Madzhab Fiqih Ahlus Sunnah


Berdirinya madzhab fiqih Ahlus Sunnah bertitik tolak pada permulaan Islam. Khususnya setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, yang mana para sahabat beliau, pengikut beliau serta kaum muslimin pada umumnya berijtihad dalam mengaplikasikan perkataan dan perbuatan beliau. Dan sesungguhnya termasuk ushul ( kaidah pokok) bagi Ahlus sunnah adalah mereka memperoleh aqidah, ibadah dan muamalah dari sumber syariat yang disepakati yaitu : Al-Quran, As-Sunnah (Al-Hadits), ijma, dan qiyas. Dan tidak ada perbedaan diantara para imam salaf dalam masalah aqidah akan tetapi mereka berbeda pendapat hanya dalam masalah hukum-hukum syariat, bisa jadi karena tidak adanya dalil yang sharih (tegas) dari Al-Quran dan As-Sunnah, atau karena haditsnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan landasan hukum, atau karena sebab yang lain.

Dan diiringi dengan tersebarnya Islam, dan perluasan wilayahnya serta banyak bermunculan perkara-perkara baru dalam dien dan syariat sehingga muncul kebutuhan mendesak untuk keluar dari permasalahan ini dengan cara ijtihad dalam perkara-perkara fiqih yang baru dan untuk memenuhi kebutuhan manusia serta menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sehingga berdirilah jamaah ahli fiqih (ulama) dalam dien untuk mengajar manusia dalam berbagai bentuk urusan dien maupun dunia mereka.

Sesungguhnya perluasan geografis islam dan beraneka ragamnya kondisi lingkungan yang mana Islam tersebar disitu, serta banyaknya nash-nash  syariat Islam yang bisa menerima ijtihad didalamnya sesuai dengan kondisi dan keadaan hal ini menyebabkan berdirinya madrasah-madrasah fiqih di berbagai daerah wilayah Islam, sehingga dari setiap ulama fiqih memiliki pengikut yang menyebarkan fatwa-fatwanya bahkan sampai menyusun kaidah-kaidah untuk mengeluarkan fatwa-fatwa baru.

Dan yang merupakan ulama dari kalangan sahabat yang tersebar di berbagai daerah wilayah Islam dan kemudian menyebarkan ilmu mereka : Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan selain mereka. Dan datang setelah mereka para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, mereka adalah : Abu Hanifah An-Nu’man, Malik bin Anas, Allaits bin Sa’d, Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, dan selain mereka, akan tetapi yang masyhur dari mereka adalah “Imam yang empat” karena banyaknya murid-murid mereka yang menyebarkan madzhab mereka dan perkataan mereka serta menjaga peninggalan-peninggalan mereka yang tertulis.

Konon empat madzhab fiqih Ahlus Sunnah yang tersebar dengan jangkauan yang luas dan tertulis di sebagian besar kitab-kitab Ahlus Sunnah yaitu :

Madzhab Hanafi, dinisbatkan pada Abu Hanifah An-Nu’man

Madzhab Maliki, dinisbatkan pada Malik bin Anas

Madzhab Syafi’i, dinisbatkan pada Asy-Syafi’i

Madzhab Hambali, dinisbatkan pada Ahmad bin Hambal

Dan Madzhab-madzhab ini hanya merupakan madrasah-madrasah fiqih, sepakat dalam perkara-perkara dasar, dan berbeda pendapat dalam perkara-perkara cabang. Dan tidak ada perbedaan diantara mereka dalam masalah aqidah, selain madzhab yang empat ini ada beberapa madzhab fiqih yang lain akan tetapi tidak tersebar dan terkenal seperti empat madzhab ini, dan diantaranya adalah :

Madzhab Azh-Zhahiri

Madzhab Al-Auzaa’i

 

sumber : ويكيبيديا، الموسوعة الحرة (wikipedia bahasa arab), alih bahasa : Abu Royyan

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s