
Maka bagaimana pendapatmu jika kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka azab yang Telah diancamkan kepada mereka, Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. [ As Syu’aro’ : 205 – 207 ]

Kita berdo’a kepada Allah untuk mentsabatkan kita dijalan ini, dan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khotimah. Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang dengan kesabaran. Sedangkan kesabaran tidak akan didapatkan kecuali pada orang-orang yang imannya kuat. [ Amru ]

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s