Hakekat keimanan dan kekufuran menurut Ahlus sunnah


Menurut ijma’ (kesepakatan) Ahlus sunnah wal jama’ah bahwasanya iman itu terdiri dari dua hal pokok, yaitu : perkataan dan perbuatan. Dan kedua hal ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan tidak sah perkataan tanpa perbuatan.

Dan perkataan itu ada dua : perkataan dalam hati dan perkataan lisan. Dan amal itu ada dua : amalan hati dan amalan anggota tubuh.

Yang dimaksud dengan “perkataan” adalah pernyataan hati dan lisan berupa keyakinan, pembenaran, pengucapan syahadatain, dll.

Yang dimaksud dengan amalan hati, yaitu : ketundukan, penerimaan, ikhlas, jujur, cinta, yakin, takut, berharap.

Yang dimaksud dengan amalan anggota tubuh, yaitu : shalat, dzikir, doa, haji, umroh, ruku’, sujud, thawaf, dll.

Maka dari itu, iman adalah : keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan amal perbuatan merupakan bagian dari iman dan termasuk dalam “tiga tingkatan iman”. Ada amal perbuatan yang termasuk dasar/pokok dari keimanan (ashlul iman), dan iman bisa hilang dengan hilangnya amal perbuatan yang merupakan pokok atau dasar keimanan ini. Dan ada amal yang termasuk kewajiban dari iman, dan pelakunya berada dibawah kehendak Allah dan orang yang meninggalkan kewajiban ini tidak dianggap kafir. Dan ada amal perbuatan yang sifatnya mustahab( disukai), itulah tiga tingkatan dalam iman yang disebutkan dalam hadits Jibril alaihis salam, yaitu islam, iman ,dan ihsan. ( orang dzalim terhadap dirinya, orang yang tengah-tengah, orang yang berlomba dalam kebaikan) maka amal perbuatan termasuk dalam tiga tingkatan dalam dien.

Dan inilah makna perkataan Ahlus sunnah wal jama’ah bahwasannya iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, perkataan merupakan rukun iman dan perbuatan atau amal juga rukun iman, berbeda dengan pendapat khawarij dan murji’ah.

Sebagaimana iman itu terdiri dari keyakinan, perkataan, dan perbuatan begitu pula dengan kekufuran yang besar (kufur akbar) terdiri dari keyakinan, perkataan, perbuatan, keragu-raguan ,dan meninggalkan, serta tidak hanya berkutat pada keyakinan hati saja dan tidak terikat pada pengingkaran, penghalalan, ilmu, dan maksud atau niat saja, sebagaimana perkataan neo murji’ah .

Maka ahlus sunnah wal jama’ah assalafiyah asy-syar’iyyah pengikut salafus shalih menganggap kafir orang yang meninggalkan amal perbuatan anggota tubuh(amal jawarih) secara keseluruhan sedangkan dia memiliki kemampuan dan kekuasaan, serta tidak ada penghalang baginya yang menjadikan dia tidak mampu melaksanakan.

Dan ahlus sunnah menganggap kafir orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan dan tidak hanya terikat pada peninggalan amal karena pengingkaran saja. Maka meninggalkan amal adalah kekufuran dan pengingkaran juga merupakan kekufuran yang bertambah dan sangat kufur, hal ini sesuai dengan madzhab para shahabat.

Dan Ahlus sunnah menganggap kafir orang yang meninggalkan tauhid, meninggalkan ketundukan, meninggalkan kewajiban berhukum dengan hukum Allah dan pembuat syariat pengganti hukum islam.

Imam Bukhary berkata : “Aku telah bertemu dengan ribuan ahlul ilmi : ahlul Hijaz, Mekah, Madinah, Kuffah, Bashrah, wasith, Baghdad, Syam, Mesir, aku bertemu mereka masa demi masa. Kemudian beliau berkata : maka aku tidak melihat seorangpun diantara mereka yang menyelisihi dalam masalah ini (dien : perkataan dan perbuatan).

Sumber : “Alkufru bit taghut bainal ghuluw alkhawarij wa tafrith almurji’ah”. (syekh Abu Salman Abdullah bin Muhammad Al-ghulaifi rahimahullah ta’ala)

Silahkan tuliskan pertanyaan anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s